Birrun dan Saadah: Misteri haji tak selalu tunduk pada logika, karena jalan menuju Tanah Suci kerap dibukakan lewat amal saleh dan akhlak mulia.
Oleh: Imam Trikarsohadi
IBADAH haji punya misterinya sendiri yang tak selamanya bisa dikalkulasi dengan logika. Dan salah satu titik misteri di era sekarang ini adalah peluang yang terkait erat dengan panjangnya antrean versus kuota yang terbatas.
Tapi, jika Tuhan sudah berkehendak, tak ada yang tak mungkin, selalu ada cara yang memudahkan, segampang membalik telapak tangan.
Seperti diketahui, antrean keberangkatan haji di Indonesia merupakan salah satu masalah yang cukup kompleks dan memprihatinkan, dengan masa tunggu yang terus bertambah panjang setiap tahunnya.
Estimasi waktu per Tahun 2026, masa tunggu haji reguler di Indonesia berkisar antara 13 hingga hampir 40 tahun, bahkan di beberapa daerah bisa mencapai 47 tahun.
Sebab itu, Pemerintah mulai memberlakukan penyeragaman estimasi masa tunggu haji reguler secara nasional menjadi sekitar 26,4 tahun.
Ha itu belum soal tingginya BPIH (Biaya Perjalanan Ibadah Haji), fluktuasi kebugaran tiap calon jemaah, dan faktor-faktor lainnya yang secara logika bisa menghambat.
Tapi seperti saya bilang diawali tulisan, tak semuanya bisa ditakar dengan logika. Ibadah besar ini selalu menyimpan misterinya sendiri dari zaman ke zaman, dari sebuah keadaan ke situasi.
Tanpa harus melakukan tipu daya yang memajalkan kesempatan jemaah lain, seseorang bisa berhaji dengan tiba-tiba dan itu acapkali sangat berkaitan dengan amal perbuatan dan akhlak yang bersangkutan dalam kehidupan hari-hari, khususnya dalam bab ibadah.
Ini yang dialami senior, sekaligus sahabat saya. Pekan lalu, ia mengundang beberapa teman untuk makan siang bersama, dan itu terbilang rutin ia lakukan.
Di kesempatan itu, dengan nada datar-datar saja, ia mengungkapkan akan berhaji melalui jalur non regular, tapi dengan jalur yang intinya terdiri dari para jemaah gabungan antar negara.
Bagi saya, penjelasan tersebut, bukanlah prevelese dalam kerangka logika, tapi misteri yang bisa disandingkan dengan hal serupa dimasa lalu, meski dimensinya ala kekinian.
Cerita mengenai ibadah haji zaman dulu, khususnya dari Nusantara, sering kali diwarnai dengan kisah-kisah magis, karomah, dan perjuangan batin yang luar biasa.
Di masa lalu, perjalanan haji dilakukan dengan kapal layar tradisional. Banyak cerita beredar mengenai jemaah yang hilang di lautan namun tiba-tiba ditemukan sudah berada di Mekah.
Beberapa kisah tutur menyebutkan adanya jemaah yang “diangkat” atau “diperjalankan” secara gaib karena ketulusan niat mereka, terutama bagi mereka yang tidak memiliki biaya dan kekuatan fisik namun memiliki tekad yang kuat.
Kisah-kisah ini, terlepas dari unsur faktual atau mitosnya, menunjukkan bahwa amal saleh sehari -hari, kekuatan iman dan tekad yang dipupuk diam-diam merupakan jalan pembuka bagi pelbagai kebaikan ke tingkat yang lebih tinggi, termasuk berhaji.
Hikmahnya, berhaji adalah manifestasi dari implementas sifat sabar, Ikhlas dan syukur (SIS). Sabar menjadi pribadi yang saleh sebelum dan sesudah berhaji.
Ikhlas melakukan semuanya karena ibadah, dan menjadi wujud syukur atas nikmat kesehatan, fisik, dan finansial yang diberikan Allah.
Sebab itu, pertanda ibadah haji yang diterima Allah SWT, antara lain berupa perubahan perilaku nyata menjadi lebih baik (menjadi pribadi taat, penyabar, dan dermawan) setelah pulang dari tanah suci, bukan hanya sekadar sah secara hukum fikih.
Haji mabrur mencerminkan kebaikan diri yang konsisten (birrun) dan membawa kebahagiaan sejati (saadah). []









