Scroll untuk baca artikel
Kontemplasi

Membudayakan Pancasila

Redaksi
×

Membudayakan Pancasila

Sebarkan artikel ini

MEMBINCANG pendidikan hari-hari ini akan berhadapan dengan isu perkembangan industri 4.0. Hampir semua bergempita dengan revolusi industri ini. Rumusan visi dan misi lembaga sekolah pun diarahkan kepada kesiapan menghadapi konsekuensi revolusi tersebut.

Padahal, ungkap Yudi Latif, “fenomena perluasan industri 4.0 memang harus diantisipasi dan disiapkan kerangka tanggapannya, namun tidaklah berarti bahwa prinsip-prinsip pendidikan selama ini otomatis kedaluwarsa dan harus ditinggalkan.”

Betapa pendidikan tidak otomatis berkorelasi dengan penyiapan tenaga siap pakai. Betapa pendidikan tidak semestinya berbasis tantangan dan ancaman. Namun, sedianya sebagai pemasok gagasan besar dan luhur.

Pendidikan adalah harapan kelahiran pribadi berkualitas yang bersesuaian dengan kodrat insani. Pendidikan itu menggali karakter pembelajar generalis yang mampu berpikir merdeka dan inovatif. Sanggup berpikir strategis dengan pemikiran holistik.

Singkat kata, Ki Hadjar Dewantara, sebagaimana tulis Yudi Latif, merumuskan prinsip pendidikan sebagai “proses belajar menjadi manusia seutuhnya dengan mempelajari dan mengembangkan kehidupan sepanjang hidup.”

Nah, bicara “manusia seutuhnya” berarti mendiskusikan kualitas manusiawi. Kualitas manusiawi adalah kapabilitas.

Dan, kapabilitas dasar yang harus disemai dalam proses pendidikan adalah kelenturan menyesuaikan diri dengan angin perubahan, sekaligus kepemilikan akar kuat agar tidak mudah roboh diterjang angin. Yang pertama adalah daya kreatif-inovatif. Yang kedua ialah daya karakter.

Dan, setidaknya, mengikuti Peter H. Diamandis, ada lima karakteristik untuk menumbuhkan daya kreatif-inovatif.

Pertama, jiwa sungguh mencintai terhadap apa yang dirasa sebagai bakat, minat, pilihan, dan impian. Kedua, rasa ingin tahu dengan memfasilitasi proses eksperimen dan penemuan. Keterampilan bertanya, mendesain eksperimentasi, mengumpulkan data, dan merumuskan kesimpulan.

Ketiga, keliaran imajinasi. Keempat, pikiran kritis. Dan, kelima, keteguhan hati.

Perihal daya karakter, Yudi Latif merangkum sembilan nilai inti karakter yaitu: keberanian, keadilan, kebaikan hati, rasa terima kasih, kebijaksanaan, mawas diri, rasa hormat, tanggung jawab, dan pengendalian diri.

Berlandas dua kapabilitas tersebut, daya kreativitas-inovatif dan daya karakter, niscaya pembenahan mendasar atas silang sengkarut kurikulum pendidikan semenjak orde Soeharto berkuasa hingga belakangan ini bisa dipenuhi.

Pertama, pembenahan di tingkat menengah pertama, bahwa seyogianya rumpun ilmu baru mulai diperkenalkan, untuk persiapan menghadapi pelajaran sesungguhnya di menengah atas. Karena sekolah yang sebenarnya, dalam arti mendalami keilmuan dimulai pada tingkat sekolah menengah atas.

Kedua, di tingkat perguruan tinggi, orientasi pendidikan sebagai pilar dalam mendukung pembangunan nasional. Sehingga kurikulum diarahkan ke sana. Ketiga, untuk pendidikan dasar, cukup dengan pemenuhan kebutuhan dasar pengembangan keutuhan kemanusiaan. Bahwa pendidikan adalah proses belajar memanusiawikan manusia tatkala pikir, rasa, karsa, dan raga, berkembang.

Sehingga, kurikulum pendidikan dasar harus memberi perhatian pada olah pikir lewat pembelajaran membaca, menghitung, menutur, menulis.

Budaya baca itu penting, mengingat terpaan media digital yang kian darurat, yang mendangkalkan, serba ringkas, dan instan. Sehingga, sekolah harus menyediakan bahan-bahan bacaan bermutu sastrawi, dan siswa bebas membaca atas pilihannya sendiri. Kemudian, siswa dilatih untuk menuturkan apa yang ditangkap dari bacaan.