Slamet Iman Santoso, Sang Bapak Psikologi Indonesia & Usahanya Menjaga Kehormatan Nasional

  • Whatsapp
Ilustrasi barisan.co/Bondan PS

Barisan.co – Slamet Iman Santoso lahir di Wonosobo tahun 1907 tanpa mengeluarkan suara tangis. Ia keluar dari rahim ibunya dengan kondisi terbungkus ketuban dan dililit ari-ari sekaligus. Empat puluh lima tahun kemudian, sang bayi bungkus ini mendirikan fakultas psikologi pertama di Indonesia dan ia kemudian dikukuhkan sebagai Bapak Psikologi Indonesia.

Sejatinya, psikologi adalah ilmu yang setua peradaban manusia. Namun berkat Prof. Slamet lah ilmu candra jiwa ini dapat dipelajari di kampus-kampus sampai sekarang. Adalah pidato pengukuhannya sebagai guru besar Universitas Indonesia, 1952, yang menjadi tonggak awal psikologi sebagai disiplin ilmu yang otonom.

Bacaan Lainnya

Pidato Prof. Slamet kala itu mengambil judul “Pemeriksaan Psikologis Sebagai Dasar untuk Sekolah”. Naskah tulis tangan yang disiapkannya selama tiga minggu itu menyoroti tingginya drop out kalangan mahasiswa tingkat satu dan dua. Pada saat itu, persentase DO mencapai 30-35%.

Untuk itulah, menurut Prof. Slamet, perlu dilakukan pemeriksaan awal sebelum mahasiswa masuk kuliah: “Supaya para siswa yang sebetulnya tidak mampu mengikuti pendidikan universiter, tidak perlu kehilangan waktu dan tidak perlu membuang-buang uang. Demikian pula lembaga pendidikan tidak dibebani pekerjaan yang sia-sia.” Dikutip dari buku otobiografi Slamet Iman Santoso, berjudul Warna-Warni Pengalaman Hidup (1992: 151).

Pemantapan psikologi sebagai disiplin baru di Indonesia berlangsung antara tahun 1953-1961. Prof. Slamet banyak berembug dengan Presiden Universitas Indonesia, yakni Prof. Dr. Soepomo. “Dalam rangkaian pembicaraan kami kemudian diputuskan, agar sangat berhati-hati dalam menyusun lembaga pendidikan psikologi. Oleh karena yang menjadi objek pemeriksaan adalah … manusia,” tulisnya.

Pertimbangan utama Prof. Slamet dan kolega-koleganya pada saat itu adalah kurangnya tenaga pengajar, yang dengan demikian risiko kegagalan rencana merintis pendidikan psikologi sangat besar. Maka disepakati, bahwa lembaga ini akan disusun secara bertahap, selangkah demi selangkah.

Tahap pertama, lembaga ini tidak langsung mendaku sebagai Fakultas Psikologi, tapi Pendidikan Asisten Psikologi. Setelah prasarana dirasa cukup, ditingkatkan menjadi jenjang sarjana lengkap, dengan nama Pendidikan Ahli Psikologi Tingkat Universitas. Dan akhirnya, setelah benar bisa menghasilkan sarjana, baru memakai nama Fakultas.

“Pada masa tersebut, saya masih mempunyai takhayul, kalau sembarangan memakai nama fakultas, maka kalau gagal bisa kualat,” Tulis Prof. Slamet dalam bukunya (1992: 212).

Prof. Slamet sempat menjadi rektor Universitas Indonesia selama setahun (1973-1974), menggantikan Sumantri Brodjonegoro yang meninggal pada tahun 1973.

Menjaga Kehormatan Nasional

Dalam buku biografinya, Prof. Slamet banyak menyisipkan humor-humor bernas yang sering ia lontarkan selama hidupnya. Suatu saat, ia pernah didatangi utusan dari Istana dan tiba-tiba ditanya: “Apakah Profesor Slamet anti Bung Karno?”

Kaget, Prof. Slamet langsung menanggapi kenapa pertanyaan itu diluncurkan kepadanya. Sang utusan Istana kemudian menjelaskan, “Semua tokoh Universitas Indonesia sering dan biasa datang ke Istana. Cuma Prof. Slamet yang tidak pernah kelihatan.”

Menanggapi itu, Prof. Slamet meminta informasi kepada utusan Istana, siapa saja yang biasa datang ke Istana. Sang utusan Istana kemudian menyebutkan nama-nama: Prof. Sarwono, Prof. Djoened, Prof. Ouw Eng Liang, Prof. Asikin, Prof. Aulia, dan lain-lain.

“Saya tidak pernah datang, oleh karena saya menjaga kehormatan nasional, jelas atau tidak?” Kata Prof. Slamet.

“Kehormatan bagaimana?”

“Begini, Prof. Sarwono adalah ahli kandungan. Kalau beliau datang ke Istana, barangkali Ibu Fatmawati sakit atau perlu diperiksa dalam hal yang urusannya dengan kandungan. Prof. Djoened adalah ahli penyakit anak-anak. Jadi barangkali Guntur atau adik-adiknya sakit.Prof. Ouw Eng Liang adalah ahli penyakit gigi. Mungkin, salah satu penghuni Istana sakit gigi.”

Prof. Slamet melanjutkan, “Prof. Asikin dan Prof. Aulia adalah ahli penyakit dalam. Mungkin batu ginjal Presiden Soekarno ngadat. Lha, saya ini kan ahli penyakit syaraf dan jiwa. Jadi, … ?”

Sang utusan tiba-tiba berdiri, langsung keluar. Tak lama kemudian ia masuk, duduk lagi. Sambil ketawa terpingkal, sang utusan Istana berkata dalam bahasa Jawa: “Mbok menawi mangsuli, ampun mekaten!” Prof. Slamet menjawab, “Lha, kados pundi?” (“Kalau menjawab, mbok jangan begitu!” “Lha, gimana dong?”).

Avatar
Latest posts by Ananta Damarjati (see all)

Pos terkait