BARISAN.CO – Bagi siapapun, butuh keberanian yang sangat besar untuk menerima tawaran melatih Inter Milan saat ini. Pasalnya, berstatus sebagai juara bertahan, il Nerazzurri tentu tak ingin melepas gelar scudetto begitu saja. Maklum, 11 tahun lamanya, mereka menahan dahaga juara turnamen paling bergengsi se-Italia itu. Sebab itulah, ekspektasi klub dan juga internisti pastinya besar terhadap siapa saja yang menukangi Inter Milan selanjutnya.
Soalnya, belum selesai inter merayakan euforia juara, mereka harus merelakan kepergian sang Allenatore, Antonio Conte. Pahit memang, Conte pergi saat Inter sedang sayang-sayangnya dengannya. Namun, Conte hengkang bukan tanpa alasan. Inter yang tengah terlilit masalah finansial memupus harapannya untuk merakit ulang skuatnya.
Sebaliknya, demi menyeimbangkan neraca keuangan, Inter justru berencana melepas beberapa pemain bintangnya. Salah satunya Achraf Hakimi, pemain kunci di balik kesuksesan Conte. Sementara itu, beban mempertahankan juara juga ada di pundaknya. Maka itu, dengan ketersediaan pilihan skuat dan beban yang berat di depan mata, Conte lebih memilih mengundurkan diri.
Memang, masalah keuangan sudah sejak lama membayang-bayangi Inter Milan. Kendati, mereka berhasil merengkuh juara tetap saja mereka tak mampu keluar dari permasalahan itu. Sebab, di sisi lain, pandemi Covid-19 juga turut memperparah masalah keuangan Inter. Melansir dari Corriere dello Sport, pemegang saham mayoritas Inter Milan, Suning bahkan berencana akan melego klubnya lantaran sudah tak memiliki cukup dana untuk belanja di bursa transfer Januari depan.
Menyalakan Harapan
Wajar bila di awal, banyak pihak yang sangsi dengan kemampuan Inzaghi. Maklum, usianya terbilang masih terlalu muda, yakni 45 tahun. Di Serie-A, dia adalah pelatih termuda kelima setelah Thiago Motta, Paolo Zanetti, Alessio Dionisi, dan Vincenzo Italiano. Tapi, melihat kiprahnya saat di Lazio dengan torehan 3 gelarnya, juara Coppa Italia dan Super Coppa, tentunya namanya tak dapat dipandang sebelah mata. Maka itu, bolehlah ia disandingkan dengan pelatih senior sekelas Stefano Pioli, Gian Piero Gasperini, dan bahkan Maurizio Sarri.
5 musim bersama Lazio, Inzaghi telah meninggalkan legasi yang apik untuk “Elang Biru” itu. Tak hanya berhasil mengangkat performa Lazio, tapi ia juga menjadikannya sebagai salah satu tim yang diperhitungkan dalam perebutan gelar scudetto. Padahal, mulanya, presiden dan direktur olahraga Lazio hanya menargetkan supaya tim mereka dapat finish di tempat keempat. Namun, melampaui semua itu, Lazio juga merengkuh tiga gelar sekaligus bermain di Liga Champions. Di mana hampir dua dekade lamanya Lazio tak merumput di Liga Champions.
Kendati, kini Inzaghi berada di situasi yang berbeda. Dulu, ia datang sebagai kuda hitam di Lazio, dan sekarang ia harus mempertahankan tahta juara. Namun, allenatore satu ini memiliki kans besar untuk menjawab tantangan barunya ini. Hingga giornato keempat belas, Inter masih berada di peringkat tiga klasemen Serie-A. Selisih hanya 1 poin dari pemuncak klasemen.
Tentunya, itu bukanlah awal yang buruk bagi Inzaghi. Malahan, bila setidaknya Inter terus mampu tampil konsisten, bukan tidak mungkin mereka bakal memenangi Serie-A. Bahkan, ditinggalkan oleh beberapa pemain kuncinya, seperti Hakimi dan Romelu Lukaku, lini serang Inter masih tampil gacor dengan torehan 34 gol. Dan, angka itu mencatatkannya sebagai klub yang paling produktif mencetak gol sementara ini di Serie-A.
Taktik Inzaghi
Boleh jadi, sosok Inzaghi adalah pilihan yang tepat menggantikan Conte, melihat dari kesukaan keduanya mengenakan formasi dengan format dasar tiga bek. Walaupun, dalam permainan arus bolanya tidak persis sama, tapi keduanya memang sama-sama menitikberatkan keseimbangan area tengah. Karenanya, skema tersebut pas untuk transisi menyerang dan bertahan.
Merujuk pada musim 2019/2020, Inter dan Lazio menjadi klub yang sama-sama rapat pertahanannya. Gawang Inter sudah bobol 36 gol, sementara Lazio kemasukan lebih sedikit, 32 gol. Soal produktivitas lini serang pun capaian keduanya tak jauh beda.
Bedanya, Inzaghi lebih suka memfungsikan area sentralnya sebagai kreator serangan. Di Lazio misalnya, ia memasang Luis Alberto sebagai mezzala yang bergerak leluasa di lini tengah, sekaligus ikut masuk menusuk ke area pertahanan lawan, baik dari sisi samping maupun tengah.
Itulah sebabnya, Inzaghi berusaha mendaratkan pemain tengah seperti Hakan Calhanoglu, supaya ia memiliki gelandang kreatif di Inter. Pemain asal Turki itu, di musim lalu, menjadi pemain dengan rata-rata key pass tertinggi di Serie-A.
Adapun dengan peran gelandang box-to-box dan pelindung back four, Inzaghi mempunyai Nicolo Barella dan Marcelo Brozovic. Untuk sektor wing-back mungkin Inzaghi tak begitu merasa kehilangan Hakimi, lantaran ia tak begitu agresif memfungsikan wing-back seperti Conte.
Malahan, di beberapa pertandingan terakhir, Inzaghi justru menyukai wing-backnya lebih bergerak ke tengah, ketimbang melakukan overlap. Di sana, ia lebih memainkan peran wing-back sebagai inverted full-back.
Dan, soal kekuatan serangan, Conte yang menjadikan counter attack menjadi senjata mematikannya di Inter. Berbeda dengan Inzaghi saat di Lazio yang tak begitu memainkan counter attack. Namun, Inzaghi juga cakap bermain direct, karenanya direct-attack Lazio bersamanya tertinggi kedua di Serie-A musim lalu. [rif]