BARISAN.CO – Peringatan Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren Cirebon Tahun 2026 menjadi momentum untuk meneguhkan kembali peran ulama dan pesantren dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, Sabtu (1/8/2026) malam.
Dalam pengajian umum yang dihadiri ribuan santri, alumni, tokoh Nahdlatul Ulama (NU), serta masyarakat dari berbagai daerah, Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Ubaidullah Shodaqoh, menegaskan bahwa ulama merupakan pewaris para nabi (warasatul anbiya) yang memikul tanggung jawab menjaga agama, umat, sekaligus keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
KH Ubaidullah Shodaqoh menjelaskan bahwa peran ulama tidak terbatas pada pembinaan ibadah dan kehidupan keagamaan, tetapi juga mencakup kepemimpinan sosial dan kemaslahatan masyarakat.
Mengutip pandangan Imam Haramain Syekh Abul Ma’ali, ia menyampaikan bahwa ketika kepemimpinan formal mengalami kebuntuan, tanggung jawab membimbing umat secara alamiah kembali berada di tangan para ulama.
Menurutnya, para ulama bertanggung jawab memastikan tegaknya nilai-nilai syariat sekaligus menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.
Perjuangan Pesantren Buntet dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia
Dalam tausyiahnya, KH Ubaidullah Shodaqoh mengulas sejarah panjang Pondok Buntet Pesantren yang didirikan oleh Romo KH Muqoyyim.
Sebagai keturunan bangsawan Kesultanan Cirebon, Mbah Muqoyyim memilih meninggalkan lingkungan keraton ketika pemerintahan kolonial Belanda mulai mengintervensi syariat Islam dan tata pemerintahan lokal.
Dari keputusan tersebut lahirlah Pondok Buntet Pesantren yang kemudian berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam sekaligus basis perjuangan melawan penjajah.
Perjuangan Mbah Muqoyyim, lanjutnya, dipenuhi berbagai pengorbanan. Pesantren Buntet pernah dibakar pasukan kolonial sehingga para santri dan pengasuh harus mengungsi hingga ke wilayah Pemalang demi mempertahankan keberlangsungan pendidikan.
Saat Cirebon dilanda pagebluk yang menewaskan ribuan penduduk, Mbah Muqoyyim kembali ke daerah asalnya untuk memimpin doa dan ikhtiar spiritual bersama para santri.
Dalam kesempatan itu, ia mengajukan syarat kepada pemerintah setempat agar pesantren diizinkan berdiri kembali serta setiap desa memiliki masjid sebagai pusat pembinaan umat.
“Perjuangan bangsa ini diawali dari pondok-pondok pesantren. Sebelum ada tentara atau polisi, para kiai dan santrilah yang berada di barisan terdepan mengusir penjajah,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon, Bugen Kota Semarang ini.
Ia juga menyoroti kontribusi besar pesantren dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.
Menurutnya, ketika Belanda dan Sekutu berupaya kembali menguasai Indonesia, Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari bersama para ulama mengeluarkan Resolusi Jihad yang menjadi pemantik perjuangan rakyat mempertahankan kemerdekaan.
Dalam konteks tersebut, tokoh Buntet Pesantren, Mbah Kiai Abbas, dipercaya para ulama menjadi panglima dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
KH Ubaidullah Shodaqoh menegaskan bahwa perjuangan para kiai dan santri menjadi bukti nyata bahwa kemerdekaan Indonesia dipertahankan dengan pengorbanan jiwa dan raga, sehingga memperoleh pengakuan sebagai negara yang berdaulat.
“Andaikata tidak ada peperangan 10 November yang dipicu oleh seruan Resolusi Jihad para kiai, proklamasi 17 Agustus mungkin hanya dianggap sebagai klaim sepihak di mata dunia internasional. Darah para kiai dan santri membuktikan bahwa Republik Indonesia benar-benar merdeka dan berdaulat,” katanya.
Menutup tausyiahnya, KH Ubaidullah Shodaqoh mengajak para santri untuk tidak merasa rendah diri dalam menghadapi perkembangan zaman.
Menurutnya, tradisi keilmuan pesantren seperti ushul fikih, qawa’id fiqhiyyah, dan kajian kitab kuning memiliki metodologi yang kuat serta telah menjadi fondasi kehidupan hukum dan sosial masyarakat Nusantara jauh sebelum hadirnya sistem hukum Barat.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga dan memperkuat Jam’iyah Nahdlatul Ulama sebagai wadah merawat warisan perjuangan para masyaikh sekaligus mengabdi kepada agama, bangsa, dan negara.
Peringatan Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren Cirebon Tahun 2026 berlangsung khidmat dengan dihadiri Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, jajaran Pengurus Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren, para kiai sepuh, tokoh NU, serta ribuan jamaah dari berbagai daerah di Indonesia. []









