Scroll untuk baca artikel
Edukasi

Hati-Hati, Trauma Masa Kecil Bisa Terus Melekat Sampai Dewasa

Redaksi
×

Hati-Hati, Trauma Masa Kecil Bisa Terus Melekat Sampai Dewasa

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Bagi beberapa orang tua, sering kali sulit membedakan ketegasan dan kekerasan. Maksud hati ingin mendisiplinkan anak dengan memberikan berupa hukuman, alih-alih malah dapat menimbulkan trauma hingga mereka dewasa.

Seorang teman pernah bercerita, alasan dia mandi begitu cepat yang tak sampai satu menit sudah selesai. Rupanya, ia begitu takut jika berlama-lama di kamar mandi. Musababnya, di masa kecilnya, tiap kali ia melakukan kesalahan, ia akan dikurung di dalam kamar mandi.

Mungkin bagi orangtuanya, itu bukan masalah selama tak menggunakan kekerasan berupa pukulan. Namun akibat yang ditinggalkan, terkenang hingga akhir zaman. Dan itulah yang membuat banyak orang sulit lepas dari cengkraman trauma yang pernah ia alami saat masih kanak-kanak.

Perlu menjadi perhatian orang tua adalah pola asuh yang buruk akan berdampak bagi perkembangan anak kedepannya. Mahak Arora, sebagaimana dikutip dari Parenting First Cry, memberikan contoh bagaimana pola asuh yang buruk itu akan berdampak di kemudian hari:

1. Jika anak berperilaku anti sosial, ia tak peduli tindakannya akan mempengaruhi orang lain. Tak jarang, dapat menyebabkan penyalahgunaan zat terlarang, masalah mental, kejahatan, serta kesehatan yang buruk.

2. Kesulitan untuk menangani emosinya bisa juga terjadi. Temperamen yang buruk dari orangtua bisa menulari kepada anak. Jadi, jika anak ingin bersikap baik, berilah contoh bukan hanya mengeluarkan kata-kata yang kemudian tak terbukti dan diingkari sendiri.

3. Pengasuhan yang buruk dapat menyebabkan depresi.

4. Anak kemungkinan juga memiliki emosi yang meledak-ledak apabila memiliki hubungan yang buruk dengan orangtua.

5. Kurangnya empati.

6. Anak juga kesulitan dalam menjalin hubungan sosial dengan yang lain, serta rendahnya kepercayaan diri mereka.

Untuk itu, Mulai sekarang mari lupakan ketegasan yang sering dibalut dengan kekerasan. Sebelum memberikan hukuman, pikirkan dulu masa depan anak, supaya tidak ada luka di hati maupun di fisiknya. Berikut ini tips menghukum anak tanpa kekerasan tersebut:

Pertama, berikan hukuman yang ringan dan singkat. Misalnya meminta anak untuk merenungi kesalahannya selama satu jam, lalu mencari jalan keluar bersama agar kesalahan tersebut tidak terulang di kemudian hari.

Kedua, pastikan kepada anak bahwa yang ia lakukan salah tanpa perlu menghakimi. Ajak ia berbincang dan berikan perumpaan dibalik tingkah lakunya yang salah. Terkadang orang tua jika anak melakukan sesuatu yang salah, terburu-buru bertindak dan menyakiti hati anak dengan penghakiman atas apa yang dilakukan.

Ketiga, tidak menggunakan hukuman fisik. Beberapa orang tua sering keliru menganggap pukulan adalah bentuk cinta dan kasih sayang mereka. Padahal bukan begitu cara mendidik anak. Tak jarang juga, ketika orangtua mengalami hukuman fisik saat kecil, ia akan membalas kepada anaknya. Inilah bahaya lingkaran kekerasan fisik kepada anak.

Keempat, berikan contoh. Jika ingin anak mendengar, maka Anda juga harus mendengarkan. Ketika anak berbuat salah, dengarkan cerita mereka. Tanyakan alasannya. Jangan mengintervensi, Lagi pula, dengan banyak mendengar, ada manfaat lainnya yaitu lebih mengenal anak Anda.

Orangtua bisa saja salah dalam mendidik anak. Namun jangan sampai kesalahan itu membuat anak merasa rendah diri apalagi mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh orangtuanya soal cara mendidik. Bagaimana pun, anak-anak memiliki kepekaan yang jauh lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Ketika orangtua menganggapnya anak yang berperilaku buruk, itu akan tertanam di dalam benak anak.

Maka, ada baiknya bagi orangtua kini mulai intropeksi diri atas tindakan dan sikap yang selama ini dilakukan kepada anak agar mereka tumbuh lebih baik lagi.

Ingat, tidak ada kata terlambat untuk berubah. Pujian kecil seperti ucapan terimakasih telah tumbuh dengan baik disertai pelukan hangat bisa kita lakukan untuk menghindari anak menjadi keras hati. [rif]