Esai

Namaku Dilah, Seorang PRT

Suroto
×

Namaku Dilah, Seorang PRT

Sebarkan artikel ini
namaku dilah
Ilustrasi foto: Unsplash/Nuril Fikriyah

Dialah cinta pertamaku. Walaupun dia sering menyiksaku. Membentak, memaki maki dan memukuliku, aku tetap menerimanya. Sebab dia itu kekasihku.

Dialah yang telah membebaskanku dari derita kesulitan ekonomi orang tuaku. Setidaknya meringankan beban orang tuaku dengan membawaku pergi dari rumah. Apa yang kuingat adalah belaian manisnya.

Dia memang menjadi sangat sensitif setelah mengalami kelumpuhan. Hal sekecil apapun kalau dia tak berkenan selalu akan memanggilku mendekat ke tempat duduknya dan menyiksaku. Memukuliku dengan rotan yang selalu ada di sampingnya.

Bahkan saat membagi makananpun bisa saja aku dianggap salah. Menurut aturannya, dia musti didahulukan menerima jatah makanan sebelum anak anak.

Sesuatu yang aku anggap aneh, dan sering aku langgar karena rengekan anak anak sering membuatku tak tahan dan aku lebih baik merelakan diri terima hukuman cambuknya ketimbang perih mendengarkan tangis sesenggukan anak anak.

Baru seminggu lalu, aku melahirkan. Dibantu oleh bidan bayi di kampungku. Aku mendapat sumbangan uang 500 ribu dari kelompok ibu ibu Dasa Wisma di RT ku. Aku gunakan sebaik baiknya untuk membeli segala kebutuhan bayiku.

Aku memilih melahirkan bayi laki laki ku di rumah. Ya, karena melahirkan di rumah sakit itu selain butuh biaya, aku khawatir tak ada yang mengurus anak anak dan suamiku yang terkapar di tempat tidur. Apalagi anak anak sekarang sedang musim pengambilan raport di sekolahnya.

Benar saja, ternyata anak ku yang nomor tiga, di kelas 3 SD tak dapat mengambil raportnya. Kata gurunya karena belum bayar sumbangan sebesar 200 ribu. Dengan menahan perih rasa sakit karena lahiran, aku datang ke sekolah.

Aku memohon kepada guru wali kelas anak ku keringanan. Keringanan pembayaran dengan cara mencicilnya setiap bulan. Seperti cicilan ” mendring” yang sering aku lakukan. Sebab uang 200 ribu bagi ku sangat besar sekali. Sangat berarti sekali.

Tapi ternyata raport itu tak dapat aku ambil. Kata Pak Guru itu di depanku ” sudah banyak yang bilang tentang penderitaan memiliki 6 orang anak, dengan suami terkapar di tempat tidur, dan hanya menjadi pembantu rumah tangga dengan pendapatan 250 ribu”.

Aku sangat marah, hatiku mendogol. Tak tahan melihat anakku yang kelas 3 menangis karena ingin mendapatkan raportnya. Aku hanya ingin melihat anakku tersenyum sejenak dan berbahagia melihat raport miliknya seperti teman temannya.

Aku tak ingin orang menaruh belas kasihan padaku. Aku tak ingin disantuni. Aku tak butuh itu. Itu prinsip hidupku.

Tapi aku sangat kecewa pada guru anak ku. Bukan karena tak dapat mengambil raport, tapi kenapa Wali Murid anakku itu tak sedikitpun menunjukkan sikap bijaknya. Aku lebih kecewa lagi, kenapa harus keluar kata kata yang menyakitkan itu. Padahal dia bisa saja diam tak harus menyakiti perasaan orang lain.

Aku memang hidup menderita. Tapi aku menerimanya dengan lapang dada. Aku selalu mengingat petuah almarhum ibuku ” nduk, urip iki mung sak dermo nglakoni, lakonono kanti ikhlas yo nduk” ( hidup ini hanya sekedar menjalani, jalanilah dengan ikhlas ya nak”).

Begitulah petuah ibuku, tapi dalam gemuruh hatiku, aku tak ingin melihat anakku menderita, aku tak ingin melihat satupun anak anakku kelak jadi PRT sepertiku. Aku selalu sisipkan dalam doa sebelum tidur malam ku.