Pertanyaannya, dalam kondisi disabilitas fungsi penglihatannya, apa yang membuat dia bisa memiliki kemampuan dan bahkan melampaui teman-teman sebayanya? Jawabannya barangkali, karena dia memiliki kepercayaan diri yang setara, bahkan terkadang lebih, dengan sesama teman lainnya. Kepercayaan diri itulah yang membuatnya selalu positif dan optimis menatap masa depan.
Lalu, kira-kira apa yang membuatnya demikian, padahal orang tua maupun dirinya tak pernah mendapatkan pendidikan di sekolah? Saya pun merenung dan menyimpulkan, semua itu terbentuk sejak dalam pergaulan dan lingkungannya sejak kecil. Saya masih ingat, kala kecil memang kami teman-teman sepermainannya, tak pernah memperlakukannya berbeda.
Meskipun ia buta, kami tak memperlakukannya secara khusus sebagai orang buta. Alih-alih mengolok, mengasihani pun tidak pernah. Kami memperlakukannya secara setara. Kami ajak main ke sawah, memancing, bersepeda, bermain petak umpat dan sebagainya. Sore hari saat menonton film seri Saur Sepuh di TVRI pun ia kami ajak. Tak bisa menonton, tetapi dia bisa mengikuti ceritanya dengan mendengarkan, hingga kami bisa saling tukar cerita mengenai tokoh-tokoh dalam film tersebut. Saat remaja, kami menonton pertunjukan dangdut di kampung sebelah, ia pun selalu kami ajak. Kadang jalan kaki, kadang kami bonceng naik sepeda.
Dari seorang sahabat bernama Sarmono, saya terinspirasi untuk terus belajar memahami. Kita tentu ingin diperlakukan setara, tak terkecuali mereka yang tergolong disabilitas. Tak perlu diperlakukan istimewa, tak usah juga dipaksa-paksa. Perlakukan saja secara setara, sebagaimana teman pada umumnya. Tentu dengan cara-cara yang kita pun bisa saling paham, tidak memaksakan pola komunikasi sepihak, tidak egois merasa bahwa orang-orang “normal”-lah yang paling bisa memaksimalkan pemberian Tuhan.M Chozin Amirullah
Di momentum Hari Disabilitas Internasional ini, saya berharap kita semua bisa belajar lebih banyak tentang kesetaraan dan menghilangkan semua diskriminasi tidak berdasar terhadap teman-teman disabilitas. Mari saling berempati terhadap sesama. Mari saling memberikan rasa nyaman dan aman untuk semua.
Selamat Lebaran Difabilitas, mari rayakan kemerdekaan buat semua. [rif]