Erupsi Merapi dan Kiai Petruk, Bukan Bencana Tapi Berkah

  • Whatsapp
Merapi dan Kiai Petruk
Sosok Kiai Petruk jadi simbol aktivitas Gunung Merapi

BARISAN.CO – Gunung Merapi merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Gunung ini memiliki ketinggian puncak 2.930 mdpl. Gunung berapi terletak di bagian tengah Pulau Jawa yang menghubungkan antara Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Magelang dan Boyolali.

Tahun 2004 Gunung Merapi ditetapkan sebagai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.134/Menhut-II/2004. Landasan lahirnya TNGM adalah sebagai perlindungan terhadap habitat flora fauna di dalamnya, perlindungan sumber air, pengembangan wisata alam, dan budaya masyarakat.

Bacaan Lainnya

Gunung Merapi masih aktif ini memiliki potensi bencana bagi masyarakat. Menurut data dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral Badan Geologi, Merapi memiliki periode letusan antara dua sampai tujuh tahun sekali. Letusan terbesar di antaranya pada 2006 dan 2010.

Tahun 2021 gunung merapi kembali mengalami aktivitas mengeluarkan material panas. Erupsi gunung berapi berasal dari dalam bumu. Gunung Merapi pada ada senin (18/01/2021) mengeluarkan awan panas. Kepala Balai Penyelidik dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyatakan terjadi awan panas guguran pada pukul 05.43 Wib. Guguran awan panas meluncur ke arah barat daya atau hulu Kali Krasak sejauh 1.000 meter.

Meski memiliki potensi bencana, namun bagi budayawan Edhie Prayitno Ige memandang Gunung Merapi sebagai berkah bagi masyarakat. Gunung menjadi tanda peradaban umat manusia. Sehingga setiap karunianya seperti erupsi dan segala hal yang ada di sekitar gunung patut disyukuri.

Gunung merapi membawa berkahan bagi masyarakat dan kehidupan mahluk hidup di sekitanya. Merapi termasuk hutan hujan tropis yang di dalamnya terdapat keanekaragaman hayati dan sumber plasma nutfah.  Masyarakat memanfaatkan karunia tersebut mulai dari pemanfaatan sumber air, rumput untuk pakan ternak, kayu, hingga erupsi letusan gunung merapi.

Edhie menjelaskan, letusan gunung merapi memiliki periode atau siklus 30 tahunan. Namun semenjak 2010 siklus erupsi merapi diperpendek menjadi 10 tahunan.

“Siklus ini terjadi karena manusia sudah tidak ramah terhadap alam, terlebih kawasan gunung merapi. Manusia mulai rakus menggunakan alat berat untuk menghancurkannya,” jelasnya.

Sesajen

Diterangkan Edhie, terkait korban letusan merapi itu kebanyakan dari luar warga masyarakat. Warga sesungguhnya sangat paham betul memahami gunung merapi. Gunung itu seperti anak yang harus dirawat dan gunung juga layaknya orang tua yang memberikan terbaik bagi anaknya.

Gunung merapi menjadikan masyarakat dinamis dalam beraktivitas sehingga banyak pihak yang berkepentingan di kawasan merapi. Berbeda dengan warga yang benar-benar memanfaatkan kawasan merapi sesuai kebutuhan. Sehingga warga dan kawasan merapi seperti satu kesatuan.

Seperti yang dilakukan warga dengan budayanya yakni kearifan lokal untuk memberikan sesajen. Upacara tradisi warga mengidentifikasikan hubungan manusia, Tuhan dan kawasan merapi. Sesajen atau sesaji yang disajikan diantaranya kembang, buah-buahan, dan sayuran. Sesaji tersebut asli hasil bumi berkah dari merapi yang diberikan Tuhan.

“Sesajen jangan diartikan negatif. Pada dasarnya itu semua diberikan pada binatang. Misalnya buah diberikan kepada monyet atau kera supaya kawanan monyet tidak turun ke ladang warga untuk merusak. Begitupun herwan-hewan lain juga diberikan sesajen, ini sebagai jalinan antara warga dengan binatang yang hidup di kawasan merapi,” tutur Edhie warga Muntilan Magelang yang saat ini tinggal di Kota Semarang.

Tradisi yang lahir di kawasan merapi interprestasi hubungan timbal balik antara warga dan gunung merapi. Seperti tradisi sedekah gunung, warga lereng merapi memberikan beragam sesajen tidak hanya sayur dan buah-buhan tapi juga ada yang memakai sesajen kepala kerbau. Ritual sedekah merapi sebagai bentuk memohon keselamatan kepada Tuhan.

Kiai Petruk

Fenomena erupsi merapi selalu dikaitkan dengan tokoh Punokawan dalam pewayagan Jawa yakni tokoh Petruk. Sosok Petruk ini ada yang menyebutnya dengan Kiai Petruk, Mbah Petruk dan Ki Lurah Petruk. Cerita Petruk tersebut menjadi cerita turun-temurun warga kawasan Gunung Merapi.

Jika bicara pewayangan bagi masyarakat Jawa memilini nilai-nilai sakral, nilai tersebut menjadi pedoman bagi orang Jawa. Tokoh Punokawan berwujud Petruk merupakan gubahan para Walisanga yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Petruk berasal dari bahasa arab yakni Fatruk dalam ilmu tasawuf disebut dengan “Fatrukkulla maa siwallahi” yang berarti tinggalkan semuanya kecuali Allah (Tuhan).

Sedangkan konon Petruk yang berada di Merapi adalah sosok penjaga Gunung Merapi. Jika dihubungakan dengan tokoh pewayangan, bagi Edhie Petruk tidak ada kaitannya dengan penunggu maupun penjaga Gunung Merapi.

Edhie menyebut sosok tersebut sebagai Kiai Petruk. Sebagai anak Muntilan, Edhie sangat akrab dengan Merapi. Ia lebih suka berusaha menjalin komunikasi dengan sedulur-sedulur yang rumahnya berjarak 2-3 km dari kawah Merapi.

“Karena merekalah yang sesungguhnya paham kapan harus mengungsi. Peningkatan status siaga level 3 saat ini bukan apa-apa. Hanya semacam peringatan saja. Sekaligus menunjukkan bahwa peringatan dini berfungsi baik,” terangnya. []


Penulis: Lukni An Nairi


Indeks laporan:
1. Erupsi Merapi Menunggu Waktu
2. Erupsi Merapi dan Kiai Petruk, Bukan Bencana Tapi Berkah
3. Muntilan, Distrik Surgawi Penambang Pasir Merapi
4. Merapi dan Mitigasi

Pos terkait