Scroll untuk baca artikel
Kisah Umi Ety

Mengembangkan Rasa Ingin Tahu Anak [Bagian Dua]

Redaksi
×

Mengembangkan Rasa Ingin Tahu Anak [Bagian Dua]

Sebarkan artikel ini

“Kenapa banyak uap air?” lanjutnya. Dijawab apa pun akan terus bertanya. Oleh karena sudah terbiasa, saya berupaya bersiap menjawab berbagai pertanyaan lanjutannya. Tentu saja diusahakan memakai kata dan kalimat yang relatif mudah atau sederhana.


SEMUA anak saya suka bepergian dengan kereta. Bahkan, Adli dan Akram sering diajak abahnya bepergian naik kereta lokal ke Klaten atau Solo, pulang pergi. Hanya untuk menikmati perjalanan saja, tanpa bermaksud berkunjung ke suatu tempat lainnya.

Akram tampak paling antusias jika melakukan perjalanan dengan kereta api. Dia senang melihat-lihat pemandangan di luar dan sering menanyakan banyak hal. “Itu apa? Mereka sedang apa? Kenapa?” Saya selalu berusaha menjawabnya. Kadang, abahnya membantu memberikan jawaban.

Pada suatu ketika, kami sekeluarga dalam perjalalanan pulang naik kereta api sehabis berlebaran di rumah kakek neneknya di Jakarta.  Akram yang kala itu masih duduk di TK-A, masih sering bertanya sepanjang perjalanan. Sekitar jam 9 malam, ketika kami mengira dia telah mengantuk karena sempat terdiam sesaat.

Ternyata tiba-tiba dia kembali bertanya, “Kenapa keretanya berhenti?” Rupanya terdiam karena merasa kereta tidak bergerak. “Karena ada kereta lain yang mau lewat,” jawab saya.

“Kok kereta yang itu [yang lewat] jalannya ke sana [berlawanan arah]?” Saya jelaskan, “Kereta itu mau ke Jakarta. Kereta kita pergi dari Jakarta. Biar tidak bertabrakan, kereta kita berhenti dulu. Memberi jalan kereta yang itu”

Malam beranjak larut, Akram masih belum mau tidur. Seolah dia menunggu kereta lain yang akan berpapasan.

Kebetulan ada kereta lain yang lewat, ketika kereta kami berhenti, tetapi searah. Hal ini tidak luput dari perhatiannya dan ditanyakan. “Kok yang searah tidak bareng aja jalannya?” Saya duga dia membayangkan mobil atau motor yang berjalan agak berdampingan.

Saya jelaskan bahwa jalan kereta berupa rel cuma satu, bercabang menjadi beberapa rel hanya di sekitar stasiun dan beberapa tempat. Tentu saja ini kondisi perkeretapian tahun sekitar dua dekade lalu. Kereta searah yang melewati kami pun karena perbedaan kelas kereta kala itu, kami biasa naik kereta ekonomi atau bisnis saja.

Oleh karena Akram belum mau tidur dan masih terus bertanya, saya melanjutkan perbincangan. Memberi tahu jika kereta berlawanan arah disebut crashing, sedangkan yang searah disebut passing.

Rupanya, perbincangan menarik perhatian kakak-kakaknya yang semula asyik membaca. Mereka pun menjadi terus berbincang soal kereta. Akram yang masih penasaran dengan beberapa istilah baru terus bertanya pada kakaknya, yang menjelaskan dengan senang hati.