Selalu Ada Hikmah di Balik Ujian

  • Whatsapp
Ilustrasi barisan.co/Bondan PS

Barisan.co – Namanya Khoer Affandi. Ia adalah driver gocar yang mengantar saya semalam dari kantor sampai rumah. Mas Khoer bercerita panjang lebar. Dan saya menikmati ceritanya sekaligus menjadi refleksi kehidupan.

Awal Covid-19, pria asal Semarang tersebut bercerita sebulan hanya mendapat satu orderan sampai uang bensin minta ke istri. Mobilnya pun nyaris ditarik dealer karena telat bayar dua bulan. Akhirnya karena Maret nanti mobilnya akan lunas, ia pun memberanikan diri meminjam uang kepada bapaknya untuk membayar cicilan.

Bacaan Lainnya

“Malu sebenarnya pinjam ke Bapak. Dari kecil sudah nyusahin. Sudah menikah dan punya anak masih masih pinjam uang. Tapi Alhamdulillah, sekarang sudah saya bayar utang tersebut. Tapi saya bersyukur karena Covid-19 ini saya jadi punya usaha kecil-kecilan. Jualan peyek. Alhamdulillah, sekarang sampai kewalahan. Banyak yang mau jadi reseller. Tapi kita yang ga sanggup. Soalnya yang buat istri dan ibu saya. Kalo ga ada Corona, kita juga ga mungkin buka usaha gitu, mbak,” tutur pengemudi tersebut seraya tertawa.

Kata Mas Khoer, bersyukur kunci dari segalanya. Sepakat!

“Dulu saya kerja di kantoran sambil jadi driver gocar. Di kepala saya cuma uang, uang, uang saja. Tapi akhirnya saya ga punya waktu buat keluarga. Tahun 2017 akhirnya saya memutuskan untuk resign dari kantor. Alhamdulillah, tiap pulang bisa kasih ke istri dan orangtua saya. Saya juga punya waktu buat anak,” ujar Mas Khoer. Ia terdengar mantap dengan pilihannya.

Mas Khoer merasakan betul bahwa pandemi telah mengubah banyak tatanan. Sebelum diberlakukan PSBB, ia selalu meluangkan waktu pergi bersama anak-istri tiap akhir pekan. Sekarang ia memilih tidak keluar rumah selain untuk bekerja. “Sekarang kalau pulang rumah, paling saya beli mainan untuk anak karena kan ga bisa ke mana-mana juga, mbak.”

Dalam kesehariannya sebagai driver, bapak satu anak ini termasuk tidak pernah menolak orderan yang datang kepadanya. “Dari dulu saya ga pernah nolak rezeki. Mau trip pendek atau panjang, tetap saya ambil,” ujarnya.

Menurut Mas Khoer, driver yang sulit mendapat penumpang karena perfomanya kurang bagus. Terutama orderan tidak banyak sedangkan jumlah pengemudi membludak. Sehingga perusahaan akan mengutamakan driver yang memiliki performa baik.

“Saya bersyukur masih dapat order. Hari ini sudah dapat 3 termasuk Mbak. Tripnya lumayan jauh. Kadang kalau lagi kumpul sama teman-teman sesama pengemudi, mereka cerita belum dapat orderan seharian. Ya kalau kopi keliling aja sih saya insyaallah masih bisa beliin buat mereka gitu. Kalau keluar rumah gitu kan niatnya cari orderan ya mbak. Tapi kalo ga dapat juga, bensin habis. Belum lagi yang ngerokok,” kata mas Khoer.

Sebagai driver mobil, ia menaruh perhatian pada driver motor. Ia mengatakan betapa ia perlu bersyukur atas situasinya.

“Kalau melihat pengemudi ojol kasian. Panas, kepanasan. Hujan, kehujanan. Kalo ngantuk, mau tidur di mana? Makanya saya bersyukur. Kalau ngantuk masih bisa menepi dan tidur di mobil. Kalau mereka? Kan ga bisa mbak.”

Ada dua kata yang selalu Mas Khoer sematkan dari ceritanya yaitu kata Alhamdulillah dan bersyukur. Ya, saat pandemi ini hampir seluruh dari kita mengalami kesulitan. Para pekerja terancam PHK. Pengangguran bertambah. Namun, Mas Khoer ini masih bisa bangkit bahkan masih bisa mensyukuri hidupnya bahkan berbagi kepada yang lain.      

Kadang kita sering kali lupa dengan nikmat Tuhan. Sehingga saat pandemi ini kita menjadi kufur. Sedangkan masih banyak orang yang jauh lebih menderita dibandingkan kita. Terkadang mendengar cerita orang lain bisa menjadi refleksi diri. Sudahkah Anda bersyukur hari ini?

Pos terkait