Pengusaha Properti Butuh Keringanan Perbankan

  • Whatsapp
Ilustrasi barisan.co/Bondan PS

Barisan.co – Di tengah pandemi berbagai sektor usaha mengalami penurunan yang sangat signifikan. Apalagi disusul laporan pertumbuhan ekonomi kuartal II yang terkontraksi hingga minus 5,32 persen. Tentunya hal tersebut semakin menjadikan keterpurukan pada berbagai sektor usaha. Dalam catatan, pertumbuhan PDB menurut lapangan usaha pada sektor Real-Estate jatuh sampai di angka -0,26%.

Hal tersebut tentu menjadikan masalah terbesar bagi dunia properti, apalagi pada usaha properti kelas menengah bawah, dengan penjualan rumah tipe 36-70. Dengan penjualan tipe rumah menengah ke bawah tersebut yang berarti segmentasinya juga untuk masyarakat menengah ke bawah, tentu mengalami kesulitan penjualan yang sangat berarti. Faktor tersebut disebabkan, di tengah pandemi, masyarakat dari kelas menengah hingga bawah lebih berdampak dan mengalami kesulitan untuk survive.

Bacaan Lainnya

Seperti halnya yang dialami oleh pengusaha muda Arif Chasanudin, seorang pengusaha muda yang sudah menggeluti dunia properti selama 5 tahun hingga saat ini. Arif menyampaikan kepada tim Barisan.co (27/8/2020) bahwa di tengah pandemi saat ini pengusaha properti mengalami berbagai masalah yang cukup kompleks.

“Dari masalah penjualan yang semakin mengalami penurunan. Dikarenakan masyarakat dalam konsumsinya kembali pada consumer based, yang berarti lebih memilih membeli bahan-bahan pokok untuk kebutuhan hidup sehari-hari,” kata Arif.

Selain itu, lanjut Arif, ancaman laju likuiditas yang tidak seimbang karena sulitnya mencari kredit bank sebagai alur kelancaran cashflownya. Dan juga perbankan di tengah pandemi seperti ini masih menawarkan jenis kredit jangka pendek kepada pengusaha-pengusaha menengah ke bawah.

“Besar harapan kami para pengusaha properti kelas menengah ke bawah agar segera membaik kembali seperti semula,” ujar Arif.

Harapannya saat ini agar tetap bisa survive tentu pengusaha properti harus diperhatikan melalui kebijakan-kebijakan pada perbankan seperti halnya kemudahan pengajuan kredit, dan juga pemberian kredit jangka panjang. Sehingga Likuiditas keuangan pada pengusaha menengah ke bawah akan tetap terjaga dengan baik. dan cashflow pada keuangan sektor pengusaha properti akan tetap terus berjalan dengan optimal.

Secara garis besar pandemi memang memberikan efek domino yang sangat nyata. Tidak hanya menjadi sebuah ancaman kesehatan bagi seluruh manusia, tapi juga memberikan dampak distabilitas pada ekonomi global hingga perekonomian seluruh penjuru dunia. Tentunya imbas pandemi tersebut yang membuat kemrosotan pertumbuhan ekonomi, menjadikan efek konsumsi masyarakat menjadi menurun. Harus ada penanganan yang bijaksana.


Penulis: Beta Wijaya

Redaksi
Latest posts by Redaksi (see all)

Pos terkait