“Adinda, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lain. Biasakan posisi tanganmu telungkup atau setidaknya sejajar. Hindari untuk mengadah, biarlah posisi itu hanya untuk Allah, pada-Nya lah kau meminta dan berharap.”
Dia terus melanjutkan nasihatnya, tapi aku sudah tidak lagi mampu mendengarnya. Aku lebih fokus menertawakan diri dan menahan malu di depan senior legend ini.
Nasihatnya ini membuatku terpukul hebat. Sejak itu aku tidak lagi buat proposal meminta uang. Aku selalu menawarkan kerja sama, atau setidaknya kami jualan kaos souvenir atau sampai cuci mobil dosen untuk mendapatkan uang kegiatan.
Kata-kata itu masih berbekas hebat. Rasanya seperti pahatan batu sampai saat ini. Setiap ada pengemis, oknun pejabat, oknum aparat yg mengadahkan tangan aku selalu ingat nasihat itu. Tak sedikit juga mereka saya nasihati demikian.
Terima kasih Kanda, atas nasehat itu. Maka aku kini berusaha menciptakan lapangan kerja, agar tanganku tidak lagi mengadah keatas, seperti katamu.
Dan ini juga alasanku menolak Omnibus law, karena era ini menciptakan budak yang legal, bukan mendorong produktivitas dan kreativitas. Kita memudahkan pemodal untuk memperkerjakan kita. Bukan melindungi bibit yang tumbuh di bawah pohon besar, tapi memupuk pohon besar agar yang tumbuh hanya pohon beringin Pak Airlangga.
Slogan kerja di era ini telanjur untuk menciptakan kerja, bukan kerja untuk menciptakan sesuatu. Lalu, jika kita menyembah para pemodal, apa cerita ekonomi Pancasila akan bisa tumbuh di bawah pohon rindang? [Put]
Fazwar A. Jambak, Social-preneurship tinggal di Lampung