Scroll untuk baca artikel
Kontemplasi

Covid-19: Tegakkan Salat

Redaksi
×

Covid-19: Tegakkan Salat

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Tersebut, “Mintalah pertolongan dengan kesabaran dan dengan salat!” (Al-Baqarah: 45). Sebuah untaian ayat yang mengaitkan salat sebagai sarana untuk mendapat kebaikan. Lebih-lebih kalau kita tilik dari panggilan salat, azan: “Marilah salat, marilah menuju kepada falah.” Seolah penjelasan bahwa ajakan melakukan salat itu dengan serta merta diikuti oleh alasan tujuan salat, yakni falah atau memperoleh kesejahteraan.

Bentuk kesejahteraan bisa bermacam-macam, termasuk kemenangan kita semua dari virus pandemi Covid-19. Walau memang, kebenaran spiritual, salat, tidak dapat dipastikan sama sekali baik secara logis maupun empiris. Namun, paling tidak begini, laku spiritual seperti salat ini, menolong kita untuk bisa memusatkan perhatian terhadap suatu keinginan.

Melalui pemusatan kekuatan batin, maka langkah logis dan empiris kita tepat mengarah kepada realisasi. Tidak semata bertumpu pada kekuatan nalar, dan upaya fisik.

Saya meyakini, salat itu mencipta hubungan intim seseorang dengan Yang Mahagaib, yakni kekuatan yang tak terbatas untuk mencapai kebaikan, untuk memeliahara seluruh alam.

Hal itu bisa kita telisik dari surat Al-Fatihah, yang merupakan bacaan wajib dalam salat. Surat ini memberikan gambaran yang sempurna tentang Islam, bagaimana kita bersikap terhadap Allah, terhadap manusia, dan terhadap alam.

Diawali dengan pujian kepada Tuhan yang melindungi seluruh alam semesta. Dan, tentu saja pujian tersebut bukan lantaran Dia gila pujian, dan sebagainya. Tetapi kita memuji Tuhan, lebih karena kita ingin mendapat cahaya, dan terangkat sebagai manusia yang sempurna. Kita memuji-Nya sebagai pelindung seluruh alam, mengisyaratkan kita harus berusaha menyerupai Dia dalam memelihara dan melindungi semua nilai kehidupan.

Saat kita mengakui Tuhan sebagai pelindung segenap semesta, sama artinya mengakui adanya kesatuan seluruh eksistensi yang bersatu dalam Allah. Alam tidak berdiri secara terpisah satu sama lain.

Bahwa segala yang ada dicipta Tuhan dengan tujuan tertentu, dan tujuan dari seluruh eksistensi berkaitan satu sama lain. Semua, termasuk manusia, sesungguhnya mengarah kepada Tuhan.

Manusia, hidup di muka bumi, sebagai mikrokosmos yang dalam dirinya setiap aspek makrokosmos terwakili. Sehingga, tak aneh hanya, dan memang hanya, manusia yang terpilih sebagai wakil-Nya di muka bumi.

Oleh karenanya, Allah adalah penyempurna dan pelindung seluruh alam, maka kita pun harus berupaya menyempurnakan dan melindungi setiap aspek yang seharusnya kita hadapi di dunia ini.

Adapun menyempurnakan dan melindungi bersirat dengan pemberian penghargaan dan hukuman demi kebaikan yang lebih luas. Sehingga, kelestarian, keteraturan tatanan, dan keindahan semesta terjaga.

Nah, berkaitan dengan pandemi, serasa ada siklus yang hendak dimainkan Tuhan, bahwa semenjak era teknologi, kita lebih sering memusuhi alam. Industrialisasi bukannya beramah-tamah dengan alam, melainkan merusaknya habis-habisan. Bumi kian keropos, dan kiamat serasa dekat. Perubahan iklim tak terelakkan. Panas dan dingin tak teratur, tepatnya tak terprediksi.

Aktivis-aktivis lingkungan telah mengingatkan. Mereka memprotes pemimpin-pemimpin dunia yang tak kunjung menghentikan pola perusakan alam. Namun, kita tahu, semua itu berasa angin lalu. Penguasa politik dan kapital tak peduli dengan gejolak alam. Kemudian, hadirlah virus korona yang mengubah irama hidup kita semua.

Ia merusak tubuh kita, yang cara menghentikannya pun simpel, sebetulnya, cukup dengan meningkatkan daya tahan tubuh plus menjaga kebersihan. Artinya, kita mesti menengok kembali dan berkarib ria dengan alam.