Masih Ada Sisa Kelompok

  • Whatsapp
Kelompok Ali bin Abi Thalib
Ilustrasi: Kaskus

PEREBUTAN akan sumber daya ekonomi dan politik di mana-mana acap kali merenggut nilai kemanusiaan. Tak sedikit yang berakhir dengan pertumpahan darah. Tak terkecuali di dunia Islam.

Usai Umar ibn Khattab meninggal, Utsman ibn Affan naik sebagai pengganti, meneruskan kebijaksanaan-kebijaksaan Umar tetapi dengan kemampuan kurang.

Bacaan Lainnya

Bahkan Utsman menunjukkan kecenderungannya yang mengangkat para kerabat keluarga sebagai pembantu mengurus pemerintahan. Sehingga banyak orang mulai mengeluhkan kecenderungan yang nepotisme itu. Dan sejarah mencatat, karir politik Utsman pun berujung tragis.

Utsman meninggal, tahun 656, terbunuh di rumah sendiri oleh umat Islam. Umat kecewa dengan kebijakan-kebijakan Utsman yang berlaku nepotis.

Meskipun Utsman merupakan salah seorang yang pertama masuk Islam, ia berasal dari Keluarga Bani Umayyah, yang kebanyakan di antaranya kerap menentang Muhammad saw. hingga menjelang menit terakhir.

Dan kebijaksanaan Utsman yang justru memberi rekan-rekan dari Bani Umayyah sebuah tempat posisi tertinggi di pemerintahannya, sontak menyulut protes. Ali ibn Abi Thalib salah seorang yang menentang kebijaksanaan Utsman.

Kemudian para penentang, sebagian besar orang-orang Madinah, mengangkat Ali ibn Abi Thalib secara aklamasi menggantikan Utsman. Namun, semenjak Ali menjadi khalifah keriuhan umat Islam malah menjadi-jadi.

Kubu Muawiyah, yang Bani Umayyah, menuntut Ali untuk mengungkap targedi pembunuhan yang menimpa Utsman. Bahkan Aisyah, istri Nabi, turut menyerukan balas dendam atas kematian Utsman dan menyerang Ali karena tidak menghukum para pemberontak yang membunuh Utsman.  

Menghadapi tekanan Aisyah dan penduduk Madinah yang tak sepaham dengan gerakan penentangan, Ali ibn Abi Thalib menarik diri dan memindahkan ibukota ke Kufah. Sementara para penentang Utsman menjadi pendukung Ali yang paling bersemangat.

Di Kufah, terbebas dari perundungan masyarakat Madinah, Ali ibn Abi Thalib malah masuk semakin dalam pertikaian dengan Muawiyyah ibn Abi Sufyan. Gubernur Siria ini tidak mengakui Ali sebagai Khalifah pengganti Utsman.

Muawiyyah menuntut penuh balas dendam bagi Utsman. Lantas pertumpahan darah sesama muslim pun tak terelakkan. Dua kelompok besar muslim itu bertempur di Shiffin, di tepi Sungai Eufrat.

Dan, tidak salah akhirnya, sekira kita membaca perang Shiffin itu sebagai peperangan antara dua klan Suku Quraisy, Bani Hasyim berhadapan dengan Bani Umayyah. Ali ibn Abi Thalib, termasuk Nabi sendiri, adalah dari Bani Hasyim.

Sementara Muawiyyah, Abu Sufyan—yang masuk Islam belakangan—adalah keluarga Bani Umayyah. Utsman ibn Affan termasuk dari keluarga ini.

Tercatatlah peristiwa itu sebagai sejarah buram Islam periode awal. Sebuah perang yang melibat banyak sahabat utama, dan memakan ribuan korban di kedua belah pihak.

Perang antara kubu yang awal masuk Islam berhadapan dengan kelompok yang belakangan menganut Islam. Dan, sebagai petualang politik, yang berkarib dengan tradisi Persia, Muawiyyah menyadari akan kekalahan telak jika pertempuran terus berlanjut.

Ia dan pasukan Siria meletakkan al-Quran di ujung tombak-tombak mereka dan meminta diadakan arbitrase berdasar firman Tuhan. Ali dan Sebagian besar pengikutnya pun menerima.

Namun, ada beberapa tantara Ali yang membelot dan menuduh Ali berkompromi dengan para pendukung ketidakadilan dan dengan begitu mengkhianati kepercayaan.

Mereka menganggap Ali telah membenarkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan Utsman. Kelompok ini kemudian dikenal dengan sebutan khawarij, orang-orang yang keluar dari barisan. Mereka memilih pimpinan mereka sendiri, terlepas dari kaum muslimin yang lain.

Nah, ketika arbitrasi terjadi, pada tahun 658, mediator Ali: Abu Musa al-Asy’ari, gubernur Kufah. Mediator Muawiyyah adalah ‘Amr ibn al-Ash, penakluk Mesir. Di pengikut Ali terpecah menjadi Partai Ali (Syiah) dan Partai Khawarij.

Sementara Muawiyyah berkesempatan meluaskan wilayah dan mendapatkan Mesir. Dan hasil keputusan dua mediator, secara sepihak lantaran “kepolosan” Abu Musa menyerahkan kekosongan pemerintahan kepada ‘Amr ibn Ash. Langsung Muawiyyah memproklamirkan dirinya sebagai khalifah di Yerusalem.

Kemudian, sebagai kelompok yang berlepas dari Ali, khawarij merasa harus cepat menuntaskan persoalan. Mereka beranggapan baik Ali maupun Muawiyyah adalah penanggung dosa besar, dan harus dibunuh.

Maka, pada pagi subuh, tahun 661, Abdurrahman ibn Muljam berhasil menikam Ali ibn Abi Thalib Ketika sedang mengimami salat di Kufah. Sementara Muawiyyah, yang bernaluri politik, bisa membaca gelagat gerakan Khawarij secara cermat plus tepat. Ia berhasil mengkonsolidasikan kekuatan umat Islam, sehingga selamat dari pembunuhan.

Alhasil, ketegangan politik, dan perebutan sumber daya ekonomi, semenjak Utsman serta pertikaian Ali versus Muawiyyah, kemudian meluas menjadi perpecahan khawarij, kubu Ali (syiah), dan kubu Muawiyyah, sekali lagi menjadi penggalan sejarah Islam yang teramat memilukan.

Perebutan yang sungguh sayang, telah mengalihkan energi umat dari pengembangan peradaban. Beruntunglah masih ada sisa kelompok yang fokus terhadap intelektual. Kelompok kecil yang tidak terlibat silang sengkarut perpecahan kekuasaan, rebutan harta, dan saling bunuh.

Adalah Abdullah ibn al-Abbas, dan Abdullah ibn Masud, kelompok minoritas yang fokus menulis dan menafsirkan al-Quran. Kelompok yang memelihara semangat ajaran Rasul saw. untuk memberadabkan dunia dengan pancaran ilmu dan hikmah.

Ya, beruntung masih ada sisa kelompok yang mengarah kepada peradaban mulia.

Ungaran, 23/12/2020

Supardi Kafha
Latest posts by Supardi Kafha (see all)

Pos terkait