Tokoh & Peristiwa

Meski Kadang Berkonflik dengan Penguasa, Kata-Kata Pram Kerap Menginspirasi

Avatar
×

Meski Kadang Berkonflik dengan Penguasa, Kata-Kata Pram Kerap Menginspirasi

Sebarkan artikel ini

Barisan.co – Pramoedya Ananta Toer dikenal sebagai salah satu sastrawan terbesar di Indonesia. Sastrawan yang kuat dan hidup dari dan di antara konflik dan polemik. Banyak karya-karyanya yang monumental, sehingga beliau dikenal sebagai sastrawan yang sangat produktif.

Sepanjang hidup Pram, demikian sapaan akrabnya, tak pernah bebas dari polemik. Mulai Manifestasi Kebudayaan (manikebu) dan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang dipimpinnya, polemik Magsaysay award dari Filipina, sampai polemik antara ritual Islam dan berkumandangnya lagu Internationale dan Darah Juang, sewaktu pemakamannya.

Pramoedya merupakan kritikus yang tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia. Secara terang-terangan, Pram mengusulkan bahwa pemerintahan mesti dipindahkan ke luar Jawa. Bahkan, di tahun 1960-an Pram ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangannya yang dianggap pro komunis Tiongkok.

Selain pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama. Pada masa Orde Baru, Pramoedya juga merasakan 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan di Pulau Nusakambangan pada 1965-1969, di Pulau uru pada 1969-1979, dan di Magelang pada akhir 1979.

Pram dilarang menulis selama masa penahanan di Pulau Buru. Namun, Pram masih dapat menyusun serial karyanya terkenal yang berjudul Bumi Manusia, sebuah novel semi fiksi 4 seri terkait sejarah Indonesia. Di buku itu, Pram menceritakan perkembangan nasionalisme Indonesia yang sebagian berasal dari pengalamannya sendiri saat tumbuh dewasa.

Meski kerap menuai polemik bagi penguasa, Pram kerap mengeluarkan kata-kata bijak dalam setiap karya-karyanya. Kobaran semangat pun sering ia lontarkan melalui tulisan-tulisannya. Terlebih, Pram ikut merasakan hidup di zaman perjuangan merebut kemerdekaan.

Berikut ini beberapa kata-kata bijak Pramoedya Ananta Toer, seperti dihimpun dari laman Jagokata, Selasa (15/9/2020).

  1. “Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri”.
  2. “Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya”.
  3. “Sebagai orang beragama, tidak layak memungkiri janji, tidak layak berkhianat. Islam tidak mengajarkan dan mewajibkan pengkhianatan pada rakyat dan sesamanya”.
  4. “Apabila rumah itu rusak, yang menempatinya pun rusak”.
  5. “Sia-sianya dunia ini kalau untuk meningkatkan satu orang yang lain mesti diinjak”.
  6. “Berkhianat pada revolusi ini berarti berkhianat pada diri sendiri, pada publik yang membayarnya”.
  7. “Di dunia ini tak ada sesuatu kegirangan yang lebih besar daripada kegirangan seorang bapak yang mendapatkan anaknya kembali”.
  8. “Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai”.
  9. “Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit”.
  10. “Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya”.
  11. “Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai”.
  12. “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.
  13. “Saya selalu percaya dan ini lebih merupakan sesuatu yang mistis, bahwa hari esok akan lebih baik dari hari sekarang”.
  14. “Kalau ahli hukum tak merasa tersinggung karena pelanggaran hukum sebaiknya dia jadi tukang sapu jalanan”.
  15. “Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri”.
  16. “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri”.
  17. “Betapa sederhana hidup ini, sesungguhnya yang pelik cuma liku dan tafsirannya”.
  18. “Persahabatan lebih kuat dari pada panasnya permusuhan”.
  19. “Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas”.
  20. “Indahnya dunia ini jika pemuda masih tahu perjuangan!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *