Scroll untuk baca artikel
Kolom

Minyak Goreng dan Pisang

Redaksi
×

Minyak Goreng dan Pisang

Sebarkan artikel ini

MINYAK goreng, komoditas unggulan Indonesia belakangan ini menjadi perbincangan di jagat media bahkan sampai ke belahan dunia lain. Wabilkhusus, di media sosial. Berbagai pendapat dan juga meme bertaburan di sejumlah kelompok perbincangan dan sampai saat ini belum juga surut.

Isu minyak goreng yang diawali raib di pasaran, belakangan harganya yang melambung jauh dari harga eceran tertinggi (HET), kemudian muncul tudingan mafia, rencana tangkap mafia dan terakhir nggak ada yang ditangkap. Soal ini tidak menarik tetapi hanya menyusahkan rakyat dan membikin publik apatis.

The Economist versi daring menulis keheranannya lewat judul dramatis, “The world’s biggest producer, has a palm-oil crisis”. Dalam bagian tulisannya disebutkan, “Di Kalimantan Timur, di Pulau Kalimantan, yang menghasilkan hampir dua perlima minyak sawit Indonesia, setidaknya dua ibu rumah tangga meninggal bulan ini saat mengantre.”

Nah, isu yang menarik dan membuat rakyat miskin sangat gurih dan renyah mempergunjingkannya kemudian soal pernyataan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri. Kontroversi bermula dari pernyataan Ketua Umum Partai Wong Cilik ini yang tidak habis pikir dengan ribuan ibu-ibu yang rela antre hanya untuk mendapatkan seliter sampai dua liter minyak goreng.

Dalam pikiran Megawati apakah setiap hari-hari ibu-ibu mengolah makanan dengan cara digoreng? Apakah tidak ada cara lain, tanyanya retoris. Padahal ada metode lain yang justru lebih sehat seperti direbus dan kukus.

Seperti ditulis Muhidin M. Dahlan dalam sebuah esainya, Megawati ternyata tidak asal bicara. Pernyataannya itu didasari dari kitab babon berjudul “Mustika Rasa: Resep Indonesia Warisan Sukarno”. Buku yang diterbitkan Komunitas Bamboe itu menyediakan resep warisan, mayoritas direbus dan dikukus yang menjadi kegemaran Bung Karno.

Sampai-sampai Megawati pun secara khusus menghelat acara masak-memasak dengan metode kukus dan rebus di sekolah partai di bilangan Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Keprihatinan dan saran Megawati memang benar. Namun tidak tepat. Bila saran Megawati itu disampai di acara Dapur Rudy, atau dalam acara masak bersama Chef Juna atau seminar kesehatan, itu sangat pas.

Pernyataan Megawati di tengah kelangkaan dan harga minyak goreng yang mahal justru melukai wong cilik. Kenapa rakyat yang disalahkan? Seharusnya Megawati fokus kenapa minyak goreng langka di lumbung sawit. Itu di luar nalar kecuali memang gerombolan kartel bermain.

Sementara emak-emak antre minyak yang belakangan melibatkan bapak-bapak dan juga menantu justru banyak juga yang digunakan untuk berjualan, berdagang dan mereka ini masuk kelompok UMKM. Bukan untuk mengejar kekayaan tapi untuk sekadar menyambung hidup.

Emak-emak ini di tengah ekonomi yang gagal meroket berjibaku membantu ekonomi keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak. Belum lagi banyak suami mereka yang nganggur karena pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Saya sudah lama mempraktikkan saran Ibu Megawati. Saya memasak Indomie goreng tidak digoreng melainkan direbus,” tulis seorang teman, bercanda.

Belum surut ingar-bingar metode rebus dan kukus muncul kemudian isu pisang. Kehebohan pisang dipicu pernyataan Wakil Presiden Ma’ruf Amin dalam panen pisang cavendish di Desa Pulung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Rabu (30/3/2022).

Di sela-sela acara tersebut Wapres menyampaikan tipsnya, “Jadi sebenarnya kalau Bapak-Ibu makan dua buah pisang, itu artinya sudah cukup mengenyangkan, untuk mengganti satu porsi nasi. Jadi, makan dua pisang tidak perlu makan nasi,” kata Ma’ruf, “tapi biasanya kita makan nasi iya, juga pisang iya. Itu sudah berlebihan.”