“Perahu Kayu” jadi pembuka penuh makna Ngunduh Mantu Calvin dan Nina, membawa pesan tentang kokohnya bahtera rumah tangga menghadapi setiap ombak kehidupan.
BARISAN.CO – Komunitas Kaligawe (KOWE) membuka prosesi Ngunduh Mantu putra-putri Presiden KOWE Teha Edy Djohar dengan pertunjukan performance art bertajuk “Perahu Kayu” di Kampung Tanggung Rejo RT 01 RW VI, Kaligawe, Minggu (6/9/2026).
Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari rangkaian hajatan budaya “Presiden KOWE Duwe Gawe”. KOWE menghadirkan “Perahu Kayu” sebagai bentuk penyambutan terhadap kedua mempelai, Calvin dan Nina, serta rombongan besan yang datang dari Medan.
Sejak rombongan mendekati kawasan Kampung Tanggung Rejo, suasana jalan berubah menjadi ruang pertunjukan. Warga menghias jalan dengan gapura bambu, anyaman, keranjang, dan lampion gantung. Ornamen tersebut sekaligus menandai jalur yang akan dilalui rombongan menuju lokasi resepsi.
Sejumlah seniman KOWE kemudian mengambil posisi di sepanjang jalur penyambutan. Mereka mengenakan kostum hitam dan membawa kain panjang berwarna gelap. Para performer menggerakkan kain secara bersama-sama hingga membentuk visual seperti gelombang laut.
Gerakan tersebut menjadi bagian utama dari konsep “Perahu Kayu”. Para seniman menghadirkan gambaran sebuah perahu yang bergerak di tengah lautan. Kain yang bergelombang menggambarkan ombak, sedangkan manusia perahu menggambarkan perjalanan kedua mempelai dalam memasuki kehidupan rumah tangga.
Koordinator performance art “Perahu Kayu”, Basa Basuki, mengatakan pertunjukan tersebut membawa pesan tentang perjalanan pasangan dalam membangun rumah tangga.
“Perahu Kayu adalah simbol dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Terkadang ada ombak besar, yakni permasalahan. Semua dapat dilalui jika perahu kayu tersebut tetap kokoh dijalani,” kata Basa.
Menurut Basa, konsep perahu dalam pertunjukan itu juga memiliki makna tentang kehidupan dan kemandirian. Ia menyebut perahu kayu tersebut sebagai Hayyu Qayyum, yang menjadi simbol kehidupan sekaligus kemampuan untuk berdiri dan menjalani kehidupan secara mandiri.
“Sebab perahu kayu tersebut Hayyu Qayyum, ia adalah kehidupan dan kemandirian,” ujarnya.
KOWE tidak sekadar menghadirkan pertunjukan visual dalam prosesi tersebut. Para seniman juga membangun suasana penyambutan melalui gerak, musik, dan simbol yang berkaitan dengan perjalanan kehidupan rumah tangga.
Dalam pertunjukan itu, Lusi Maulid Ndalu dan Lukni Maulana tampil sebagai perwujudan “manusia perahu”. Basa Basuki mengambil peran sebagai nahkoda yang menentukan arah perjalanan. Sementara itu, Slamet Unggul dan Agung Wibowo tampil sebagai nelayan pencari ikan.
Chotrex Tri Budiyanto hadir sebagai “penyair langitan” yang menyampaikan pesan melalui perpaduan gerak dan kata. Tundung dan Madezzu Lee mengisi musik pengiring yang menghidupkan suasana pertunjukan sepanjang prosesi penyambutan.
Rombongan besan dari Medan kemudian memasuki jalur penyambutan. KOWE menyambut kedatangan mereka dengan tarian dan payung warna-warni.
Seorang gadis kecil bernama Gendis turut menarik perhatian warga. Ia berada di barisan terdepan sambil membawa payung dan menari menyambut kedua mempelai serta rombongan besan.
Di belakang Gendis, Presiden KOWE Teha Edy Djohar bersama istrinya, Widhiastuti Djohar, berjalan mengiringi rombongan. Warga yang berada di sepanjang jalan turut menyambut kedatangan rombongan dengan antusias.
Iring-iringan kemudian bergerak menuju gerbang utama yang bertuliskan “PRESIDEN KOWE DUWE GAWE”. Rombongan melewati gerbang tersebut sebelum memasuki tenda resepsi yang telah disiapkan.
Basa mengatakan KOWE sengaja menghadirkan “Perahu Kayu” sebagai persembahan untuk pernikahan Calvin dan Nina, putri Teha Edy Djohar. Pertunjukan itu sekaligus menjadi doa agar pasangan tersebut mampu menjalani kehidupan rumah tangga dengan keteguhan dan keberkahan.
“Ini adalah persembahan Komunitas Kaligawe untuk pernikahan Calvin dan Nina, putri Teha Edy Djohar. Semoga senantiasa diberikan samudra kasih dan keberkahan dalam menjalani rumah tangga,” kata Basa.
Konsep “Perahu Kayu” menempatkan perjalanan laut sebagai metafora kehidupan pasangan suami istri. Perahu menjadi gambaran bahtera rumah tangga, sementara ombak merepresentasikan berbagai persoalan yang dapat muncul dalam perjalanan kehidupan.
Melalui simbol tersebut, KOWE menyampaikan pesan bahwa pasangan membutuhkan keteguhan, kebersamaan, dan kemandirian untuk menghadapi setiap tantangan. Perahu yang kokoh menjadi gambaran rumah tangga yang mampu bertahan ketika menghadapi gelombang kehidupan.
Usai prosesi penyambutan, rangkaian acara “Presiden KOWE Duwe Gawe” berlanjut ke panggung pertunjukan. Para seniman dan tamu undangan mengikuti acara yang menggabungkan unsur seni, sastra, dan budaya.
KOWE menghadirkan Sastra Keroncong dan Panggung Sastra sebagai bagian dari rangkaian hajatan tersebut. Pertunjukan itu mempertemukan tradisi pernikahan dengan ekspresi seni yang berkembang di lingkungan komunitas.
Prosesi “Perahu Kayu” sekaligus menunjukkan cara KOWE mengemas penyambutan pengantin melalui pendekatan seni jalanan. Jalan kampung tidak hanya menjadi jalur rombongan, tetapi juga menjadi ruang interaksi antara seniman, keluarga pengantin, tamu undangan, dan warga.
KOWE membawa pesan bahwa pernikahan tidak hanya menjadi perayaan keluarga. Hajatan tersebut juga dapat menjadi ruang perjumpaan budaya dan seni.
Melalui “Perahu Kayu”, komunitas tersebut menyampaikan doa untuk Calvin dan Nina agar mampu mengarungi kehidupan rumah tangga dengan kokoh hingga mencapai dermaga kehidupan yang penuh kasih dan keberkahan. []









