Scroll untuk baca artikel
Kontemplasi

Arti Cinta dan Menghadapinya

Redaksi
×

Arti Cinta dan Menghadapinya

Sebarkan artikel ini

Kalau kalian benar-benar jujur dengan pengakuan cinta dan ingin dicintai Allah, ikutilah perintah dan laranganku

BARISAN.CO – Apa arti cinta? Itulah pertanyaan singkat tentang definisi cinta, akan ditemukan beragam jawaban yang kesemuanya berhubungan dengan parasaan. Namun dalam konteks agama Islam, cinta bukan sekadar hubungan antar personal atau hubungan antara laki-laki dan perempuan akan tetapi lebih dari itu.

Cinta menurut Islam adalah perasaan yang kuat dan mendalam antara seorang hamba dengan Allah Swt. Barangkali dalam pandangan tasawuf cinta merupakan puncak dari tingkatan seorang hamba yakni mahabah.

Jika digali secara mendalam, cinta bukan sekadar tingkatan dalam ajaran tasawuf. Selain memuncaki, justru cinta adalah bagian dasar atau pondasi dari segala bentuk cinta yang lain yakni cinta kepada Allah Swt melalui bentuk penyaksiaan (syahadat). Jadi cinta melalui dua kalimat syahadat, sebagai simbol bentuk cinta kepada Allah Swt dan Muhammad sebagai Rasulullah.

Ada beragam cara untuk mencapai nikmatnya cinta kepada Allah Swt, tentu dengan menjalankan kewajiban dan menjahui larangan-Nya. Selanjutnya ditambah dengan bentuk ibadah-ibadah lainnya seperti, salat sunah, zikir, membaca Qur’an, sedekah maupun berdakwah di jalan Allah Swt.

Ibarat air dalam gelas, jika gelas tersebut diisi air yang diibaratkan segala bentuk ibadah maka air tersebut akan meluber. Inilah cinta yang sesungguhnya, luberan air menjadi nilai tersendiri dari cinta. Oleh karena itu cinta senantiasa ditumbuhkan, bukan didiamkan. Cinta harus dipupuk, bukan didiamkan agar cinta makin subur dan agar cinta makin terawat.

Allah Swt berfirman dalam surah Ali-Imran ayat 31:

إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Kalau kalian benar-benar jujur dengan pengakuan cinta dan ingin dicintai Allah, ikutilah perintah dan laranganku, karena aku adalah penyampai risalah Allah. Hal itu akan membuat Allah mencintai dan memberimu pahala, yaitu melalui pemberian karunia kepadamu dan pemaafan kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang kepada hamba-Nya.” (QS. Ali-Imran: 31)

Selanjutnya setelah cinta kepada Allah mencintai Rasulnya yakni Nabi Muhammad Saw. Salah satu bentuk ekspresi cinta juga ada beragam, salah satunya seorang hamba diperintahkan untuk senantiasa bersholawat.

Allah Swt berfirman:

إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersholawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56).

Selain itu bentuk ekspresi dan arti cinta kepada Rasulullah Saw yakni dengan menjalankan ajaran kesunahan, meneladaninya sebab Nabi Muhammad Saw adalah suri teladan yang baik.

Itulah bentuk cinta dalam dua kalimat syahadat, selain itu bagian penting ajaran agama Islam yakni cinta antar manusia. Sebab setiap orang yang beriman kepada Allah Swt adalah saudara. Dalam Islam, setiap orang harus saling mencintai dan membantu satu sama lain, tanpa terkecuali.

Cinta dan toleransi adalah dua hal yang sangat dianjurkan dalam Islam, dan membantu menciptakan masyarakat yang harmonis dan damai. Allah Swt berfirman dalam surah Al-Hujurat ayat 10:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah bersaudara. Sebab iman yang ada telah menyatukan hati mereka. Maka damaikanlah antara kedua saudara kalian demi menjaga hubungan persaudaraan seiman. Jagalah diri kalian dari azab Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, dengan harapan Dia akan memberi kalian rahmat berkat ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hujurat: 10).

Tingkatan Cinta dan Cara Menghadapinya

Menurut tradisi sufi ada tiga tingkatan cinta atau tahapan cinta yakni; Pertama, cinta pertama (cinta syaghaf). Ini adalah perjalan awal cinta yakni cinta pertama yang seseorang rasakan ketika mengenal Allah.

Tahap dimana seseorang mulai mencintai Tuhan karena keagungan-Nya dan keindahan-Nya. Cinta ini belum murni dan masih terikat dengan hal-hal duniawi.

Kedua, mahbub atau cinta pertengahan. Bentuk cinta ini ketika seorang hamba mulai mencintah Allah Swt karena limpahan kasih dan rahmat-Nya.

Pada tahap ini, cinta seseorang semakin murni dan ia mulai merasakan dekat dengan Tuhan. Ia mulai memahami bahwa Tuhan selalu ada bersamanya dan membantunya.

Ketiga, mahbub al-haqiqi. Tahap dimana seorang hamba mencapai cinta yang murni dan menyatu dengan Allah Swt.

Pada tahap ini, ia mencapai kesadaran yang tinggi tentang kehadiran Tuhan dan ia mengalami transformasi spiritual yang besar. Ia menjadi satu dengan Tuhan dan mengalami kebahagiaan dan kedamaian yang luar biasa.

Dengan memahami tahap-tahap ini, seseorang dapat mempercepat perjalanan spiritualnya dan mencapai cinta yang murni kepada Tuhan.

Sementara, manusia atau seorang hamba dalam menghadapi cinta juga terbagi menjadi 3. Dikutip dari buku karya Ibn Qayyim Al-Jauziyyah berjudul Dosa Malapetaka Terbesar yakni; Pertama, seseorang yang mencintai kecantikan mutlak. Hal ini seperti tingkatan pertama cinta sesuatu yang nampak yakni dunia.

Oleh karena itu hatinya terombang-ambing ke sana kemari. Setiap kali melihat wajah yang cantik atau kenikmatan dunia dia lalu jatuh cinta.

Kedua, yang mencintai kecantikan secara terbatas, baik dia mempunyai ambisi untuk mejalin hubungannya atau tidak. Ketiga, tidak mencintai kecuali kalau ada orang yang berambisi untuk menjalin hubungan dengannya.

Di antara ketiga jenis manusia dalam menghadapi cinta memiliki takaran kekuatan maupun kelemahan cinta yang berbeda-beda. Apa arti cinta dalam pandangan menghadapi cinta, sesungguhnya setiap hamba memiliki proses menuju sang maha cinta.

Orang yang mencintai kecantikan atau dunia secata mutlak, hatinya akan selalu terombang-ambing ke sana kemari, dan setiap kali melihat dunia ia langsung jatuh cinta, sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair:

Suatu saat dia berada di Hazwa

saat yang lain dia berada di Aqiq

pada saat yang lain lagi berada di Adzib

dan yang terakhir berada di Khalisha

terkadang dia berada di Najd dan Awanah

yaitu jalan kecil yang menuju Aqiq

terkadang pula ia berada di bukit Tursina

yaitu benteng pertahanan orang Tamim.

Oleh karena itu hendaknya memahai apa itu cinta, apa arti cinta, tingkatan cinta dan cara seseorang atau hamba menghadapi cinta. Semoga kita termasuk hamba yang senantiasa mencintai dan mendapatkan cinta dari Allah Swt. Semoga bermanfaat.