Scroll untuk baca artikel
Kolom

Djawahir Muhammad

Redaksi
×

Djawahir Muhammad

Sebarkan artikel ini

NAMA aslinya Muhammad Djawahir. Diubah dengan satu alasan. Itu diakukan sendiri olehnya kala pertama kami berkenalan 1981, di satu warung di Gumuh Kendal. Kala kami diundang satu acara Gunoto Saparie.

Katanya, “saya pengagum Goenawan Mohamad, jadi nama saya juga saya balik, Djawahir Muhammad.”

Dia penyayang binatang. Satu saat dia mengajak saya ke rumahnya di Tandang Semarang, saya membonceng sepeda motor bututnya. Rumahnya di ujung jalan sempit menanjak ada kandang bambu dan banyak marmut.

Belakangan dia memelihara banyak binatang, dari monyet hingga simpanse. Halaman samping dan belakang rumahnya layak kebon binatang. Tentu biaya untuk itu lebih mahal dari kebutuhan makan manusia.

Saya jadi berpikir, terhadap binatang saja begitu sayang, terlebih kepada manusia. Begitulah Mas Djawahir, murid teaternya banyak dan disikapi seperti anak sendiri.

Dimulai dari Teater Kuncup hingga Aktor studio, grup teater dapukannya. Aktor-aktornya: Chotrex Creatio, Basa Al Kalam, Maulid Ndalu, Kelana Sebumi, Wage Teguh, Evita Erasari — untuk menyebut beberapa nama.

Satu pementasannya dari naskah Arifin C Noer, “Sumur Tanpa Dasar”, dipentaskan di TBRS Semarang. Tapi nahas, mungkin sebab soal proses latihan, pada hari ‘h’ nya dia kehilangan suara. Jadi dia sebagai aktor utama harus berjuang keras, supaya vokal serak habisnya sampai ke penonton.

Di akhir pertunjukan, beliau dari panggung lari ke depan pintu penonton. Masih berias kostum peran Jumena Martawangsa, mengucapkan maaf sebesar-besarnya. Termasuk kepada saya.

Satu peristiwa yang menandai persahabatan kami, saat saya membutuhkan uang untuk membayar kuliah anak saya. Saya pergi ke rumahnya di Tandang, minta dia membeli lukisan saya. Lukisan, karena cukup besar tidak saya bawa, tapi uang saya minta dulu.

Mas Djawahir, karena tidak punya uang, berjanji akan mengupayakan, “besok saya ke rumah Anda,” yakinnya. Benar, besoknya beliau datang bermobil bersama beberapa aktornya. Lukisan saya dia bawa, dan uangnya saya serahkan kepada anak saya di hadapannya.

Detik itu perasaan saya biasa saja, tapi saya lihat mata beliau berkaca-kaca. Selamat jalan Mas Djawahir Muhammad , sinarmu akan kembali ke cahayaNya, dan kita pasti bertemu lagi.***