BARISAN.CO – Pemuda atau istilah saat ini lebih dikenal sebutan “milenial”, telah menjadi bagian garda terdepan dalam pembangunan bangsa. Tentu, peran pemuda di gadang-gadang membawa perubahan bangsa untuk semakin maju, dan berdaya saing tinggi terhadap perkembangan dunia.
Dalam pertumbuhan jumlahnya, menurut survey kependudukan BPS 2020, Porsi usia kategori pemuda telah menduduki jumlah tertinggi, dibandingkan dengan jumlah usia lanjut. Usia pemuda dalam kategoringya terdiri dari usia Gen Z dan milenial. Selengkapnya, usia Gen Z yaitu mereka yang lahir di tahun 1997 sampai 2012. Usia tersebut menduduki 30% dari total penduduk Indonesia.
Selanjutnya, usia milenial atau masa transisi dari remaja ke dewasa yaitu mereka yang lahir pada tahun 1981 sampai 1996, porsinya sebanyak 24.5% dari total penduduk. Sehingga, dari keseluruhan komposisi yang menduduki wilayah Indonesia yaitu usia pemuda, yang mana lebih dari 50% telah menduduki Indonesia.
Sementara itu menurut BPS, jumlah penduduk yang menduduki usia produktif di Indonesia yaitu sebanyak 70% dari total penduduk. Melansir postur perkembangan data tersebut. Menunjukkan optimism besar terhadap eksposur peran pemuda, agar menjadi barisan perubahan, untuk Indonesia lebih bersaing di kanca dunia.
Proyeksi Pekerja yang Memilih Bergelut di Bidang Teknologi
Di sisi lain, membicarakan perkembangan minat teknologi di Indonesia selalu menunjukkan perkembangan, hal itu dapat di lihat dari minat dan juga jumlah orang yang memilih profesi pada bidang teknologi.
Tabel Proyeksi Peningkatan Jumlah Pekerja di Bidang Teknologi

Dalam tabel proyeksi peningkatan jumlah pekerja di bidang teknologi oleh Kementrian Tenaga Kerja (Kemenaker) pada 18 April 2022, terlihat bahwa minat dan juga peluang penduduk yang memilih bekerja di bidang teknologi semakin meningkat dari tahun ke tahun. Dalam data tersebut pada tahun 2021 jumlah penduduk yang memilih bekerja di bidang teknologi mencapai 1 Jutaan orang, dan selanjutnya pada tahun 2022 terjadi pertumbuhan angka hingga 200 ribuan orang yang memilih untuk bekerja di bidang teknologi.
Selanjutnya, dalam proyeksinya Kemenaker tersebut. Pertumbuhan minat pekerja memilih bekerja dibidang teknologi setiap tahunnya meningkat di angka 200 ribuan, hingga pada tahun 2025 jumlah pekerja yang memilih bekerja di bidang teknologi mencapai 2 Juta lebih.
Fenomena Transformasi Digitalisasi Dunia Industri
Dari berbagai fenomena tersebut, antara jumlah porsi usia milenial, jumlah usia produktif dan proyeksi minat bekerja di bidang teknologi. Harus dijadikan pedoman bahwa pemuda benar-benar menjadi perhatian besar terhadap kemajuan teknologi yang akan membawa perubahan positif terhadap bangsa.
Pasalnya, dewasa saat ini hampir semua industri telah bertransformasi ke ranah digitalisasi. Bahkan hampir di seluruh sektor. Sepeti pada sektor keuangan. Yang sampai saat ini menjamurnya Fintech atau financial teknologi, baik berupa funding menghimpun dana ataupun landing pinyaluran dana.
Bahkan seakan-akan dengan adanya digitalisasi pada industri keuangan, Lembaga keuangan yang masih konvensional dalam operasionalnya menjadi kalah jauh. Baik dalam segi kecepatan akses, maupun dari segi keuntungan yang bisa di dapat oleh nasabah. Sebagaimana contohnya produk investasi pada Fintech atau dikenal P2P Peer to peer
Bunga Peer to peer pada fintech, dikenal lebih memberikan keuntungan bunga yang tinggi, yaitu hampir menawarkan 7%. Rate tersebut sangat tinggi, dari pada rate yang ditawarkan oleh Lembaga keuangan yang bersifat konvensional, seperti bunga deposito pada perbankan, yang saat ini tertinggi hanya di angka 3,5% sesuai dengan ketentuan LPS (Lembaga Penjamin Simpanan).
Sementara itu, di sisi lain industri transportasi juga mengalami perubahan yang derastis, mungkin ojek sebelum hadirnya Go Jek dan juga Grab jauh dari kata industrialisasi, semua masih bersifat tradisionil. Harus menuju kepangkalan ojek untuk bertemu tukang ojek. Namun sekarang ini dengan adanya platform online Go jek dan Grab membuat semua menjadi instan. Tinggal konfirmasi lokasi yang akan di tuju melalui aplikasi bisa langsung di jemput sesuai titik yang diminta dan sampai tujuan yang di inginkan pula.
Selain dari sisi kemudahan aksesnya, berkat transformasi digital juga. Biaya ojek lebih transparan, dikarena sebelum menyetujui biaya transportasi, biaya transportasi akan muncul terlebih dahulu. Dan, biaya yang di tawarkan lebih murah dari pada ojek pangkalan yang mungkin harganya kadang jauh dari tarif wajar.
Sehingga, dari data jumlah penduduk yang lebih diakuisisi oleh usia muda, data proyeksi minat pekerjaan di bidang teknologi, juga digitalisasi indsutri yang kian melekat, mustinya dijadikan alasan bahwa peningkatan literasi digitalisasi lebih dikuatkan, selain itu akses untuk mempelajarinya harus lebih dimudahkan, serta tak kalah lagi berkaitan dengan infrastruktur internet yang harus maksimal. [rif]

