Negeri Tahu Tempe tapi Kecanduan Impor Kedelai, Rofandi: Pemerintah Harus Perhatikan Sektor Pertanian

  • Whatsapp
Ilustasi Pertanian Kedelai (Tribun Bolmong)

BARISAN.CO – Pada pergantian tahun kemarin, publik dibuat heboh dengan isu kelangkaan tempe dan tahu. Hal ini dipicu karena harga kedelai sebagai bahan baku pembuat tempe dan tahu mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Ironies memang, masyarakat Indonesia gemar mengkonsumsi Tahu dan Tempe, tapi masih bergantung dengan kedelai impor. Untuk impornya pun masih harus bersaing dengan negara lain untuk mendapatkan pasokan kedelai impor termasuk China yang lahap mengimpor kedelai dari AS.

Bacaan Lainnya

Dosen Fakultas Pertanian UNS, Ir. Rofandi Hartanto menuturkan jika produktivitas kedelai di tingkat petani hanya sekitar 800 kg/ha sehingga menyebabkan petani tidak memperoleh keuntungan. Sementara rata-rata kebutuhan kedelai di Indonesia dilansir dari Kompas.com mencapai 2,8 juta ton/tahun.

“Mengapa impor? pemerintah maunya seperti itu. Jika pemerintah mau membina untuk mandiri kedelai bisa saja,” tutur Rofandi kepada tim Barisan.co, Selasa (5/1/2020).

Pria kelahiran Wonogiri ini menyampaikan jika tidak tersedia lahan pertanian untuk menanam khusus komoditas kedelai menjadi salah satu masalah besar. Hal ini dikarenakan kedelai selama ini diperlakukan sebagai tanaman sela. Sehingga tidak diseriusi oleh pemerintah.

“Tanaman sela maksudnya ditanam di sela tanaman utama dan tanaman utama yang lain. Orang menanam kedelai setelah padi,” papar Rofandi.

Rofandi menyarankan agar basis pertanian diperbaiki. Sehingga tidak akan mudah terdampak oleh gejolak ekonomi.

“Misalnya penentuan harga komoditas dengan mempertimbangkan ‘nilai sesungguhnya’ komoditas yang kita tanam, berapa biaya produksi, berapa harga jual ‘yang seharusnya’ diterima petani. Harus ada pemihakan kebijakan pemerintah pada sektor pertanian agar semua selamat,” ujar pria lulusan UGM tersebut.

Menurut catatan Badan Pusat Statistik, impor kedelai di Indonesia sepanjang semester I 2020 mencapai 1,27 ton atau senilai dengan 510,2 juta dollar AS.

Dalam hal ini, Rofandi menilai jika kedelai yang diimpor merupakan kedelai GMO (Genetically Modified Organism) yang ditolak di Eropa dan banyak negara karena produk modifikasi genetis ini dianggap tidak aman untuk manusia karena membawa kondisi genetis tertentu.

“Di Indonesia, Monsanto membuat bibit GM yang umum dipakai adalah benih jagung dengan produktivitas tinggi. Tapi untuk ternak. Bukan untuk manusia,” terang Rofandi.

Saat ini, GMO masih menjadi pro kontra. Salah satu laporan GMO Myths and Truth yang ditulis oleh Michael Antoniou menyampaikan bahwa adanya kenaikan jumlah penelitian yang menunjukkan masalah yang muncul antara GMO dan pestisida, seperti Roundup. Terdapat bukti jika Roundup sekalipun dalam jumlah yang rendah dalam makanan atau minuman akan menimbulkan masalah yang serius terhadap kesehatan seperti hati dan keracunan ginjal.

Selain itu juga, pemerintah belum melabelkan makanan GMO atau bukan. Sehingga masyarakat tidak memiliki pilihan lain selain mengonsumsi yang tersedia di pasar. []

Penulis: Anatasia Wahyudi
Editor: Thomi Rifa’i

Pos terkait