Perspektif Adib Achmadi

Gawai dan Pendidikan Anak

Adib Achmadi
×

Gawai dan Pendidikan Anak

Sebarkan artikel ini
gawai pendidikan anak
Ilustrasi: Unsplash

Gawai menjadi bagian dari gaya hidup bahkan oleh anak anak sejak usia dini. Orang tua justru yang mengenalkan dan memfasilitasi anaknya dengan perangkat teknologi yang belum waktunya.

BARISAN.CO – Pada suatu obrolan kecil di perjalanan, seorang driver mengeluhkan anaknya yang masih kecil begitu ketagihan sama HP. “Saya kalah,” katanya. Si driver risau jika di hadapan anaknya ia kalah pengaruh dan kalah wibawa dibanding teknologi canggih itu.

Keluhan driver itu tiba tiba melambungkan ingatan saya pada dua nama besar di era teknologi abad 21, Bill Gates dan Stave Jobs. Bill Gates, CEO Microsoft ternyata adalah sosok ayah terbilang ‘tradisional’ dan konservatif. Secara mengejutkan dan di luar dugaan, ikon teknologi IT itu justru melarang anaknya menggunakan gadget hingga usia 14 tahun. Untuk bisa bermain gawai, anak Bill Gates harus menunggu hari ulang tahun ke 13.

Gates juga tidak memanjakan anak anaknya dengan memenuhi segala keinginannya. Konon pria yang tergolong jajaran manusia terkaya didunia itu lebih banyak berkata ‘tidak’ dalam mendidik anaknya. Keinginan harus di capai dengan usaha keras.

Hidup sederhana adalah satu nilai yang ditanamkan Bill Gates pada anaknya. Dia ingin anaknya hidup senormal mungkin. Termasuk dalam hal uang saku, anak orang terkaya di dunia itu cukup diberikan dalam jumlah seperti kebanyakan anak pada umumnya. Pun di tengah semua bisa dicukupi, anak Bill Gates harus merapikan sendiri tempat tidurnya, mencuci piring bekas makannya sendiri dan lain lain.

Hal menarik lain dari Bill Gates dalam mendidik anaknya adalah di tengah kesibukannya sebagai CEO Microsoft ia masih menyempatkan mengantarkan anaknya ke sekolah yang jaraknya lumayan jauh dari rumah.

Gates tampak begitu besar memberi perhatian dalam urusan pendidikan dan masalah kedekatan dengan anak. Dengan mengantar ke sekolah, interaksi anak dan orang tua bisa berlangsung intens selama dalam perjalanan. Pun anak akan merasa mendapat support dari orang tua saat berada di sekolah.

Tak beda dengan Bill Gate, Stave Jobs, CEO Apple Ink, perusahaan komputer terkemuka dunia itu juga sosok orang tua konservatif. Anaknya juga tidak diperkenankan pegang benda elektronik canggih macam smartphone, komputer dll.

Jobs lebih suka anak anaknya membaca buku dan belajar sejarah. Sebagaimana orang tua tradisional, Jobs suka kumpul keluarga dan makan bersama serta diskusi tentang buku dan sejarah.

Dua tokoh papan atas teknologi IT itu seperti paham benar dampak gawai bagi kehidupan anak sehingga mereka bersikeras dalam mengambil sikap. Mereka juga benar benar melarang hingga usia anak mulai beranjak dewasa.

Kebalikan dengan kehidupan sosial pada umumnya, gawai menjadi bagian dari gaya hidup bahkan oleh anak anak sejak usia dini. Orang tua justru yang mengenalkan dan memfasilitasi anak anaknya dengan perangkat teknologi yang belum waktunya.

Tapi begitulah yang sedang terjadi, masyarakat banyak yang mengalami korban teknologi dari pada manfaat yang harus didapatkan.

Dan kepada driver itu saya coba urun nasehat. Ada baiknya orang tua berani mengambil sikap sejak dini terkait urusan gawai. Sebagai orang tua harus mampu merebut kembali hati anak agar kehadirannya lebih dirasakan dan lebih berharga dibanding perangkat teknologi secanggih apapun.

Tentu itu pilihan tak mudah, tapi begitulah tantangan orang tua jaman kini.