Saya dan Kompas: Sujiwo Tejo Nekat

  • Whatsapp
Harian Kompas
Oleh: Eko Tunas

Barisan.co – DI SEPANJANG kerja kepenulisan saya, hanya ada beberapa tulisan saya dimuat di harian Kompas. Cerpen dan berita seni, serta artikel budaya di Kompas edisi Jawa Tengah.

Sejak awal saya menulis, bagi saya Kompas adalah koran idaman. Sebuah impian indah. Ibarat peristiwa jadian dengan kekasih hati. Andai, cerpen atau esai saya dimuat di Kompas. Dalam pada itu, sejak SMA tulisan saya — puisi, cerpen, esai, kolom, artikel, hingga novel — telah tersebar di berbagai media massa nasional atau daerah.

Bacaan Lainnya

Dalam pada itu, sebagaimana nasib Binhad Nurrohmat, saya acap patahati tiap menerima amplop coklat pengembalian naskah dari Kompas. Serasa ditolak cinta saya, dengan alasan-alasan rutin: tidak memenuhi syarat sebagai bacaan pembaca umum, tidak mengandung tema baru. Pendek kata, nggak kerenlah — ya Bin ya.

Sebagaimana Binhad pula, saya acap mengintai Kompas di hari Minggu. Mengintip, apakah tulisan saya dimuat. Serasa lunglai, seperti melihat dengan mata kepala si kekasih hati lagi pacaran dengan cowok lain, nama-nama yang tulisannya dimuat. Lebih menyakitkan manakala mbak-mbak lapak koran mendamprat saya: Wong iki ora tau tuku mung ndelok-ndelok thok, ndemok-ndemok marai koranku lecek!


SAYA juga pernah bermimpi, andai saya jadi wartawan Kompas. Alangkah super kerennya. Terutama, saat saya mengantar dhalang Tegal Ki Enthus Susmono, di 1990-an, siang di Wisma TIM, Enthus diwawancara wartawan berambut panjang sepunggung. Wartawan mana, saya penasaran. Saya pun mlipir ke belakang si wartawan ngoboi itu, saya lihat blocknotenya terbaca kopnya: Harian Kompas. Dan, dia itulah Sujiwo Tejo.

Lanjut saya dan Tejo beberapa kali bertemu di Tegal, sekadar ngobrol di warung lesehan, atau sama-sama menjadi pembicara dalam acara diskusi Dewan Kesenian Tegal.

Sampai kemudian saya mendengar kabar, Sujiwo Tejo keluar dari Kompas. Sungguh saya tak habis mengerti, gagal paham. Mengapa Tejo nekad dan sebodoh itu keluar dari koran yang terpuji setinggi langit: mau jadi apa dia?

Orang kedua yang saya catat namanya adalah, Budiarto Danujaya. Seputar 1985, Bambang Sadono, Darmanto Jatman dkk menyelenggarakan Sarasehan (?) Sastra (tingkat nasional) di Undip. Banyak pembicara tampil. Dari Budi Dharma, Ignas Kleden, hingga beberapa penulis KPS (Keluarga Penulis Semarang).

Saya duduk bersama Halim HD. Darmanto mendekati kami, tampak gelisah, nggrundel, “Ignas yahene durung teko.” Sambil nyengir Halim menyahut, “kalau Ignas nggak dateng genti Tunas wae…” Genti Darmanto nyengir melirik saya.

Darmanto beranjak, datang seorang tak dikenal. Berpenampilan biasa, dan membawa tas kresek hitam mungkin berisi bekal. Dalam pada itu para wartawan sibuk mengabadikan para pembicara yang tampil. Saat wartawan menepi, si tas kresek diam-diam mengambil sesuatu dari dalam tas kresek, yang ternyata tustel. Lalu pelan, dia memotret sekali jepret. Kemudian kembali bersama kami.

Saat itulah Bambang Sadono mendekati kami pula, tampak gelisah pula, “semua wartawan datang, hanya dari Kompas ndak kelihatan.” Begitu Bambang lengser Halim nyekikik berbisik di telinga saya, “itu si tas kresek wartawan Kompas paling keren, Budiarto Danujaya..!” Saya lihat Budiarto senyum-senyum saja. Besoknya, koran Kompas memuat tulisan sarasehan plus foto Budiarto yang begitu keren.


SAYA terus mengirim naskah dan terus patahati sama Kompas. Sampai kemudian terjadi banjir bandang di Semarang 1990, dan saya menulis artikel. Dari artikel jadi esai, dari esai..lho kok kayaknya mau jadi cerpen. Saya mengirim cerpen itu ke Kompas. Menunggu dengan harap-harap cemas. Lupa saat itu saya dapat uang cukup banyak dari mana.

Saya pun mengendap ke lapak Mbak Pendamprat. Mengintip lembar Seni terbaca: Banjir Kanal – Cerpen Eko Tunas. Merasa darah naik ke kepala, saya tidak tahu perasaan apa ini. Antara dendam dan sakit pernah didamprat, saya beli semua koran Kompas di Minggu cetar membahana. Kata si Mbak: Mase ki aneh, biasane ming ndemek-ndemek, saiki malah mborong kabeh…”

Cerpen kedua yang dimuat Kompas, Revolusi Para Tikus. Kedua cerpen itu ada di buku kumcer Tunas, CresindO Erwin Hascaryo. Di antara itu saya mengirim berita seni dan acap dimuat Kompas, saya pun merasa menjadi wartawan budaya Kompas. Sampai pada gilirannya, Kompas edisi Jawa Tengah terbit, saya kerap mengirim artikel budaya dan acap dimuat.

Di era itu ada kerja yang manis dikenang, saat kami kuliah di IKIP-N Semarang: saya, Herlino Soleman, S Prasetyo Utomo, Triyanto Triwikromo. Di antara kami berempat hanya S Prasetyo yang punya mesin ketik. Maka kami bertiga pun antri numpang ngetik di kos-kosan S Prasetyo. Pakai hompimpah segala. Dan saya rela-rela saja di bagian buncit, senang menunggu, sebab ibu kos manis cantik dan semanak ndemenaake.

Cerpen yang saya ketik di kamar kos S Prasetyo itulah yang dimuat di Kompas. Satu peristiwa yang membuat mereka bertiga panik setengah mati. Karena masih bermimpi di siang bolong, andai cerpen mereka dimuat di Kompas: asem tenan puisi Mas Eko dimuat di Kompas..!

Sedikit rerasan, saya lebih tua di antara mereka bertiga, dan mereka menganggap saya guru mereka — mulange kapan? Dan demikianlah tugas guru, mengawali dan memandu, lanjut biar diteruskan para murid.

Demikian saya tergerak menulis status ini, begitu mengalir bagai hanya dalam satu tarikan napas. Satu semangat atas tutup usia Pak Jacob Oetama: guru dan empu kasih kita semua.***

Kandank Warak
Latest posts by Kandank Warak (see all)

Pos terkait