Ramadhan bukan sekadar mengaji, tapi mengkaji: membaca Al-Qur’an sekaligus menyelami makna dan diri.
Oleh: Imam Trikarsohadi
SALAH satu kegiatan ibadah yang cukup mencolok selama bulan Ramadhan adalah Tadarus.
Dengan skala dan kapasitasnya yang beragam, tadarus berlangsung di rumah – rumah, surau – surau, masjid, perkumpulan – perkumpulan pengajian serta banyak tempat lainnya, yang terdengar nyaring, sedang – sedang saja, dan bahkan ada yang seperti bergumam.
Sejatinya, Tadarus Al-Qur’an bukan hanya sekadar aktivitas membaca kitab suci secara berulang atau berjamaah, melainkan sebuah proses dialogis-spiritual untuk memahami, meresapi, dan mengamalkan nilai-nilai Ilahi dalam kehidupan manusia.
Secara filosofis, tadarus mencerminkan upaya manusia untuk terhubung dengan Sang Khalik melalui perantara wahyu, guna mencapai ketenangan jiwa dan kesempurnaan akhlak.
Pada hakikatnya, Tadarus berbeda dengan tilawah biasa. Tadarus menekankan pada tadabbur (perenungan makna) dan pemahaman mendalam, bukan hanya khatam lafadz.
Sebab itu, saat seseorang bertadarus, ia sesungguhnya sedang berdialog dengan Allah SWT. Membaca ayat-ayat-Nya adalah cara merespons firman-Nya, sementara mendengarkan bacaan orang lain (dalam tadarus berjamaah) adalah upaya menyimak wahyu-Nya.
Dengan demikian, Tadarus berperan membersihkan akal dan mensucikan jiwa dari sifat tercela, serta memantapkan keimanan kepada Allah.
Secara filosofis, tadarus adalah terapi mental. Suara lantunan Al-Qur’an dan pemahaman maknanya memberikan penenang bagi jiwa yang gelisah dan melunakkan hati yang keras.
Filosofi tertinggi dari tadarus adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai manhajul hayah (pedoman hidup), bukan sekadar pajangan atau bacaan seremonial.
Ringkasnua, Tadarus adalah upaya perenial (kekal) manusia untuk menundukkan diri di hadapan keagungan Allah dengan cara membaca (qira’ah), memahami (tadabbur), dan mengamalkan (tatbiq) ayat-ayat-Nya agar tercipta ketenangan di dunia dan keselamatan di akhirat.
Akan lebih afdol lagi bila selain bertadarus, kita juga menyelam ke dalam diri untuk menemukan hikmah dan kebenaran Tuhan. Karena diri kita sendiri adalah kitab yang terbuka (kitabun mastur), dimana tanda-tanda kebesaran Tuhan, hikmah kehidupan, dan hakikat diri terdapat di dalam diri manusia.
Inilah yang lazim dikenal sebagai filsafat kitab dalam diri sendiri. Dalam konsep ini,manusia dianggap sebagai tiruan kecil dari alam semesta (makrokosmos) yang mencerminkan sifat-sifat Tuhan. Karenanya, mengenal diri sendiri adalah jalan utama mengenal pencipta-Nya.
Membaca tanda (“ayat”) di dalam diri, sama seperti membaca kitab suci, sebab itu manusia dianjurkan membaca “ayat-ayat” yang tertulis dalam diri mereka, seperti hati, ruh, nafsu, dan akal.
Tantangannya, kitab di dalam diri hanya bisa dibaca dengan jelas jika jiwa bersih. Proses pembersihan hati akan membantu manusia memahami hikmah dan kebenaran.
Membaca kitab dalam diri berarti melakukan muhasabah secara terus menerus, memahami kelebihan, kekurangan, dan asal-usul penciptaan untuk kebahagiaan sejati.
Ringkasnya, filsafat ini mengajak manusia untuk tidak hanya melihat ke luar, tetapi menyelam ke dalam diri (menghujam ke dalam) untuk menemukan hikmah dan kebenaran Tuhan. []









