Esai

Kaisar

Eko Tunas
×

Kaisar

Sebarkan artikel ini
kaisar
Ilustrasi: Unsplash/Brian McGowan

INI kisah kaisar yang mau mengundurkan diri. Ketentuan itu tampaknya disadari sebagai pilihannya. Lebih baik mengundurkan diri, daripada dicopot kekaisaranku.

Batinnya, mana ada kaisar dicopot sebagai kaisar.

Kaisar itu di atas presiden, di atas raja. Raja diraja. Ia merenung dengan dalam di dalam ruangan khusus, setelah apa yang dilakukannya.

Ia telah membunuh orang kesetiaannya. Meski melalui tangan bawahannya, dialah dhalang dari pembunuhan itu. Bahkan pasalnya: pembunuhan berencana dan berkelompok. Ancamannya: hukuman mati.

Mengapa pembunuhan itu berlangsung di rumahnya. Inilah yang menjadi soal bagi kekaisarannya. Mestinya ia perintahkan orang lain, dan di tempat lain.

Tapi kaisar juga manusia biasa. Ia punya emosi, terlebih kala emosi itu menumpuk menjadi akumulasi. Suatu saat akan meletup hanya karena bisikan setan.

Terlebih, aku kaisar, kekuasaanku tidak ada batas, bisik egonya. Apa yang tidak aku punya. Apa yang kau butuhkan, aku penuhi hai para cecunguk. Tapi jangan usik aku, meski dengan bisikan.

Apakah kekuasaan tiada batas memang dekat dengan para setan. Sebutlah adanya tiadanya batas itu molimo. Lima M: Maling, Madat, Madon, Main, Minum.

Tapi dengan kekuasaan lima M itu, aku moho pemberi. Dan para cecunguk itu yang menjuluki aku sebagai kaisar.

Sempurnalah kesialanku.

Aku pilih mengundurkan diri, supaya kehormatanku sebagai kaisar terjaga. Meski aku sendiri ragu, arti kehormatanku itu. Kehormatan atau kehinaan.

O, mungkinkan pengunduran diriku ditolak, dan aku akan menjadi kaisar yang dipecat dengan tidak hormat!***