Scroll untuk baca artikel
Berita

Tarif Trump 32% Mulai Berlaku! Rupiah Terancam Jatuh ke Level Mengerikan

×

Tarif Trump 32% Mulai Berlaku! Rupiah Terancam Jatuh ke Level Mengerikan

Sebarkan artikel ini
Tarif Trump 32%
Ilustrasi/barisan.co

Sejarah mencatat, kebijakan ekonomi Trump pernah menjatuhkan Argentina, apakah Indonesia akan mengalami nasib serupa?

BARISAN.CO – Pemerintahan Donald Trump resmi memberlakukan tarif resiprokal sebesar 32% terhadap Indonesia mulai hari ini.

Kebijakan ini dikhawatirkan akan berdampak besar pada ekspor Indonesia ke Amerika Serikat (AS), terutama di sektor elektronik, tekstil, alas kaki, kelapa sawit, karet, furnitur, dan produk perikanan.

Namun, dampak yang lebih luas bisa terjadi di pasar keuangan Indonesia, terutama pada pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan nilai tukar rupiah.

Kebijakan ini diperkirakan akan meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global, yang berisiko menekan harga obligasi pemerintah serta memicu pelemahan nilai tukar rupiah.

Menyadari ancaman tersebut, Pemerintah Indonesia segera merespons dengan menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.

Dalam siaran pers yang dirilis Kemenko Perekonomian pada 3 April 2025, pemerintah menyatakan akan berkoordinasi dengan Bank Indonesia untuk menstabilkan yield SBN dan menjaga likuiditas valas guna mendukung dunia usaha serta stabilitas ekonomi.

“Pemerintah Indonesia berkomitmen menjaga stabilitas yield Surat Berharga Negara (SBN) di tengah gejolak pasar keuangan global pasca pengumuman tarif resiprokal AS,” demikian pernyataan dalam siaran pers tersebut.

Selain itu, pemerintah juga memastikan ketersediaan likuiditas dalam negeri agar investor tidak melakukan aksi jual besar-besaran terhadap aset keuangan Indonesia.

Menurut Yanuar Rizky, ekonom senior Bright Institute, kebijakan tarif Trump ini bukan sekadar isu perdagangan, tetapi juga bisa memicu gejolak di pasar keuangan global. Salah satu dampak yang harus diwaspadai adalah meningkatnya risiko terhadap harga SBN dan naiknya yield obligasi.

“Jika yield SBN naik terlalu tinggi, ini akan berimbas pada kondisi perbankan serta dana asuransi dan pensiun. Hal ini bisa menyebabkan likuiditas ketat dan berpotensi memperburuk ekonomi domestik,” ujarnya.

Kondisi ini diperburuk dengan tren pelemahan rupiah. Saat ini, nilai tukar rupiah sudah mencapai Rp16.700 per dolar AS, dengan tren yang lebih tinggi dibandingkan yield obligasi pemerintah yang masih berada di angka 7,2%. Jika tekanan berlanjut, bukan tidak mungkin rupiah bisa semakin melemah.

Dalam sejarahnya, kebijakan ekonomi Trump sering kali didukung oleh investor besar di pasar keuangan. Pada periode kepemimpinan Trump sebelumnya, manajer hedge fund seperti Paul Singer dari Elliot Management mengambil keuntungan dengan melakukan aksi “shorting” terhadap obligasi pemerintah berbagai negara.

Argentina menjadi salah satu korban utama pada 2016, ketika nilai obligasi pemerintahnya anjlok dan negara tersebut akhirnya gagal bayar. Indonesia juga sempat terdampak, dengan yield SBN melonjak hingga 9,44% dan rupiah melemah ke Rp15.808 per dolar AS pada saat itu.