Scroll untuk baca artikel
Pendidikan

Membangun Komunikasi Posisif dengan Anak

Redaksi
×

Membangun Komunikasi Posisif dengan Anak

Sebarkan artikel ini

Membangun komunikasi positif dengan anak, seperti bagaimana berbicara secara efektif, hindari  pengulangan intruksi  untuk satu pekerjaan yang perlu dilakukan anak.

BARISAN.CO – Komunikasi adalah penyampaian informasi dari satu orang ke orang lain. Komunikasi dapat bersifat verbal, misalnya satu orang berbicara dengan orang lain, atau bisa juga non-verbal, misalnya cemberut, senyum  wajah seseorang yang mungkin akan membuat orang lain tahu bahwa dia sedang marah atau senang.

Mengapa Komunikasi itu penting?

Komunikasi  membangun pemahaman dan kepercayaan. Ketika orang tua atau pengasuh saling memahami dan percaya, Anda semua akan lebih mampu bekerjasama untuk mendukung kesejahteraan dan perkembangan anak-anak. Inilah sebabnya mengapa komunikasi yang efektif adalah  kunci untuk membangun dan memelihara kemitraan yang positif dengan orang tua dan wali .

“Bagian terbesar tugas orangtua adalah mengajarkan anak berpikir”

Ada beberapa  situasi yang perlu setiap orangtua sadari dalam menyikapi perilaku anak. Beberapa kondisi yang terjadi,  beberapa sikap anak yang muncul, dan beberapa perilaku yang secara tidak disadari terbentuk dalam diri anak, adalah akumulasi pola asuh dan pola didik. Oleh karenanya menyikapi situasi tertentu menjadi salah satu jalan membentuk perilaku anak sepanjang pertumbuhannya.

Anak yang tidak sengaja memecahkan vas bunga di ruang  tamu, tidak menunjukkan bahwa sebenarnya anak tersebut senang merusak. Bagaimana Anda sebaiknya merespon kejadian tersebut?

Anda mungkin bisa mengatakan, “kok kamu pecahkan vas bunganya? Itu kan mahal!”, “Ya ampun, kenapa bisa pecah? Kamu sudah lakukan hal yang buruk!”.

Kemudian situasi ketika orangtua menemukan anak-anak yang sedang melompat-lompat di atas sofa. Sebagai orangtua, Anda bisa saja mengatakan, “

Komunikasi yang dilakukan  bersifat konstruktif, efektif, suportif dan diwarnai dengan emosi yang baik.

Komunikasi Positif dengan Anak

Bagaimana orangtua membangun komunikasi yang positif dengan anak?

1. Berbicara secara efektif, hindari  pengulangan intruksi  untuk satu pekerjaan yang perlu dilakukan anak. Orangtua cukup mengatakan: “Sudah jam 10, Ade harus tidur sekarang.” Daripada menggunakan kalimat: “Sudah jam 10 de, Ayo, masuk ke kamar, terus Ade tidur yaa, ayo segera tidur.”

Orangtua cukup mengatakan; “Silahkan buang bungkus makanannya ke tempat sampah “. Daripada mengatakan; “Itu sampahnya dibuang dong, ayo jangan ditinggal di situ, dibuang plastiknya”.

2. Warnai dengan emosi yang baik, misalnya pujian, kata yang bermanfaat, sikap menghargai, menyenangkan, membesarkan hati, tidak berteriak, tidak dengan kata negatif, tidak melabel.

Membangun komunikasi dengan anak secara positif bukan hanya berbicara secara verbal, tapi juga menguatkannya dengan bahasa non verbal; ekspresi atau raut wajah yang ramah, hal ini akan membantu anak dalam memahami situasi, belajar berpikir dan mengembangkan kemampuan responsif.

3.  Jadilah pendengar yang baik. Dalam menjalankan komunikasi positif, orangtua sebaiknya mampu menjadi pendengar yang baik untuk anak. Salah satu kegagalan komunikasi adalah minimnya keterampilan mendengarkan.

Setiap orang mau berbicara, menyampaikan keinginan atau pendapatnya, namun sulit memberikan perhatian dan mendengarkan.  Berikut tujuh keterampilan mendengarkan yang perlu dimiliki dan dikembangkan oleh orangtua dalam membangun komunikasi positif dengan anak:

  1. Perhatikan ucapannya. Di sini komunikasi dibangun dengan memberikan segala perhatian antara orangtua dengan anak. Tatap wajahnya, perhatikan mata anak saat dia berbicara dan respons sambil menghadap wajahnya, tidak sambil menengok ke arah lain, tidak sambil menelepon atau menatap layar gadget.
  2. Tanyakan dengan pertanyaan terbuka. Ini adalah salah satu metode menggali informasi lebih mendalam tentang apa yang dirasakan dan dingini oleh anak dalam berinteraksi. Alih-alih orangtua bertanya tentang apa yang dilakukan anak, atau meminta anak diam saat ia merengek. Orangtua sebaiknya berdialog dengan bertanya apa yang ia harapkan dari situasi tersebut, bagaimana sebaiknya yang perlu dilakukan agar masalahnya teratasi tanpa harus merengek.
  3. Ajukan pertanyaan menyelidik. Ini dimaksudkan untuk membangun kemampuan anak berkata sesuai faktanya. Mengomunikasikan kejadian berdasarkan yang dialaminya.
  4. Minta klarifikasi. Dalam hal klarifikasi, orangtua sesungguhnya memberikan kesempatan bagi anak untuk membangun pemahaman dirinya terhadap setiap kejadian atau permasalahan. Di sini juga orangtua melatih anak berpikir rasional dan menghindari cerita yang tidak sesuai, sehingga anak kesulitan mengatakan yang sesungguhnya.
  5. Lakukan paraphrase. Pada kegiatan ini orangtua membantu anak menjelaskan dengan pernyataan yang lebih simpel, atau mudah dipahami oleh orang lain dari perkataannya, atau dari cerita yang ingin disampaikan oleh anak. Karena kadang orangtua sering mengalami kesulitan maksud perkataan anak, sehingga diperlukan kalimat yang disederhanakan atau dibuat lebih jelas dari ungkapan anak.
  6. Selaraskan untuk mereflesikan perasaan. Orangtua dalam posisi ini hendaknya mampu memberikan sikap positif ketika menanggapi ucapan anak. Tangkap perasaan yang sesungguhnya dari anak, kemudian tunjukan empati atau perhatian dengan menyelaraskan diri dalam percakapan.
  7. Ringkaskan. Dalam praktik keterampilan mendengar ini, orangtua membantu anak menyederhanakan cerita, keluhan yang kalimatnya tidak jelas atau tidak relevan. Jika redaksi kalimatnya cukup panjang, maka orangtua perlu menyederhanakan dengan meringkas kalimat menjadi ungkapan yang mudah dipahami dan jelas. [Luk]