Tidak semua orang tua selalu merasa ‘klik’ dengan anaknya dan itu lebih umum dari yang kita kira.
BARISAN.CO – Tidak semua perasaan dalam parenting selalu indah dan penuh kasih tanpa jeda. Ada kalanya orang tua justru merasakan hal yang tidak nyaman terhadap anaknya sendiri, seperti rasa tidak suka, jengkel, atau bahkan penolakan halus.
Perasaan ini seringkali disimpan sendiri karena dianggap tabu, padahal dalam perspektif pendidikan, psikologi, dan parenting, kondisi ini cukup manusiawi dan bisa dipahami.
Salah satu penyebab yang cukup umum adalah adanya ekspektasi awal yang tidak terpenuhi, seperti keinginan memiliki anak perempuan namun yang lahir adalah laki-laki.
Secara psikologis, harapan yang tidak terwujud ini bisa meninggalkan jejak emosi yang belum sepenuhnya selesai.
Tanpa disadari, anak kemudian menjadi “pengingat” dari keinginan tersebut, sehingga muncul jarak emosional yang sulit dijelaskan.
Ini bukan berarti orang tua tidak sayang, tetapi ada bagian perasaan yang belum berdamai dengan kenyataan.
Di sisi lain, perilaku anak usia TK yang cenderung aktif, keras, suka berteriak, memukul, atau bahkan merusak barang sebenarnya masih berada dalam tahap perkembangan yang wajar.
Anak pada usia ini belum memiliki kemampuan mengelola emosi dengan baik. Mereka belum sepenuhnya mampu membedakan cara mengekspresikan marah, kecewa, atau frustrasi secara tepat, sehingga emosi sering keluar dalam bentuk fisik seperti memukul atau berteriak.
Dalam dunia pendidikan anak usia dini, hal ini dipahami sebagai bagian dari proses belajar mengontrol diri.
Bahkan, anak yang terlihat “keras” sering kali adalah anak dengan energi tinggi dan kemauan kuat, yang dalam istilah psikologi disebut sebagai strong-willed child.
Anak seperti ini bukan berarti bermasalah, melainkan membutuhkan pendekatan yang lebih tepat agar energinya bisa tersalurkan secara positif.
Menariknya, ketika seorang anak suka bercerita, itu sebenarnya merupakan tanda bahwa ia memiliki kemampuan komunikasi dan imajinasi yang baik. Ini adalah potensi besar yang sering kali tidak disadari oleh orang tua karena tertutup oleh perilaku yang dianggap mengganggu.
Dalam konteks pendidikan, kemampuan bercerita menunjukkan bahwa anak sedang aktif mengolah pengalaman, memahami dunia sekitarnya, dan mencoba terhubung dengan orang lain.
Namun, jika orang tua sudah terlanjur merasa tidak nyaman atau lelah menghadapi perilakunya, momen-momen positif seperti ini sering terlewatkan. Akibatnya, hubungan emosional antara orang tua dan anak menjadi semakin renggang.
Dari sudut pandang parenting, rasa tidak suka terhadap anak sering muncul bukan karena anak semata, tetapi karena kombinasi antara kelelahan orang tua, tekanan, serta ekspektasi yang tidak sesuai dengan kenyataan.
Ketika orang tua terus-menerus menghadapi perilaku yang dianggap sulit tanpa jeda yang cukup untuk memulihkan diri, emosi negatif menjadi lebih mudah muncul.
Hal ini diperparah jika orang tua mulai memberi label pada anak, seperti “nakal”, “susah diatur”, atau “berbeda dari yang diharapkan”.
Label seperti ini, jika terus diulang, dapat memengaruhi cara orang tua memperlakukan anak, dan pada akhirnya juga memengaruhi bagaimana anak melihat dirinya sendiri.
Anak yang merasa tidak disukai atau tidak diterima berisiko mengalami penurunan kepercayaan diri, kesulitan mengatur emosi, bahkan masalah dalam hubungan sosial di kemudian hari.
Oleh karena itu, langkah penting yang perlu dilakukan bukanlah memaksa diri untuk langsung merasa sayang, tetapi mulai dengan mengubah cara pandang terhadap anak.
Anak yang keras bisa dilihat sebagai anak dengan energi besar. Anak yang suka merusak bisa dipahami sebagai anak yang sedang belajar batas.
Anak yang banyak bicara bisa dipahami sebagai anak yang sedang mengembangkan kemampuan komunikasi. Perubahan sudut pandang ini tidak instan, tetapi dapat membantu membuka ruang empati yang sebelumnya tertutup oleh rasa lelah dan kecewa.
Selain itu, membangun kembali hubungan emosional dapat dimulai dari hal-hal kecil. Misalnya, mencoba menemukan satu hal yang disukai dari anak setiap hari, sekecil apa pun itu.
Meluangkan waktu beberapa menit untuk benar-benar mendengarkan ketika anak bercerita juga dapat menjadi jembatan yang memperkuat kedekatan.
Dalam menghadapi perilaku yang tidak diinginkan, penting untuk memisahkan antara tindakan dan identitas anak.
Orang tua bisa mengatakan “Mama tidak suka kamu memukul” tanpa harus mengatakan “kamu anak nakal”. Dengan cara ini, anak belajar bahwa perilakunya bisa diperbaiki tanpa merasa dirinya ditolak.
Pada akhirnya, perjalanan menjadi orang tua memang tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada dinamika, ada tantangan, dan ada proses belajar yang berlangsung terus-menerus.
Perasaan tidak nyaman terhadap anak bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sinyal bahwa ada hal yang perlu dipahami lebih dalam baik tentang diri sendiri maupun tentang anak.
Justru dalam situasi seperti inilah, orang tua memiliki kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih jujur, lebih sadar, dan lebih kuat.
Tidak jarang, anak yang paling menantang justru menjadi anak yang paling dekat, ketika orang tua berhasil menemukan cara untuk memahami dan menerimanya apa adanya. []









