Scroll untuk baca artikel
Blog

Marie Edwards Walker: Pionir di Bidang Kedokteran dan Feminisme

Redaksi
×

Marie Edwards Walker: Pionir di Bidang Kedokteran dan Feminisme

Sebarkan artikel ini

“Biarkan generasi tahu bahwa perempuan berseragam juga menjamin kebebasan mereka.”Marie Edwards Walker

BARISAN.CO – Marie Edwards Walker lahir di Oswego, New York pada 26 November 1832. Anak bungsu dari lima bersaudara ini dikenal sebagai pionir Amerika di bidang kedokteran dan feminisme.

Ayahnya, Alvah Walker mempelajari ilmu kedokteran sebagai hobi dan untuk kesehatan pribadi. Alvah percaya sebagian besar pakaian perempuan di awal abad kesembilan belas merusak kesehatan mereka. Oleh sebab itu, dia tak ingin putrinya mengenakan korset atau pakaian ketat lainnya dan menjadi dasar keyakinan kuat bahwasanya perlu adanya reformasi terhadap pakaian perempuan.

Hal itu yang mendorong Marie bercita-cita sebagai seorang dokter setelah membaca banyak teks yang dimiliki oleh ayahnya tersebut. Agar bisa kuliah, Marie mengajar di sekolah. Dia menjadi satu-satunya perempuan di kelas dan lulus tahun 1855 dari Syracuse Medica College.

Setelah menikah dengan sesama mahasiswa sekolah kedokteran, Albert Miller, Marie dan suaminya membuka praktik bersama. Sayang, itu tidak berhasil karena karena masyarakat enggan menerima dokter perempuan.

Dalam keseharian, Marie mengenakan rok pendek atau celana panjang daripada gaun pengantin tradisional. Baginya, pakaian tradisional perempuan tidaklah nyaman, menghambat langkahnya, dan menyebarkan debu serta kotoran.

Perjuangan Marie sebagai Dokter Bedah Perempuan

Pada awal Perang Saudara Amerika, Marie mengajukan diri bergabung dengan Union Army di Washington. Dia ditolak mentah-mentah oleh komisi sebagai petugas medis, tetapi dia mendapat posisi sebagai ahli bedah sukarela yang tidak dibayar di RS. Paten Washington yang juga dikenal sebagai Rumah Sakit Indiana karena sebagian besar pasukan Indiana ditempatkan di sana.

Di tahun 1862, dia bekerja sebagai ahli bedah lapangan sukarela di dekat garis depan di Fredericksburg dan Chattanooga. Selama perang, Marie mengenakan pakaian laki-laki. Dia menyebut itu membuat pekerjaannya lebih mudah.

Setahun setelahnya, Marie mejadi ahli bedah pertama Angkatan Darat AS setelah ditugaskan sebagai asisten ahli bedah kontrak di Angkatan Darat Cumberland. Saat menjadi asisten ahli bedah di Infanteri Ohio ke-52, Marie secara rutin melewati perbatasan demi merawat warga sipil. Di sebuah perampokan yang terjadi pada 1864, Marie sedang dalam perjalanan membantu warga yang terluka dan sakit. Tetapi, dia ditahan oleh pasukan Konfederasi karena dianggap sebagai mata-mata.

Seragamnya dilucuti dan pistolnya pun diambil. Saat di dalam penjara, Marie terus-menerus menolak mengenakan pakaian tradisional. Menghabiskan waktu empat bulan di penjara Castle Thunder, Marie dibebaskan dalam pertukaran tahanan.

Setelah bebas, Marie kembali ke Ohio 52nd, dia menjadi perempuan pertama tang ditugaskan sebagai ahli bedah di Angkatan Darat AS. Kemudian, selama enam bulan, marie menjadi kepala ahli bedah di RS. Penjara Perempuan Louisville dan panti asuhan yatim piatu di Tennessee.

Penghargaan Medali Kehormatan

Setelah perang berakhir, Marie dianugerahi pensiun militer karena atrofi otot yang dideritanya ketika berada di penjara. Atas rekomendasi Mayor Jenderal Sherman dan Thomas, meski Marie seorang warga sipil yang belum pernah menjadi perwira dalam dinas militer, Presiden Andrew Johnson menandatangani Undang-Undang pada 11 November 1865 untuk memberinya Medal of Honor Meritorious Service.

Presiden Andrew menyampaikan pengabdian dan jiwa patriotik Marie luar biasa hingga merugikan kesehatannya sendiri dan kesulitan yang ia alami saat menjadi tawanan perang. Sehingga, berdasarkan UU yang ada, meski bukan perwira yang bertugas dalam dinas militer, Marie pantas mendapatkan medali kehormatan.

Namun, amat disayangkan, mengutip Military, standar untuk Medali Kehormatan direvisi, Marie menjadi salah satu dari 900 penerima yang dibatalkan. Standar baru tahun 1917 itu menetapkan kriteria untuk memperoleh penghargaan tertinggi negara harus bertempur langsung dengan musuh. Tentu saja, Marie tidak memenuhi syarat standar baru tersebut.