Mantra Masterly Inactivity

  • Whatsapp
Masterly Inactivity Anak

MASTERLY INACTIVITY, istilah Charlotte Mason untuk merujuk seni mendampingi anak dalam proses belajar. Istilah ini pula, yang pelan-pelan mengusir kegalauan saya dalam menemani anak-anak belajar. Semula, ketika baru ada Ahimsa, saya masih berkeyakinan anak sebagai pusat belajar.

Saat itu saya benar-benar membebaskan sang sulung dari segala hal yang beraroma “jangan”. Saya menjadi bak malaikat yang steril dari ungkapan “Jangan begitu! Awas itu! atau Tidak boleh begini!”. Pokoknya, anak bebas mengerjakan apa saja. Sekalipun mengarah bahaya, ia memukul teman misalnya, saya tidak akan berteriak melarang. Cukup tersenyum seraya berkata, “Eh hati-hati! tangannya buat apa, Sayang?”

Bacaan Lainnya

Ya, persis banget dengan anjuran master motivator, Mario Teguh, “Nak, kamu super sekali. Tanganmu super aktif, sehingga temanmu kini menangis. Tapi itu nggak apa-apa.”

Prinsipnya, saya tidak boleh merajut tali kekang untuk anak. Saya harus mengeloskan dia. Membiarkan lepas. Bebas tanpa pengawasan. Dan, lama saya memegang prinsip itu, hingga anak saya yang kedua berusia 2 tahun, sedang yang pertama 6 tahun.

Saya menjalani prinsip itu, tapi juga diam-diam meragukannya. Saya berpikir: “jangan-jangan saya melakukan ini karena balas dendam?”  Antitesa dari perlakuan orangtua saya dulu yang begitu ketat mengatur masa kecil saya. Dulu, orangtua saya menetapkan peraturan untuk anak-anaknya sedemikian tertib. Termasuk pilihan sekolah mana yang harus ditempuh. Hingga partai politik apa yang mesti saya coblos.

Dari usia SD-SMP, saya manut. Namun tidak demikian ketika memasuki jenjang SMA. Saya tidak lagi menjadi anak penurut, yang akan selalu bilang “inggih, sendika dhawuh!”. Apalagi saat itu, saya berkenalan dengan Kahlil Gibran, penyair Libanon yang menyoal hakikat anak.

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu

Mereka adalah anak-anak kehidupan

Kau bisa berikan kasih sayangmu

Tapi tidak pikiranmu    

Syair Gibran yang provokatif, dan itu saya pegang hingga jauh kemudian Rakai lahir. Meski orangtua saya saat itu juga tak kurang dalil, ketika saya menggugat pola asuhnya. Mereka berdalih, dengan merujuk sabda Nabi saw., “justru kami, orangtua, bertanggungjawab menentukan apakah kamu akan menjadi Islam, Nasrani, atau Majusi!”

Teringat dengan dalih orangtua, acap pula saya ragu untuk benar-benar mengumbar anak. Membiarkan mereka tanpa sedikit pun rambu dari kita, orangtua. Akhirnya, efek dari berjejaring di media sosial, facebook, saya menemu gagasan Charlotte Mason. Lebih jauh kemudian, Oktober 2016, saya memperoleh buku Cinta Yang Berpikir karya Ellen Kristi. Saya dapati istilah masterly inactivity. Belum 100% dong, memang, tapi lumayan mengurai kabut pilihan: anak dididik dalam panduan disiplin ketat atau sebaliknya dibebaskan los dol. Dan, Charlotte tegas: tidak dua-duanya!

Sekali lagi, meski saya masih tertatih-tatih, tapi prinsip pendampingan yang diurai Charlotte itu jauh lebih masuk akal ketimbang pola asuh yang bak dewa, bahwa orangtua tidak boleh menunjukkan rasa tidak setuju pada anak. Bahwa orangtua mesti mengiakan setiap dambaan anak, dan berkata semanis mungkin “silakan!”. Dan di kutub yang berseberangan, juga bukan macam orangtua yang bebas membentak, asal melarang, atau boros meluncurkan kata “jangan!”.

Bagaimana itu? Masterly inactivity. pola pendampingan yang manusiawi banget. Orangtua bak bermain layang-layang, menarik-ulur benang agar sang anak sanggup terbang melayang ke ketinggian menggapai kemuliaan. Orangtua seyogianya tak menyimpan perasaan cemas berlebihan pada anak, selagi mengimani prinsip “chiildren are born persons.” Orangtua membiarkan anak bermain berdasar inisiatifnya sendiri. Membiarkan anak berjam-jam melakukan apa yang diangankan terhadap batu, ranting, rerumputan, tanah, pohon, termasuk juga kepada rekan sepermainan, begitu seterusnya dan sebagainya.

Pernah, suatu tempo, Klub CMid Semarang, kumpulan para orangtua yang mencobapraktikkan metode Charlotte Mason, berkemah di lereng Gunung Ungaran. Dan, di siang yang terik, saya bersama para orangtua duduk mengobrol di bawah rindang pinus, seraya peluh terus mengucur dari punggung-punggung kami. Anak-anak bermain bebas. Mereka berinisiatif sendiri tanpa komando dari kami, orangtua, bermain kejar-kejaran. Ada yang mengumpulkan ranting dan bermain tanah.

Saya larut dalam obrolan dengan para bapak—para mak juga bikin kalangan sendiri merumpikan entah apa—sembari celingukan mengawasi Ahimsa dan Rakai. Dalam hati saya terus-menerus membatinkan mantra “masterly inactivity, masterly inactivity!” Hal itu saya lakukan untuk mengerem ocehan dan cerewet tak penting yang bisa saja tiba-tiba meluncur menimpa baik Ahimsa maupun Rakai.

Saya harus bisa menahan diri. Saya harus benar-benar yakin, anak memiliki kemampuan secara alami untuk mengamankan diri. Anak berkemampuan menajamkan daya perhatian. Menentukan sendiri pilihan-pilihan permainan, serta merangkai pelajaran yang diperoleh dari pengalaman berkemah.

Namun, tetap saja, perasaan gundah itu datang meneror secara tiba-tiba. Ia menggugat, atau lebih tepatnya mempermainkan, keyakinan saya tentang keajaiban dan keunikan setiap anak. Ketika saya mengedarkan pandangan dan menemukan Rakai yang hanya duduk terdiam di atas bongkahan batu kecil, sontak saya risau “kenapa dia?” Padahal teman-temannya masih mengasyiki permainan. Pun begitu ketika melihat kakaknya, Ahimsa, yang justru malah menenggelamkan diri bersama buku, otak mamalia saya seketika bergelegak dan pengin menghardiknya, agar ia turut main bersama teman-teman yang lain .

Lagi-lagi mantra sakti “masterly inactivity” yang menyelamatkan saya dari dominasi otak emosi. Bahwa kesadaran untuk tidak boros ocehan, lantaran percaya dan (sekaligus) respek terhadap anak, lamat-lamat menggiring saya untuk waspada dari sergapan perasaan “gimanaaa…gitu” dan cepat-cepat menambatkan diri ke neokorteks, otak rasional.

Demikian akhirnya, saya menangkap kesan bahwa masterly inactivity, tak lain adalah konsep untuk mendewasakan diri, baik anak maupun orangtua. Anak akan bebas berekspresi dan berlatih menerima kenyataan. Bahwa kenyataan tak selalu lurus dengan harapan. Pun orangtua mesti benar-benar sanggup menempatkan diri secara tepat, saat mendampingi anak. Sabar tapi tidak cuek.

Begitu kira-kira!

Supardi Kafha
Latest posts by Supardi Kafha (see all)

Pos terkait