Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, tapi momentum pulang ke dalam diri dan menemukan jati diri sejati.
Oleh: Imam Trikarsohadi
Ahad 22 Pebruari 2026 atau hari keempat Ramadhan 1447 H, saya menyempatkan diri berbuka puasa hingga tarawih di kawasan Masjid Nurul Hidaya, Brawijaya, Jakarta Selatan.
Apa boleh buat, tempat ini merupakan salah satu favorit saya di Jakarta oleh sebab pelbagai alasan. Salah satunya karena disini tempat berkumpulnya para sahabat dengan kedalaman ilmu dan luasnya pengalaman yang selalu memantik gairah sinau.
Meski acapkali dilontarkan sambil guyon, selalu saja ada poin – poin yang eksentrik. Dan kali ini, meski tak dibahas menohok, tapi yang jika digaris bawahi, muncul pembahasan ihwal mengenali diri sendiri. Maklum dalam suasana Ramadhan, jadi topik – topik terkait aneka macam geo, dibincangkan tipis – tipis saja.
Akan halnya topik mengenali diri sendiri, tentu saja menarik dan perlu, karena hal ini merupakan landasan kebijaksanaan sebagai kunci hidup yang bermakna.
Proses ini melibatkan penyelidikan mendalam mengenai hakikat diri, kesadaran emosi, watak, potensi, dan tujuan hidup, yang membedakan manusia dari sekadar hidup fisik.
Mengenal diri merupakan perjalanan seumur hidup untuk mencapai hidup otentik, bijaksana, dan mampu mengendalikan diri.
Hal tersebut merupakan langkah awal untuk menjadi bijaksana, di mana kita merenungkan hidup untuk membedakan antara sisi jasmani yang sementara dan rohani yang abadi.
Sebab itu, mengenali diri sendiri juga merupakan proses melepaskan “kotoran”seperti; trauma, purbasangka, pola pikir negatif, dsb untuk menemukan inti cahaya atau jati diri yang sesungguhnya.
Dengan demikian, kita akan memahami batasan dan mengelola diri sendiri, bukan sekadar mengikuti tren atau opini publik, sehingga kita hidup sesuai dengan nilai-nilai sejati, bukan sekadar meniru orang lain.
Secara makrifat, mengenali diri adalah perjalanan spiritual guna memahami hakikat jiwa, kelemahan, dan kefanaan diri untuk mengenali Sang Pencipta sesuai prinsip Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu.
Caranya antara lain dengan mensucikan hati (tazkiyatun nafs), berdzikir, kontemplasi (tafakur), dan menyadari diri sebagai hamba yang lemah di hadapan Allah.
Dan, momen utama untuk mengenali diri sendiri adalah puasa ramadhan dengan melatih pengendalian hawa nafsu, emosi, dan lisan. Melalui puasa, kita belajar kejujuran (menjaga diri saat sendirian), kesabaran, empati, dan menemukan pola emosi serta pikiran yang perlu diperbaiki.
Ringkasnya, puasa Ramadhan mendidik manusia untuk menjadi pribadi yang lebih disiplin, sabar, dan jujur dengan memahami kebutuhan serta kelemahan diri sendiri. []









