BARISAN.CO – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur bersama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Timur mengusulkan 16 nama masyayikh untuk menjadi anggota tim Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) pada Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026.
Dari 16 nama yang diusulkan, salah satu yang menjadi perhatian ialah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon Semarang, KH Ubaidullah Shodaqoh.
Kiai asal Jawa Tengah tersebut masuk dalam daftar ulama sepuh yang dinilai memenuhi kriteria untuk menjadi anggota AHWA, forum yang memiliki kewenangan menetapkan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU, tim AHWA terdiri atas sembilan ulama sepuh yang dipilih dari usulan PWNU dan PCNU se-Indonesia. Tim inilah yang nantinya bermusyawarah untuk menentukan sosok Rais Aam PBNU pada Muktamar ke-35 NU.
Wakil Rais PWNU Jawa Timur KH Abdul Matin Djawahir mengatakan, penetapan 16 nama tersebut merupakan hasil pembahasan panjang antara jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah PWNU Jawa Timur bersama PCNU se-Jawa Timur.
“Setelah beberapa kali rapat pengurus syuriyah dan tanfidziyah PWNU Jatim, serta melakukan rapat koordinasi dengan PCNU se-Jatim, kami sepakat mengusulkan 16 nama masyayikh masuk tim AHWA,” ujar KH Abdul Matin Djawahir di Surabaya, Rabu (22/7/2026).
Menurutnya, proses penjaringan awal sempat menghasilkan 27 nama ulama dari berbagai daerah di Indonesia. Namun, setelah melalui pembahasan dan pertimbangan yang mendalam, jumlah tersebut mengerucut menjadi 16 nama yang dinilai paling memenuhi syarat.
“Pada mulanya ada 27 nama masyayikh atau ulama sepuh dari berbagai daerah di Indonesia yang dijaring PWNU Jatim. Kemudian, dalam perkembangannya mengerucut menjadi 16 nama,” katanya.
KH Ubaidullah Shodaqoh sendiri dikenal sebagai salah satu ulama kharismatik Nahdlatul Ulama asal Jawa Tengah. Selain mengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon Semarang.
Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan dakwah, pendidikan, serta pembinaan umat. Sosoknya selama ini dikenal memiliki perhatian besar terhadap penguatan pendidikan pesantren dan pengembangan kader ulama di lingkungan NU.
Masuknya nama KH Ubaidullah Shodaqoh dalam usulan AHWA menunjukkan pengakuan atas kapasitas keilmuan dan ketokohannya di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Bersama para masyayikh lainnya, ia dipandang memiliki kompetensi untuk turut menentukan arah kepemimpinan tertinggi organisasi melalui mekanisme musyawarah.
Adapun 16 masyayikh yang diusulkan PWNU Jawa Timur sebagai calon anggota tim AHWA berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Mereka adalah KH Anwar Manshur, KH Ma’ruf Amin, KH Nurul Huda Djazuli, KH Mustofa Bisri, KH Miftachul Akhyar, KH Anwar Iskandar, KH Afifuddin Muhajir, KH Said Aqil Siroj, Tuan Guru Turmudzi, KH Buya Muhtadin, KH Wildan, Tengku KH Nailuzzahri, KH Ubaidullah Shodaqoh, KH Zainal Abidin, KH Khozien Adnen, dan KH Ali Akbar Marbun.
Ke-16 nama tersebut merupakan hasil penyaringan dari 27 masyayikh yang sebelumnya dijaring oleh PWNU Jatim.
KH Abdul Matin menjelaskan, pemilihan nama-nama tersebut didasarkan pada sejumlah kriteria yang telah menjadi pedoman dalam menentukan anggota AHWA.
Di antaranya memiliki kedalaman ilmu agama, integritas moral, sikap adil, tawadhu, wara’, zuhud, berpengaruh di tengah masyarakat, serta mempunyai kemampuan memilih pemimpin yang mampu menjadi munadzim (pengelola organisasi) sekaligus muharrik (penggerak organisasi).
Selain mengusulkan nama-nama anggota AHWA, PWNU Jawa Timur juga menyampaikan usulan mengenai mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU.
Menurut KH Abdul Matin, Jawa Timur mengusulkan agar nama-nama calon Ketua Umum berasal dari usulan PCNU, kemudian diserahkan kepada Rais Aam untuk memilih salah satu kandidat dengan persetujuan AHWA.
Usulan tersebut dinilai dapat memperkuat semangat musyawarah dalam proses pemilihan kepemimpinan NU sekaligus meminimalkan kompetisi internal dan mengedepankan kolaborasi di tubuh organisasi menjelang Muktamar ke-35 NU. []









