Scroll untuk baca artikel
Kontemplasi

Menimbang Posisi Pilihan Tuhan

Redaksi
×

Menimbang Posisi Pilihan Tuhan

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Saya termasuk jenis manusia yang lambat paham. Saya tak segera mengerti ungkapan, “Keinginanmu untuk ber-tajrid, ketika Allah menempatkanmu dalam asbab, berasal dari syahwat yang samar. Dan, keinginanmu terhadap asbab, ketika Allah menempatkanmu dalam tajrid, merupakan kemunduran dari kehendak yang tinggi.”

Saya baca berulang kali untaian hikmah Syekh Ibnu ‘Athaillah itu. Baru kemudian, setelah mendapat terjemahan Kitab Al Hikam Al Athaiyyah: Syarh wa At Takhil, karya Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi, lumayan terang. Sehingga, baca terjemahan al-Hikam yang lain pun serasa dimudahkan. Mudah-mudahan keseluruhan kitab karya Syekh Said al-Buthi ini, tak selang lama, diterjemahkan semua ke dalam Bahasa Indonesia. Saat ini baru jilid pertama yang diterjemahkan. Dan setiap jilid, konon berhalaman sekitar 400-an. Padahal ada lima jilid.

Adalah dua kondisi yang dihadapi manusia. Pertama, manusia yang bingung di bawah kendali, yang mengharuskannya melakukan usaha lahiriah. Itulah kondisi asbab, usaha-usaha lahiriah. Dan, kedua, manusia terasing dari kondisi usaha-usaha lahiriah dan tidak menemukan jalan ke sana. Manusia jenis ini di tempatkan Allah untuk lepas dari usaha lahiriah. Itulah kondisi tajrid.

Nah, Syekh Muhammad Said Ramadhan mengamarkan, sedianya kita kaum beriman ini berusaha menjalankan perintah-Nya dengan memperhatikan kondisi di mana Tuhan menempatkan kita. Lebih jelas, sang syekh mencontohkan, sekira seorang pria menjadi tulang punggung keluarganya, dia punya istri dan beberapa anak, maka berarti Allah menempatkannya dalam kondisi asbab.

Tuhan menghendaki sang pria itu tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk keluarga. Memberikan kehidupan yang sejahtera untuk keluarga. Mendidik anak-anak, baik secara fisik, kejiwaan, dan intelektual.

Sehigga, kala si pria itu berpikir untuk berpaling dari usaha-usaha lahiriah, untuk menghidari kewajiban mencukupi keluarga, sama artinya ia berakhlak buruk. Berarti ia menuruti syahwatnya, meski samar. Ia mundur dari tekad yang luhur.

Kenapa samar? Bayangkan, sekira Allah berfirman, “Jalanmu merawat keluargamu dengan melakukan usaha-usaha lahiriah.” Jika kemudian sang pria membantah, “Tidak, aku pengin langsung mengetuk pintu-Mu saja,” sontak Allah menjawab, “Lupakan meloncat langsung mengetuk pintu-Ku! Jangan lari dari tanggungjawab! Tapi pergilah berdagang ke pasar! Pergilah bekerja! Karena itulah ladang ibadahmu.”

Lain cerita misal, sang pria belum memiliki tanggungan untuk mengurus istri, anak-anak, dan keluarga dekat, sedangkan ia berangkat dari keluarga mapan, maka pilihan Allah buat dia adalah mendalami agama, berkhidmat untuk syariat-Nya.

Ia menjalani laku tajrid. Sebaliknya, jika sang pria itu justru memilih untuk bermalas-malas karena sudah mapan, lebih memilih untuk hanya menghabiskan hidup dengan makan, minum, bermain-main, dan tidur, sembari menunggu ajal, berarti ia sekelas binatang. Berarti terjadi kemunduran dari kehendak menjadi manusia yang mulia.  

Ulasan Syekh Zarruq menandaskan, “Allah menuntut darimu untuk berada di tempat yang Dia tetapkan hingga Dia sendirilah yang mengeluarkanmu sebagaimana Dia memasukkanmu. Hal yang penting bukanlah bagaimana kau meninggalkan asbab, melainkan bagaimana kau ditinggalkan oleh asbab.”

Karena nyatalah, begitu kita ditinggalkan asbab, berarti tidak lagi menetapi asbab, yang berarti pula semestinya kita bersyukur diposisikan dalam tajrid. Ingat, tajrid  adalah keadaan seseorang yang meninggalkan asbab. Tajrid ialah meninggalkan semua hal yang menyibukkan anggota badan dan hati selain hanya untuk ketaatan dan mengingat Allah. Sebaliknya, asbab adalah keadaan seseorang yang melakukan berbagai upaya lahiriah untuk mencapai tujuan.

Sementara syahwat itu sendiri adalah gejolak nafsu untuk meraih apa yang diinginkan. Sehingga, dikatakan “Keinginanmu untuk ber-tajrid, ketika Allah menempatkanmu dalam asbab, berasal dari syahwat yang samar.” karena gambaran sesuatu yang diinginkan, yakni tajrid, lebih disebabkan oleh dorongan untuk mendapatkan kebebasan dari tanggungjawab berikhtiar. Lari dari jerih upaya.

Seturut kemudian, Syekh Ibnu Ajibah mengungkapkan, “Allah mencegah seseorang dari tajrid disebabkan ketamakan nafsunya terhadap tajrid. Karena jika nafsu tamak pada suatu perkara, maka perkara itu menjadi ringan untuknya. Perkara yang ringan untuk suatu nafsu berarti tidak ada kebaikan di dalamnya. Maka, jangan ber-tajrid saat kamu kuat, sampai kekuatan itu berlalu, jika kamu ingin menguasai nafsumu.”

Kembali kepada penjelasan Syekh Said Ramadhan soal perkara ini, beliau mencontohkan, ada sekelompok orang menuju baitullah untuk berhaji. Sebagian dari mereka, memang bebas dari ikatan, beban, dan tanggung jawab duniawi. Sehingga, mereka bisa menjalani ibadah haji sepenuh hati. Mereka ini berkondisi tajrid. Ada pula, sebagian merupakan para dokter yang mesti berjaga untuk mengatasi kesehatan jamaah haji.

Kelompok ini menggeluti usaha-usaha lahiriah, menjaga kesehatan dan mengobati jamaah yang sakit. Mereka berperan dalam asbab. Jika saja, yang sedang memikul tanggung jawab sebagai tim medis itu melalaikan tugasnya, misal lebih memilih menghabiskan waktu untuk tawaf, sai, dan salat-salat sunah, membaca al-Quran, dan seterusnya, maka, bisa dipastikan justru syahwatlah yang bekerja, bukan demi Allah.

Singkatnya, Syekh Ibnu ‘Athaillah mengajak kita untuk menelisik, sedang dalam kondisi apakah kita: tajrid atau asbab? Parameternya gampang, kala kita ditempatkan pada wilayah asbab, kita bisa istikamah menetapi asbab, juga istikamah menegakkan berbagai kewajiban syariat. Maka, bersabarlah, pasrah dan penuh rida. Kemudian, kala kita ditempatkan pada tajrid, niscaya gampang menunaikan kewajiban dan berpaling dari makhluk, berpaling dari keinginan-keinginan sesaat. Maka, bersyukurlah, banyak beramal, dan tidak lalai.

Maka, akhirnya, jika tidak bisa istikamah pada satu sisi, segeralah berpindah pada kebalikannya. Sebab, sekali lagi tanda Allah menempatkan kita pada posisi, entah di asbab, entah pada tajrid, saat kita bisa istikamah dalam posisi itu. Jika masih berpindah-pindah, berarti belum ditempatkan pada posisi yang kokoh.

Demikian pesan Syekh Ahmad Zarruq, dalam ulasan hikmah “Keinginanmu untuk melepaskan diri dari ketergantungan kepada usaha/kerjamu padahal Tuhan masih menghendaki agar engkau tetap berusaha/bekerja, adalah keinginan yang menyembunyikan hasrat diri. Dan, keinginanmu untuk berusaha/bekerja, pada saat Dia mulai membimbingmu untuk intim bersama-Nya, adalah tanda martabat jiwamu jatuh ke titik rendah.”