Scroll untuk baca artikel
Lingkungan

Ahli Hidrologi Unsoed: Ada Potensi Perang Perebutan Air

Redaksi
×

Ahli Hidrologi Unsoed: Ada Potensi Perang Perebutan Air

Sebarkan artikel ini

Konflik air akan semakin meningkat karena penduduk yang terus bertumbuh sementara sumber daya airnya tetap.Yanto Ph.D.

BARISAN.CO – Tahun 2003, aktivis dan pakar masalah air, Tony Clarke dan Maude Barlow menyebut, dunia mengalami kehabisan air. Itu disampaikan dalam artikel berjudul ‘Water Wars’ yang diterbitkan Polaris Institute. Mereka menyampaikan, tahun 2025, populasi dunia meningkat menjadi 2,6 miliar lebih dibandingkan saat itu dan kebutuhan air akan melebihi ketersediaan sebesar 56 persen.

Orang-orang yang tinggal di daerah langka air tidak dapat menghindari perang perebutan sumber daya.

Kini, diperkirakan lebih dari separuh sungai di dunia berhenti mengalir setidaknya selama satu hari per tahun. Akan ada lebih banyak sungai yang diperkirakan akan mengering jika perubahan iklim dan masalah pengelolaan air tidak ditangani.

Laporan Asia Society Leadership bahkan telah memperingatkan, menurunnya akses ke pasokan air di masa depan akan berdampak pada ketegangan geopolitik.

Menanggapi hal itu, ahli hidrologi Universitas Jenderal Soedirman, Yanto Ph.D., menyebut, potensi perang perebutan air di masa depan itu memang ada.

“Secara umum konflik air akan semakin meningkat karena penduduk yang terus bertumbuh sementara sumber daya airnya tetap, mengakibatkan ketersediaan air per kapita penduduk dunia akan menurun. Kondisi ini dapat diperparah dengan distribusi ketersediaan air per kapita yang tidak merata,” kata Yanto kepada Barisan.co pada Rabu (22/6/2022).

Menurutnya, penduduk dengan akses air bersih yang rendah di saat ini akan semakin kesulitan mendapatkan akses air bersih di masa mendatang karena berbagai faktor, seperti ekonomi, sosial dan teknologi.

“Belajar dari keterlibatan distribusi gas dari Rusia ke Eropa dalam perang antara Rusia dan Ukraina sangat dimungkinkan air akan menjadi komoditas yang diperdagangkan dalam konteks konflik geopolitik. Hal ini karena banyak sungai besar yang melintasi beberapa negara. Konflik terkait bendungan Sungai Nil antara Ethiopia, Mesir dan Sudan bisa menjadi refleksi,” tambah Yanto.

Ethiopia membuat keputusan untuk membangun Grand Ethiopia Renaissance Dam (Gerd), mega proyek sungai Nil Biru yang membentang dari Danau Tana di Ethiopia hingga mengalir ke Mesir. Proyek bendungan itu akan memengaruhi ketinggian air di hilir.

Melansir Al Monitor, belum lama ini, Mesir dan Sudan sudah mengadakan pembicaraan militer tingkat tinggi di tengah meningkatnya ketegangan dengan Ethiopia terkait Gerd. Selama bertahun-tahun Mesir dan Sudan gagal membujuk Ethiopia untuk menyetujui perjanjian hukum yang mengatur proses pengisian dan pengoperasian bendungan di tahun-tahun di mana curah hujan lebih sedikit.

Namun demikian, dia mengatakan, Indonesia sangat diuntungkan dengan kondisi geografis dengan banyak pulau dan dikelilingi oleh lautan.

“Sumber daya air kita melimpah. Ketergantungan pasokan air kita terhadap wilayah negara lain relatif kecil. Dari sisi suplai, Indonesia tidak mengalami masalah dengan pasokan air,” ujarnya.

Sayangnya, meski pasokan melimpah, Indonesia justru menghadapi masalah lain.

“Masalah besar Indonesia adalah pada tata kelola airnya. Suplai yang besar tersebut belum dimanfaatkan menjadi pasokan air yang aman dan stabil,” ungkap pria asal Blora ini.

Yanto menyebut, program pemerintah membangun 61 bendungan besar hingga 2024 patut diapresiasi sebagai upaya mitigatif mencegah terjadinya krisis air.

“Program ini perlu ditindaklanjuti oleh pemerintah untuk memastikan ketersediaan air per kapita penduduk meningkat sampai level aman,” tuturnya.

Dia memaparkan, terdapat dua hal yang mesti diperhatikan dalam menghadapi situasi kekeringan dan krisis air kedepannya.