Esai

Saatnya Penguasa Menggeluti Budaya dan Sastra

Yayat R Cipasang
×

Saatnya Penguasa Menggeluti Budaya dan Sastra

Sebarkan artikel ini
Pagelaran wayang orang Pandawa Boyong (Foto: dok ist)

“Sastra adalah pelengkap kehidupan, hidup terasa datar dan tidak masuk akal tanpa hiasan sastra.” — Franz Kafka

PARA jenderal mementaskan Wayang Orang Pandawa Boyong di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Minggu (15/1/2023) malam. Informasi itu saya dapatkan beberapa hari yang lalu dari unggahan status pengamat pertahanan dan militer Dr. Connie Rahakundini Bakrie.

Para jenderal yang tampil di antaranya Panglima TNI Laksamana Yudo Margono, tiga Kepala Staf TNI dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit.

Para jenderal ini berkolaborasi dengan akademisi dan juga para aktor dan seniman. Latihannya sangat detail sampai melalui tahapan gladi kotor, gladi bersih hingga pentas malam ini.

Tentu saya sangat senang mendapat informasi itu. Para jenderal tidak sekadar menjadi penonton justru menjadi aktor. Inilah yang membuat saya tergerak untuk menulisnya secara khusus.

Para jenderal adalah figur publik juga tidak ada bedanya secara popularitas dengan artis panggung atau para budayawan. Mereka kerap menjadi subjek pemberitaan.

Memang sudah saatnya ‘orang-orang serius’ seperti para birokrat, teknokrat dan para jenderal ini menggeluti budaya seperti sastra dan seni tidak hanya sebagai selingan tetapi juga sebagai kebutuhan.

Sastra dan seni adalah bagian dari kebutuhan rohani masyarakat dan juga elite sehingga seseorang memiliki jiwa yang halus, empatik, humanis dan peduli dengan alam sekitar.

Jangan khawatirkan seni dan sastra akan membuat tentara dan polisi menjadi lembek. Tidak tegas, tidak berwibawa. Tidak seperti itu. Dan tidak mungkin seperti itu.

Dengan sastra dan seni justru akan membuat para elite politik, serdadu atau polisi, para menteri sekalipun presiden membuat kebijakan yang humanis dan peduli dengan rakyat.

Politikus, para jenderal dan para menteri bila menggeluti sastra dan seni tidak hanya tampak dalam perilaku yang santun, ramah, perasa, solidaritas tinggi dan merakyat tetapi juga berbentuk dalam sejumlah kebijakannya, dalam peraturan, dan undang-undang. Sastra dan seni akan menuntun para elite ini untuk selalu berpikir tentang negara dan bangsa.

Wahai para politikus, para jenderal dan juga elite negeri ini. Baca statistik memang perlu. Tetapi statistik sama sekali tidak ada nilai keindahannya. Kadang absurd. Lebih banyak politis.

Apalah angka pertumbuhan, angka kemiskinan, tingkat produksi, angka ekspor dan impor. Toh, tidak selamanya mencerminkan kenyataan. Karena angka statistik juga banyak direkayasa sesuai permintaan dan kepentingan.

Pidato para pejabat selama ini juga sangat menjemukan. Terlalu banyak mengumbar data. Sementara para pengemis semakin banyak, pengamen dan badut numpuk di pinggir jalan dan alun-alun. Juga banyak emak-emak berdagang sosis goreng dan kopi saset di pusat keramaian.

Bila pejabat dan elite banyak membaca karya sastra dan menggeluti seni memang tidak akan langsung menyelesaikan masalah. Paling tidak akan menekan masalah.

Sungguh rindu di Indonesia ketika anggota DPR berdebat atau presiden berpidato merujuk pada buku-buku karya budayawan dan karya-karya sastra. Ketika mempersoalkan tentang sumber daya manusia Indonesia misalnya merujuk pada pidato kebudayaan Mochtar Lubis di TIM pada tahun 1977 yang bertajuk ‘Manusia Indonesia’.

Para elite negeri ini justru harus malu dengan Perdana Menteri Malaysia yang justru banyak terinspirasi oleh budayawan, sastrawan dan pemikir Indonesia seperti Hamka, Sutan Takdir Alisjahbana, M. Natsir, Mochtar Lubis, Taufiq Ismail dan Soedjatmoko.