Scroll untuk baca artikel
Opini

Penderitaan Orang Lain dan Selera Humor Kita

Redaksi
×

Penderitaan Orang Lain dan Selera Humor Kita

Sebarkan artikel ini

Di era modern seperti saat ini, tak jarang orang memanfaatkan media sosial sebagai tempat untuk meraup popularitas instan. Terkadang digunakanlah cara buruk dengan membuat lelucon yang tidak pantas. Sialnya, banyak orang yang menganggap itu lucu dan menertawakannya.

Untuk meningkatkan ketenaran, beberapa orang membuat kemalangan orang lain sebagai konten untuk ditertawakan. Dengan harapan akan meningkatkan followers dan bonusnya memperoleh uang dari video yang mereka unggah tersebut.

Humor seharusnya diciptakan tanpa melukai perasaan orang lain bahkan membuat orang yang melihatnya kehilangan empatinya sebagai manusia. Namun terkadang, orang-orang membuatnya dengan cara murahan serta berbahaya.

Jika dilihat, media juga terkadang menampilkannya. Acara-acara televisi menampilkan orang yang terjatuh dianggap hal lucu dengan menggunakan narasi yang tidak layak untuk didengar. Konyolnya ialah mereka terkadang membayar penonton agar menertawakan hal itu sehingga tak jarang masyarakat menganggap itu adalah hal yang layak untuk ditertawakan. Padahal kenyataannya tidak sama sekali!

Ada dua penyebab seseorang menertawakan kemalangan orang lain membuat Anda tertawa yaitu tidak merasa aman dan bahagia dengan kehidupannya atau bisa juga mereka tidak memahami bahwa kejadian itu adalah pengalaman yang tidak menyenangkan.

Seperti yang disampaikan oleh asisten profesor pendidikan di Iowa State University, Warren Blumenfeld, lelucon seharusnya tidak mengandung unsur berbahaya ataupun pelecehan yang membuat seseorang malu.

Banyak orang yang berdalih bahwa hal yang dilakukan adalah bercanda. Namun bukankah dalam bercanda ada etika yang seharusnya dijunjung?

Masyarakat belum sepenuhnya dapat memilih lelucon yang layak dan tidak layak ditertawakan. Terutama di saat media ikut andil dalam memperburuk keadaan. Peran media yang seharusnya menjadi sarana edukasi malah terkesan memperburuknya dengan sengaja menayangkan tontonan parodi ekstrim dengan cara mempermalukan orang lain.

Dalam sebuah studi, dikenal dengan istilah Schadenfreude yaitu kondisi saat kita menertawakan kemalangan orang lain. Schadenfreude berasal dari dua kata Jerman, Schaden dan Freude, harm dan joy.

Menurut psikolog Richard Wiseman, menertawakan kemalangan orang lain menegaskan superioritas atas mereka. Dengan kata lain, ketika seseorang dibuat terlihat konyol, itu membuat kita merasa lebih baik tentang diri kita sendiri. Hal tersebut sesuai dengan Teori Superioritas Humor seperti yang pernah diteliti oleh filsuf seperti Plato, Aristoteles, dan Hobbes.

Di Indonesia, tidak banyak orang yang mampu memberikan humor dengan cara yang cerdas. Salah satunya sosok yang terkenal adalah Cak Lontong. Akan tetapi, bagi beberapa orang humornya terasa berat sehingga bukannya tertawa malah menjadi sakit kepala karena audiens diajak berpikir di dalamnya.

Saya sendiri adalah salah satu orang yang jarang tertawa saat menonton televisi dikarenakan bagaimana bisa hal itu pantas ditertawakan di saat orang lain mengalami kemalangan bahkan rasa direndahkan dengan cara memalukan. Ada cara yang lebih baik dalam membuat humor. Terlebih lagi masih banyak hal yang lebih baik untuk ditertawakan.

Jika semua orang menertawakan kemalangan orang lain, agaknya kita perlu mawas bahwa sejak dahulu dunia sudah mengenal betapa ada perbedaan tajam antara tragedi dan komedi. Mungkin kita perlu segera memeriksa selera humor kita kalau sudah mulai kesulitan membedakan keduanya. []