Scroll untuk baca artikel
Blog

Mimbar Virtual: Penurunan Muka Tanah Jakarta, Pindah Ibu Kota Bisakah Jadi Solusi?

Redaksi
×

Mimbar Virtual: Penurunan Muka Tanah Jakarta, Pindah Ibu Kota Bisakah Jadi Solusi?

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Sebagian besar populasi global terpapar potensi penurunan muka tanah tinggal di Asia (86%), yaitu sekitar 10 kali gabungan populasi Amerika Utara dan Eropa (9%), menurut penelitian yang dipublikasi oleh ScienceMag.org pada tahun 2021.

Diperkirakan area penurunan permukaan tanah potensial hanya meningkat sebesar 7% secara global, namun populasi yang terancam diperkirakan akan meningkat sebesar 30%. Ini akan memengaruhi 1,6 miliar penduduk, 635 juta di antaranya akan tinggal di daerah rawan banjir. Penelitian berjudul “Mapping the global threat of land subsidence” itu menemukan, antara tahun 2010 dan 2040, prediksi populasi yang terpapar potensi penurunan muka tanah meningkat lebih dari 80% di Filipina, Irak, Indonesia, Meksiko, Israel, Belanda, Aljazair, dan Bangladesh.

Selanjutnya, disebutkan, tanpa investasi mitigasi yang signifikasn, risiko banjir tambahan akan mencapai US$635 miliar/tahun pada 2050 di kota-kota pesisir di seluruh dunia.

Di Indonesia, sedikitnya terdapat 21 provinsi dan 132 kabupaten/kota yang terindikasi mengalami penurunan tanah, bahkan untuk beberapa lokasi di Pantai Utara Jawa dan Pantai Sumatera Timur, tercatat mengalami penurunan tanah dan terkena dampaknya, yaitu banjir rob.

Perhitungan kasar kerugian yang diukur hanya dari biaya adaptasi untuk perbaikan jalan, jembatan dan pemukiman di pesisir utara Jawa menunjukkan bahwa potensi kerugian akibat penurunan muka tanah setiap tahunnya adalah Rp619 Triliun. Sedangkan untuk potensi kerugian bangunan tempat tinggal di kawasan gambut yang surut mencapai sekitar Rp158 triliun, angka tersebut belum termasuk parameter kerugian ekonomi lainnya.

Sedangkan, laju rata-rata penurunan muka tanah di dataran rendah pesisir Indonesia bervariasi antara 1-20 cm/tahun. Pusat Penelitian Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan, dari hasil kajiannya melalui data Synthetic Aperture Radar pada Juni 2022, penurunan muka tanah di wilayah Jakarta tercatat antara 0,1–8,0 sentimeter per tahun.

Penurunan muka tanah terjadi akibat pembangunan gedung pemberat dan pengambilan air tanah secara intensif untuk air minum masyarakat melalui sumur air tanah. Banyak pengambilan air tanah untuk air minum telah menyebabkan gerusan batuan tanah yang intensif dan selanjutnya memicu penurunan muka tanah yang berkembang luas di wilayah pesisir Jakarta.

Pengukuran penurunan muka tanah telah dilakukan oleh berbagai ahli dan lembaga. Antara tahun 1974 hingga 2010 telah terjadi penurunan muka tanah antara 3 hingga 4,1 meter khususnya di kawasan pesisir Jakarta. Dua penyebab utama amblesan teridentifikasi. Penyebab utama pertama adalah akibat berdirinya bangunan berat seperti hotel, apartemen, dan berbagai bangunan aktivitas manusia. Penyebab utama yang kedua adalah pengambilan air tanah dari akuifer di bawah tanah Jakarta karena sumur air yang dalam sampai ke akuifer dan sumur air dangkal tradisional dari air tanah dangkal atau bawah permukaan yang tidak tertutup.

Bangunan yang lebih berat dan debit aliran air yang lebih tinggi dari sumur air dalam telah mempercepat dan memperdalam penurunan tanah. Pengukuran penurunan muka tanah secara terus menerus melalui pengukuran perilaku bumi geodesi maupun geofisika perlu dilakukan untuk memantau laju, lokasi serta pemetaan penurunan muka tanah.

Sebenarnya, masalah penurunan muka tanah pertama kali diketahui pada tahun 1926. Sejak saat itu, upaya investigasi dan pemantauan penurunan tanah dilakukan. Meskipun demikian, kejadiannya masih meningkat hingga saat ini.