Fokus

Muntilan, Distrik Surgawi bagi Penambang Pasir Merapi

Avatar
×

Muntilan, Distrik Surgawi bagi Penambang Pasir Merapi

Sebarkan artikel ini
Penambangan pasir di daerah lereng Merapi. Ilustrasi: wartahijau.com

BARISAN.CO – Keberadan Gunung Merapi barangkali ialah berkah bagi distrik kecil seperti Muntilan, Magelang. Wilayahnya yang berada di kaki gunung membuat Muntilan bukan hanya termasuk daerah yang pertama menderita setiap Merapi meletus, tapi juga paling pertama menerima berkahnya: pasir.

Pasir merapi, sebagai material vulkanik hasil erupsi, terbawa ke distrik Muntilan antara lain lewat aliran sungai Pabelan, Lamat, dan Blongkeng. Oleh banyak pihak terutama di kalangan pekerja proyek, pasir-pasir ini didaku memiliki kualitas kelas wahid.

“Pasir muntilan kualitasnya bagus. Bahkan terlalu bagus untuk ukuran developer,” Kata Arif Chasanuddin, seorang pengembang berbasis di Jabodetabek kepada Barisanco. Ia membenarkan bahwa kualitas pasir muntilan sangat bagus.

Akan tetapi, hukum besi yang berbunyi ‘ada rupa ada harga’, membuat ia tidak memilih pasir muntilan sebagai bahan agregat halus dalam proyek-proyek perumahan yang dikerjakannya.

“Untuk ukuran bisnis perumahan, jelas pasir muntilan tidak menguntungkan. Dan saya kira tidak banyak developer di Jabodetabek yang menggunakan pasir jenis itu, melainkan jenis lain yang lebih murah dan aksesnya lebih dekat, seperti pasir rangkas,” Kata Arif.

“Kalau untuk membangun rumah pribadi dan kepentingan pribadi, saya jelas gunakan pasir muntilan,” lanjutnya.

Terbaik dari Pasir Lainnya?

Senada dengan Arif Chasanuddin, kontraktor berdomisili Magelang Somohadi, sepakat menyebut bahwa pasir muntilan cocok untuk konstruksi rumah skala pribadi.

Namun soal kualitas Somohadi berpendapat lain. “Mengacu standar tertentu, pasir muntilan mungkin lebih tepat disebut medioker,” katanya kepada Barisanco.

Standar yang dimaksud Somohadi adalah spesifikasi pasir menurut Kementerian Pekerjaan Umum (SNI 03-6819-2002) untuk konstruksi khusus seperti perkerasan jalan (rigid pavement).

Dalam penuturan Somohadi, mengacu standar itu, pasir yang baik adalah pasir yang bersih, keras, bebas dari lempung, serta bahan yang tidak dikehendaki lainnya. Selain itu pasir yang nantinya mengalami basah dan lembab terus menerus ini, tidak boleh mengandung bahan yang reaktif terhadap alkali. Pasir juga harus bersifat kekal, artinya tidak hancur karena pengaruh cuaca.

“Yang terpenting pasir harus memiliki kadar lumpur di bawah 4 persen serta bebas kandungan lempung. Nah, kadar maksimal ini jarang dipenuhi pasir muntilan,” kata Somohadi.

Menurutnya, rata-rata pasir muntilan masih memiliki kadar lumpur di atas 4%. Itupun bervariasi tergantung di sebelah mana pasir ditambang: semakin jauh lokasi penambangan dari kaki gunung Merapi, semakin banyak kadar lumpurnya, bahkan bisa sampai 10%. Rentang yang cukup lebar dan cenderung tidak konsisten ini membuat pasir muntilan susah untuk dijadikan ukuran baku.

“Jadi kalau berbeda letak penambangannya, entah di sungai Krasak, Bebeng, Blongkeng, Lamat, atau lain-lain maka berbeda pula kadar lumpurnya. Padahal sama-sama di daerah Muntilan, dan sama-sama berasal material gunung Merapi, tapi kadar lumpurnya tidak konsisten satu dengan yang lain.” Kata Somohadi.

Soal kualitas dan kandungan lumpur yang kelampau variatif diperkuat oleh pendapat akademisi Universitas Negeri Semarang (Unnes) Dr. Bambang Endroyo. “Yang ditambang dari lereng timur kualitasnya kurang baik. Yang baik dari kali Putih dan kali Krasak.” Katanya kepada Barisanco.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *