Sinus, Rongga Hidung Bak Katup Lorong

  • Whatsapp
Sinus
Sinus.Ilustrasi: pixabay.com

BARISAN.CO – Di dalam kepala manusia terdapat organ yang bernama sinus. Sinus adalah rongga yang berisi udara yang terletak di wajah dan di sekitar hidung. Sinus diberi nama sesuai dengan tulang di mana mereka berada, sinus sering disebut dengan sinus paranasal.

Hidung terdiri dari bagian internal dan eksternal. Bagian eksternal menonjol dari wajah dan disangga oleh tulang hidung dan kartilago. Lubang hidung merupakan ostium sebelah luar dari rongga hidung.

Bacaan Lainnya

Bagian internal hidung adalah rongga berlorong yang dipisahkan menjadi rongga hidung kanan dan kiri oleh pembagi vertikal yang sempit, yang disebut septum. Masing-masing rongga hidung dibagi menjadi tiga saluran oleh penonjolan turbinasi dari dinding lateral.

Rongga hidung dilapisi dengan membrane mukosa yang sangat banyak mengandung vascular yang disebut mukosa hidung. Lender disekresi secara terus menerus oleh sel-sel goblet yang melapisi permukaan mukosa hidung dan bergerak ke belakang ke nasofaring oleh gerakan silia (Brunner & Suddarth, hal; 508, 2001).

Perkembangan rongga hidung secara embriologi yang mendasari pembentukan anatomi sinonasal dapat menjadi dua proses. Pertama, embrional bagian kepala berkembang membentuk dua bagian rongga hidung yang berbeda.

Kedua, bagian dinding lateral hidung yang kemudian berinvaginasi menjadi kompleks padat, yang dikenal dengan konka (turbinate), dan membentuk ronggarongga yang disebut sebagai sinus.

Menurut dr. Emmy Paramesthi D, S, SpTHT dari RS Husada Utama Surabaya, sinus paranasal adalah serangkaian rongga yang mengelilingi hidung kita.

Terdapat empat pasang sinus paranasal, yaitu sinus ethmoid, maksila, frontalis dan sphenoid. Rongga-rongga tersebut tersebut terbentuk sebagai hasil proses pneumatisasi. Bentuk sinus memiliki bentuk yang bervariasi. Rongga sinus memiliki muara yang menuju ke dalam rongga hidung. 

Fungsi Sinus Paranasal

Meski hanya berupa rongga, sinus memiliki beberapa fungsi, berikut diantaranya :

  • Sebagai pengatur kondisi udara

Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk memanaskan dan mengatur kelembapan udara ispirasi. Volume pertukaran udara dalam pentilasi sinus kurang lebih 1/100 volume sinus pada tiap kali bernapas sehingga dibutuhkan beberapa jam udara total dalam sinus.

  • Sebagai penahan suhu

Sinus paranarsal berpungsi sebagai penahan panas, melindungi orbita dan fosa serebri dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah. Tetapi bila udara dalam sinus di ganti dengan tulang, hanya akan memberikan pertabahan berat sebesar 1% dari berat kepala, sehingga teori ini dianggap tidak bemakna.

  • Membantu resonansi suara

Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi suara dan mempengaruhi kualitas suara. Akan tetapi ada yang berpendapat, pasisi sinus dan ostiumnya tidak memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonator yang efektif.

  • Sebagai peredam perubahan tekanan udara

Fingsi ini berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak, misalnya pada waktu bersin atau membuang ingus.

  • Membantu produksi mucus 

Mukus yang di hasilkan oleh sinus para narsal memang jumlahnya kecil dibandingkan dengan mukus dari rongga hidung, namun efektif untuk membersihkan partikel yang turut masuk dengan udara inspirasi karena mukus ini keluar dari meatus medius, tempat yang paling strategis.

Waspada Sinusitis

Dalam kondisi tertentu, sinus bisa saja mengalami satu kejadian tidak mengenakkan, yakni radang, dalam istilah medisnya disebut sinusitis. Menurut dr. Emmy, sinusitis adalah keradangan mukosa sinus paranasal yang umunya disertai atau dipicu oleh rinitis sehingga sering disebut rinosinusitis.

Penyebab utama adalah selesma yang merupakan infeksi virus yang selanjutnya diikuti oleh infeksi bakteri. Sinus yang paling sering terkena adalah sinus maksila dan ethmoid. Bila mengenai semua sinus paranasal disebut pansinusitis.

Pada sinus maksila karena memilik letak yang berdekatan dengan akar gigi rahang atas, maka infeksi gigi mudah menyebar ke sinus, disebut sinusitis dentogen.

Sedang menurut dr. Ashadi Budi, Dokter Spesialis Telinga Hidung Tengggorok – Bedah Kepala Leher, RS Bedah THT SS Medika, kronologi terjadinya sinus bisa dianalogikan dengan pintu kamar pada lorong hotel. Semua rongga sinus punya pintu namanya ostium.

Setiap ostium akan bermuara ke ruangan yang namanya kompleks ostiomeatal. Analoginya begini, bayangkan kamar-kamar di hotel, misalkan (anggap ini sinus) yang memiliki pintu. Dan pintu-pintu itu mengarah ke lorong atau koridor. Ujung-ujungnya di tempat asal ruangan besar (lobby misalkan).

Pintu sinus itu nama lainnya ostium, koridor itu resesus atau meatus, lobby ruangan itu kompleks ostiomeatal. Jika salah satu pintu ketutup, maka satu sinus akan radang (sinusitis). Kalau lorongnya ketutup maka beberapa sinus akan sinusitis (multiple sinusitis). Kalau lobbynya yang ketutup, maka semua sinus akan sinusitis (pansinusitis).

Penyebabnya adalah selesma karena virus, berbagai rinitis (alergi, hormonal pada wanita hamil), polip hidung, kelainan anatomi hidung (deviasi septum atau hipertrofi konkha), sumbatan pada muara sinus, infeksi tonsil, infeksi gigi, kelainan imunologik, diskinesia silia.

Sedang gejala yang sering dijumpai adalah keluhan hidung buntu disertai nyeri/rasa tertekan pada muka, ingus purulen (bernanah) yang sering turun ke tenggorok (post nasal drip) yang menyebabkan batuk dan sesak. Dapat pula disertai gejala seperti demam, lesu dan pusing. 

Terapi sinusitis

Pengobatan yang dilakukan menurut dr. Emmy adalah dengan terapi. Tujuan terapi sinusitis adalah mempercepat penyembuhan, mencegah komplikasi dan mencegah perubahan menjadi kronik.

Antibiotik dan dekongestan adalah terapi pilihan pada sinusitis akut bakterial, untuk menghilangkan infeksi dan pembengkakan mukosan serta membuka sumbatan muara sinus. Selain itu diberikan obat antiinflamasi, steroid oral/topikal. 

Bila sudah terbentuk cairan dalam rongga sinus dilakukan pencucian rongga sinus, pemanasan (diatermi, laser).  Tindakan operasi diperlukan pada sinusitis kronik yang tidak membaik setelah terapi adekuat, sinusitis kronis yang disertai kista atau kelainan yang ireversibel, polip ekstensif, adanya komplikasi sinusitis serta jamur.

Penulis: Alfin Hidayat

Pos terkait