Scroll untuk baca artikel
Blog

Menjelajahi Lorong Waktu di Kampung Waitabar, Sumba Barat

Redaksi
×

Menjelajahi Lorong Waktu di Kampung Waitabar, Sumba Barat

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO Kekayaan Pulau Sumba bukan hanya keindahan alamnya. Budaya masyarakat setempat yang sarat dengan kearifan lokal juga masih terjaga, hidup di perkampungan adat berdampingan dengan kemajuan zaman.

Kampung adat yang masih mempertahankan istiadat tradisional itu dapat ditemui di beberapa tempat. Salah satunya adalah Kampung Waitabar dan Kampung Tarung, yang berada di satu kawasan secara bersebelahan.

Jaraknya hanya sekitar 15 menit perjalanan dari Waikabubak, ibukota Kabupaten Sumba Barat. Jalan yang dilalui juga tergolong baik meskipun harus menanjak ke bukit.

Pemilihan kampung di ketinggian bukit tidak terlepas dari kondisi zaman dulu yang masih marak dengan pertentangan antarkampung.

Selain memudahkan pengintaian untuk berjaga dari serangan, posisi ketinggian juga menyulitkan musuh yang akan menyerang.

Memasuki Kampung Waitabar dan Kampung Tarung seakan memasuki lorong waktu yang membawa kembali ke zaman dulu. Rumah-rumahnya masih mempertahankan bentuk rumah tradisonal.

Rumah di kampung adat merupakan rumah panggung berbentuk segi empat dengan atap menjulang seperti kerucut.

Rumah adat itu terbagi menjadi tiga tingkatan. Pada tingkat terendah, yang merupakan kolong rumah panggung dimanfaatkan untuk memelihara hewan ternak.

Lantai selanjutnya merupakan ruang utama sebagai hunian. Sedangkan bagian atas, yaitu atap kerucut berfungsi untuk menyimpan benda-benda pusaka dan hasil panen.

Dok. Foto Arbain Nur Bawono

Di bagian dinding depan, lazim ditemui susunan tanduk kerbau. Jumlah tanduk kerbau yang tersusun vertikal menunjukkan seberapa banyak upacara adat yang sudah dilakukan. Setiap upacara adat dilakukan pengorbanan hewan ternak sebagai bentuk penghormatan untuk arwah para leluhur.

Penduduk perkampungan adat masih berpegang pada ajaran asli masyarakat Sumba, yaitu kepercayaan marapu.

Rumah-rumah adat tersebut dibangun berderet mengelilingi sebuah bangunan besar dari batu. Itulah kuburan batu yang berbentuk segi empat besar. Di situlah penduduk yang meninggal dikuburkan, persis seperti ketika masih pada era megalitikum.

Dok. Foto Arbain Nur Bawono.

Di tengah kampung juga masih terdapat sebuah tiang yang disebut adung. Pada masa lalu, tiang itu digunakan untuk menggantung kepala musuh yang menyerang kampung.

Nikmati keramahan penduduk perkampungan adat. Meskipun berpegang pada ajaran yang telah hidup ratusan tahun, penduduk bersikap sangat terbuka kepada pengunjung.

Berbincanglah untuk mendapat informasi tentang adat dan kepercayaan asli masyarakat Sumba.

Jangan lupa, belilah karya kerajinan yang dihasilkan, terutama berupa kain tenun khas Sumba, sebagai penghargaan atas keteguhannya memegang adat istiadat di tengah derasnya kemajuan zaman.

Soal kualitas, jangan ragukan produk yang dikerjakan dengan penuh ketekunan itu. []