Gaya Hidup

Bukan Hanya Toxic Masculinity, Toxic Femininity Juga Berbahaya

Anatasia Wahyudi
×

Bukan Hanya Toxic Masculinity, Toxic Femininity Juga Berbahaya

Sebarkan artikel ini
Contoh toxic femininity atau feminitas beracun. Sumber foto: Kumparan.com

BARISAN.CO – Disaat banyak perempuan yang menggaungkan kesetaraan gender, ada di antara mereka yang melakukan toxic femininity. Apa itu toxic femininity?

Toxic femininity atau feminitas beracun ialah standar yang dianggap normal oleh masyarakat tentang hal-hal yang seharusnya dilakukan atau pun dimiliki oleh kaum hawa.

Secara harfiah, konsep tentang feminitas atau juga hal-hal yang dianggap memiliki sifat perempuan yang sebenarnya mengandung racun karena dapat menghalangi perempuan dapat maju serta berkembang.

Berikut ini daftar anggapan beracun yang harus dimiliki oleh perempuan agar memenuhi standar masyarakat dan sering kali dilontarkan oleh perempuan kepada perempuan lainnya.

1. Perempuan harus bisa masak

Masak itu bukan keharusan melainkan hobi. Jika tidak bisa masak apakah berdosa? Perempuan yang tidak bisa memasak bukan berarti mereka bukan perempuan, akan tetapi ada alasan dibalik itu semua.

Ada juga perempuan yang bisa masak, tetapi tak punya waktu karena sibuk bekerja dan sudah kelelahan setelah tiba di rumah. Suaminya memahami dan tidak memaksa istrinya untuk memasak, tapi kenapa kalian yang repot?

Lagi pula, bukankah lebih baik menghormati orang lain? Belum tentu kita lebih baik dari mereka. Berhentilah menghakimi atas standar yang dibuat.

2. Harus pandai mengurus rumah

Masak, mengurus rumah, seolah perempuan hanya berurusan dengan dapur, sumur dan kasur. Mengurus rumah seperti mencuci, menyapu, dan lain sebagainya merupakan life skill. Artinya tidak hanya perempuan, laki-laki juga harus bisa.

Perempuan yang tidak bisa mencuci pakaian, apa salahnya? Jika ada mesin cuci di rumahnya atau ia bisa membayar jasa laundry untuk urusan itu. Atau juga vacuum cleaner untuk urusan kebersihan rumahnya. Ayolah, hal seperti ini tak perlu diributkan lagi!

3. Tak perlu sekolah tinggi-tinggi

“Perempuan gak usah sekolah tinggi-tinggi. Nanti juga urusannya dapur, sumur, dan kasur,”

Hei, urusan pendidikan tidak ada batasan soal gender. Mau perempuan atau laki-laki berhak untuk melanjutkan sekolah setinggi-tingginya jika ia mampu baik secara finansial maupun mental.

Tak perlu mencampuri urusan pendidikan orang lain. Malu sama R.A Kartini yang sudah memperjuangkan emansipasi perempuan jika masih ada pemikiran seperti ini!

4. Perempuan itu lemah lembut

Jadi perempuan itu serba salah. Lemah lembut kadang dianggap sok manis, cari perhatian, dan judge lainnya yang tidak mengenakkan. Sedangkan saat tidak lemah lembut, “Perempuan kok gitu? Gak ada lembut-lembutnya. Blablabla,” Kami kudu piye, toh?

5. Harus pandai merawat diri

Bangun jam 5 pagi. Masak, urus kebutuhan rumah, tidur selalu paling akhir setelah semua urusan di rumah beres. Kalau begitu mana ada waktu merawat diri?

Belum lagi biaya perawatan yang tidak sedikit. Katanya bisa memakai bahan alami, yang murah – meriah. Waktu untuk rehat saja tidak ada, ini harus membuat racikan perawat badan dengan bahan alami. Plis, deh jeung!

Feminitas beracun adalah nyata. Kondisi ini terjadi ketika perempuan menggunakan gendernya untuk mendapatkan privilege. Sama dengan maskulinitas beracun, feminitas beracun merupakan produk dari masyarakat serta sistem yang sangat patriarkal dan karenanya perlu adanya pemeriksaan lebih lanjut.

Mungkin, Anda menganggap ini sepele. akan tetapi tidak bagi korban yang menghadapi masalah ini. Berdasarkan temuan studi pada tahun 2014 yang dilakukan Workplace Bullying Institute, perempuan lebih suka menjadi penindas bagi sesama gender dengan persentase 68 persen perempuan menjadi target dan 32 persen targetnya ialah laki-laki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *