BARISAN.CO – Tiada yang lebih indah selain bila menemukan cinta sejati, karena cinta membuat seseorang lebih dekat dan dapat merasakan segala bentuk-bentuk perilaku baik saat bahagia maupun susah. Cinta itu tergambar pada kisah Ali bin Abi Thalib yang bersandingkan dengan Fatimah Az-Zahra, inilah pasangan keindahan yang dapat memberikan inspirasi kehidupan.
Sebuah riwayat mengatakan, “Bila Fatimah tidak diciptakan, Ali tidak akan mempunyai istri. Bila Ali tidak diciptakan maka Fatimah tidak akan memiliki pasangan.”
Sungguh beruntung bila diantara kita bisa mengambil hikmah kisah cinta pasangan yang terindah seorang pemuda yang bernama Ali dapat meminang anak yang paling dicintai Rasulullah. Keduanya menjadi pasangan yang mampu menginspirasi karena kesederhanaan dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
Bagaimana sosok Ali dapat mendapatkan anak tercinta Rasulullah Muhammad. Inilah keistimewaan ali, bahwa Ali memiliki keyakinan kuat setiap manusia diciptakan saling berpasang-pasangan. Ia meyakini suatu saat ia akan mendapatkan pasangan yang sesuai dengan isi hatinya. Kata hati Ali selalu menuju pada sosok yang bernama Fatimah Ah-Zahra. Namun ia tidak bisa mengungkapkan cinta itu, ia hanya bisa berdoa dan meyakini jika cinta itu suci maka cinta itu akan datang dengan sendirinya.
Ada kisah yang mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah hendak meniatkan diri menjodohkan putri kesayangannya dengan Ali. Tidak seorangpun tahu bahkan para sahabat terdekatnya pun tidak tahu, niat Rasulullah menjodohkan Ali dengan Fatimah.
Tentu saja, siapa juga yang tidak berkeinginan mendapatkan sosok wanita salehah seperti Fatimah, gadis cantik putri Rasulullah pula. Niatan untuk meminang Fatimah, jatuh pada sahabat Abu Bakar.
Maka pada suatu hari Abu Bakar memberanikan diri untuk menemui Rasulullah meniatkan diri untuk melamar Fatimah. Namun dengan tulus kesederhanaan Rasulullah menjawab, “Tunggulah ketetapan dari Allah.”.
Jawaban itu seakan mematahkan diri Abu Bakar, jawaban sederhana tersebut mengisyaratkan penolakan dirinya meminang Fatimah. Lalu Abu Bakar menemui Umar bin Khatab menceritakan kisahnya meminang Fatimah Az-Zahra. Mendengarkan sekilas cerita Abu Bakar, Umar lantas berkata, “Rasulullah telah menolak lamaranmu wahai Abu Bakar,”.
Kejujuran Abu Bakar menyadari penolakan itu, tapi ia meyakini penolakan itu bukan berarti dirinya tidak pantas bersanding dengan Fatimah putri Rasulullah. Kemudian Abu Bakar meminta sahabatnya Umar bin Khatab mencoba untuk meminang Fatimah. Akhirnya karena desakan Abu Bakar, Umar bin Khatab memberanikan diri mendatangi Rasulullah hendak mengutarakan niatnya melamar Fatimah.
Ternyata jawaban yang didapatkan Umar bin Khatab, sama dengan jawaban dari Abu Bakar. Penolakan lamaran Abu Bakar dengan Umar bin Khatab ternyata menyebar sampai Madinah.
Ali memang sudah tahu niatan Abu Bakar untuk meminang Fatimah, Ali menyadari bahwa Abu Bakar merupakan sahabat Rasulullah yang paling dekat. Ia yang menemani Rasulullah Hijrah, bahkan abu bakar mendapatkan gelar As-shidiq berarti orang yang dapat dipercaya.
Bahkan Rasulullah Muhammad, mengatakannya sendiri bahwa orang yang paling banyak jasanya adalah Abu Bakar. Jiwa Ali merasa kecil dihadapan sabahat-sahabat Rasulullah.
Rasulullah bersabda mengenai diri Abu Bakar As-Shidiq:
“Sesungguhnya orang yang paling besar jasanya bagiku dalam hal pershahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengambil kekasih dari umatku, tentulah Abu Bakar orangnya. Akan tetapi yang ada adalah persaudaraan Islam dan berkasih sayang dalam Islam. Janganlah tersisa satu pun pintu di masjid melainkan pintu Abu Bakar” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 3904).
Sebagai seorang pemuda yang kuat, Ali mencoba menggembirakan dirinya dengan lebih tekun bekerja. Berusaha memendam cintanya kepada Fatimah. Selang beberapa waktu, Ali mendengar kabar kalau lamaran Abu Bakar kepada Fatimah Az-Zahra ditolak. Tentu Ali merasa senang dan gembira, bukan berarti ia rasakan itu karena Abu Bakar ditolak melainkan rasa hatinya yang masih terkondisikan untuk tetap mencintai Fatimah sehingga cinta itu tidak luntur.
Namun tiba-tiba, setelah Abu Bakar sahabat Umar bin Khatab meniatkan diri untuk mencoba melamar Fatimah. Ali mendengar kabar itu, hati dan perasaan Ali sedikit goyah kembali.
Ali menyadari posisinya, apa lagi ia termasuk yang paling muda di antara sahabat Rasulullah. Rasa hormat menjadi suatu yang tidak bernilai. Tentu saja sahabat-sahabat seperti Abu Bakar, Umar dan Usman lebih dekat dengan Rasulullah. Pantas kiranya jika para sahabat yang dekat dengan Rasulullah mendapatkan Fatimah.
Sahabat Umar bin Khatab layak menjadi menantu Rasulullah yang bersandingkan dengan wanita mulia Fatimah Az-Zahra. Apalagi Rasulullah selalu menyanjung Umar bin Khatab dengan sikapnya yang tegas dalam menegakkan agama Allah:
“Dan yang paling tegas dalam menegakkan urusan Allah (syari’at-Nya) adalah ‘Umar” (HR. At-Tirmidziy no. 3791)
Selang beberapa waktu Ali mendengar kabar kalau Rasulullah juga menolak niatan Umar bin Khatab meminang Fatimah. Kembali perasaan hati Ali merasakan kepuasan, cintanya semakin membuatnya lebih bersemangat untuk bekerja dan lebih mendekatkan diri kepada cinta yang hakiki yakni mencintai Allah sebagai segala sumber cinta.
Ujian perasaan dan keteguhan cinta Ali tidak cukup diatara sahabat Abu Bakar dan Umar. Sahabat Rasulullah yang lainpun berkeinginan mencoba meminang Fatimah, salah saudagar kaya Abdurahman bin Auf hendak meminang Fatimah. Abdurahman bin Auf meminang Fatimah dengan membawa barang-barang berharga seperti seratus onta dan uang 10.000 dinar. Mungkin jika di rupiahkan di era sekarang, nilainya bisa mencapai 60 Milyar lebih.
Lamaran mahal itu pun di tolak Rasulullah. Ketika Abdurahman bin Auf hendak melamar dengan membawa barang berharga, Ali semakin tidak memiliki kepercayaan diri. Ali menyadari bahwa dirinya adalah paling miskin di antara sahabat terdekat Rasulullah.
Namun kekhawatiran Ali tidak sampai di sahabat Abdurahman bin Auf, cobaan cinta Ali tidak cukup sampai di sini oleh sebab sahabat lain juga hendak melamar Fatimah Az-Zahra yakni lamaran itu datang dari sahabat terdekat Rasulullah dialah Ustman bin Affan saudagar kaya dan terlebih dia telah masuk Islam lebih dahulu dibandingkan dengan Abdurahman bin Auf.
Utsaman meminang Fatimah dengan membawa barang berharga seperti apa yang dibawa oleh Abdurahman bin Auf. Seperti sahabat-sahabat yang lain pinangan Utsman bin Afan juga ditolak Rasulullah.
Rasa khawatir dan detak cinta yang semakin menggemuruh dirasakan Ali, mendengar kabar penolakan demi penolakan para sahabatnya yang hendak melamar Fatimah. Di dalam benak Ali juga berkeinginan hendak melamar Fatimah, namun pikiran untuk melamar Fatimah selalu tertutupi oleh ketidakpercayaan diri Ali. Ia merasa tidak memiliki apa-apa.
Bahwa sesungguhnya para sahabat yang melamar Fatimah adalah orang-orang pilihan dan memiliki keunggulan dan kelebihan.
“Kami memilih-milih orang terbaik di antara manusia pada zaman Nabi Muhammad. Dan kamipun memilih (yang terbaik tersebut) adalah Abu Bakar, kemudian Umar bin Khatab, kemudian Utsman bin Affan.” (HR. Bukhari: 3655).
Hingga suatu hari sahabat Abu Bakar dan Umar bin Khatab mendatangi Ali. Kedatangan mereka hendak mengutarakan dan memberikan motivasi kepada Ali untuk mencoba melamar Fatimah. Keduanyapun mengatakan itu kepada Ali, tapi Ali merasa tidak percaya diri dan belum yakin apakah keinginan melamar Fatimah nantinya diterima Rasulullah apa lagi dirinya tidak memiliki apa-apa.
Sahabat Ali mencoba menasihati Ali untuk mencoba, apa salahnya mencoba. Jika mencoba saja tidak pernah dilakukan, apa kita mengerti hasilnya. Jika ingin mencapai tujuan, tapi tidak melakukan perjalanan menuju tempat tujuan sama saja pembohong. Ali perlahan-lama mulai bangkit untuk berani melamar Fatimah berkat dorongan para sahabatnya.
Hingga tiba waktunya Ali bin Abi Thalib memberanikan diri mendatangi Rasulullah untuk mengutarakan keinginannya melamar Fatimah. Sesuai kata hatinya bahwa is benar-benar begitu mencintai Fatimah.
Ali sudah berhadapan langsung empat mata dengan Rasulullah, namun mulut yang ingin mengucap tiba-tiba terdiam seribu bahasa. Badan dan seluruh perasaannya semakin bergetar, debaran jantungnya semakin meninggi. Ia semakin menjadi laki-laki lemah, tak berdaya dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Ali mencoba menenangkan dirinya sejenak, batinnya mengharap cinta Allah menyebut kalam suci Allah semoga hatinya tersinar kekuatan yang maha kuat. Dengan suara pelan dan sedikit bergetar, kata demi kata keluar dari mulut Ali
“Ya…Rasulullah, kedatanganku ke sini berkeinginan untuk meminang putrimu Fatimah.”
Mendengar pemaparan Ali, Rasulullah menunjukan sikap tenang. Lalu Rasulullah berkata kepada Ali, “Wahai Ali bin Abi Thalib, beberapa waktu ini banyak diantara para sahabatmu berkeinginan melamar putriku, tapi selalu aku tolak. Maka tungguhlan jawaban dari putriku Fatimah.”
Lalu Rasulullah sejenak meninggalkan Ali bin Abi Thalib untuk menemui Fatimah. Jantung Ali semakin berdetak kencang, tidak sabar mendengar jawaban Fatimah. Begitupun wajahnya semakin pucat, pikirannya semakin takut. Andai ditolak, bagaimana perasaan cintaku yang telah lama terpendam ini. Apakah perasaan hatiku dapat menerima. Itulah sedikit apa yang dirasakan Ali.






