Pokok perbincangan selanjutnya yang tak kalah seru adalah seni. Ellen sekilas menyinggung, sebelum purna diskusi, perihal kepekaan anak pada keindahan. Setiap anak, menurut Charlotte sebagaimana ungkap Ellen, terlahir begitu peka pada seni dan karya-karya para seniman. Tinggal bagaimana kita selaku orangtua bisa mempertahankan cita rasa tersebut.
Sehingga, penyelenggaraan sebuah pendidikan semestinya bisa membuka peluang setiap anak untuk bisa mengakrabi galeri-galeri yang memajang lukisan karya para seniman besar. Semua kalangan tanpa terkecuali. Itu yang dulu diperjuangkan Charlotte bahwa kesenian dan karya budaya mestinya bukan privilese anak orang kaya saja. Kesenian harus menjadi pengetahuan semua kelas sosial. “Kesenian perlu dididikkan pada anak. Kalau tidak, kelak dia akan kurang mengapresiasi karya seni.”
Topik menarik lagi, sebagai penutup obrolan, adalah soal pendidikan agama. “Iman itu beyond reason.” Artinya, buat anak-anak akan lebih gampang masuk, karena mereka belum tesergap perasaan ragu. Belum banyak pertimbangan rasional. Belum teracuni oleh pertanyaan kritis. Dan lain sebagainya.
Syahdan, dari obrolan itu, dari sebuah diskusi bersama pegiat living books, saya mulai mengerti kenapa pilihan bacaan mereka kebanyakan berlanggam sastra. Karena itu tadi: sebagai asupan bacaan yang mengasah kepekaan nurani, yang mengasah karakter anak. Anak-anak diajak menghayati kisah-kisah petualangan, keberanian, kesungguhan, ketaatan pada orangtua, pada guru, suka, duka, dan cinta pada kehidupan. Pikiran mereka terbuka, dan tersambung pada keagungan Tuhan. Mereka memiliki pijakan. Mereka punya identitas yang kuat. Dan mereka tak akan tergiur pada kelompok separatis. Golongan ekstrem. Kelompok fanatik yang intoleran.
Demikian.