Scroll untuk baca artikel
Kolom

Sabar Iku Subur

Redaksi
×

Sabar Iku Subur

Sebarkan artikel ini
Sabar Iku Subur

“Sabar iku subur” Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, tapi menempa jiwa menuju kebebasan sejati.

Oleh: Imam. Trikarsohadi.

DALAM pergaulan sehari – hari, selama Ramadhan, baik di lingkungan keluarga, pertemanan, di lokasi kerja maupun pelbagai lingkungan sosial lainnya, entah itu berbentuk percakapan, respon yang serius maupun gurauan, acapkali kita mendengar kata – kata ; ” …sabar sedang puasa…..”

Apa boleh buat, itu lazim adanya, karena membangun kesabaran adalah salah satu watak yang mesti diperkuat selama Ramadhan dan untuk kehidupan selanjutnya.

Bahkan, sabar yang wajib di tumbuh kembangkan lewat puasa Ramadhan adalah menahan diri secara total fisik dan mental dari syahwat, emosi, dan hal makruh/haram, bukan sekadar lapar-haus.

Sebab itu, puasa Ramadhan disebut sebagai kawah candradimuka guna melatih kesabaran dalam ketaatan, menjauhi maksiat, dan menerima takdir, menjadikannya ibadah penyucian jiwa dan peningkatan taqwa.

Dengan demikian, sabar saat berpuasa adalah kekuatan utama menahan emosi negatif (amarah, fitnah, ghibah) . Ia juga merupakan latihan sejati untuk menundukkan jiwa dari belenggu duniawi menuju kebebasan sejati.

Sebab itu, filosofi sabar bukan sekadar diam atau pasif, melainkan sebuah kekuatan aktif untuk menahan diri dari keluh kesah, emosi, dan godaan demi mencapai tujuan yang lebih baik.

Sabar adalah bentuk keteguhan jiwa, wujud ketaatan dan tawakal, serta kunci manajemen diri saat menghadapi ujian, musibah, atau proses panjang.

Filosofi Jawa mengajarkan bahwa “sabar iku subur”, maknanya; hasil yang baik membutuhkan proses, waktu, dan ketekunan. Ibarat menanam, sabar adalah merawat tanaman hingga berbuah, bukan memaksa buah instan muncul.

Atau ibarat memilih pemimpin dan pejabat publik, maka sabar adalah memilih sesuai kaidah – kaidah yang telah digariskan agama, bukan sebab lain yang akhirnya memunculkan para pemimpin “mblegedes”.

Sabar sejati adalah tetap bergerak mencari solusi atau kebaikan saat menghadapi rintangan, bukan hanya berdiam diri.

Dalam perspektif spiritual, sabar diletakkan di akhir (misalnya dalam Asmaul Husna As-Shaabur) sebagai kunci terakhir yang mengunci keberhasilan dari seluruh perbuatan baik sebelumnya.

Ringkasnya, sabar adalah seni mengendalikan diri untuk tetap tegar dan tenang, mempercayai proses, serta yakin akan adanya hasil yang baik, seperti keyakinan kita akan datang nya adzan maghrib saat puasa Ramadhan. []