Arogansi dalam Sastra: Pengalaman Menjuri Buku Puisi

  • Whatsapp
Satra
Oleh: Eko Tunas

Barisan.co – Bagi saya puisi benar adalah yang sudah tidak membutuhkan pujian. Sudah tidak butuh kritik, apalagi dari para kritikus arogan sedonya. Arogan sebab karya puisi yang ada: sombong dan arogan. Arogan ketemu arogan dalam bahasa, jadi klop.

Mengapa bahasa puisi jadi arogan, terlalu pamer estetika bahasa. Sebabnya puisi dan sastra adalah cermin bugil sastrawannya. Sifat dan watak asli manusianya tercermin setelanjangnya.

Bacaan Lainnya

Bersyukur kita jadi bangsa Indonesia, yang punya agama dan adat (Jawa dll). Sehingga dalam perilaku sehari-hari kita tampak baik, berpakaian sopan, dan berbicara santun. Tapi anda akan bugil dalam karya sastra anda.


DI SEPANJANG sejarahnya, penyair menulis puisi berdasar pengalaman. Didorong atas pengalaman hidup, pengalaman nalarnya. Nalar sebatas paradigma, sebatas kacamata, sebagai mahluk terbatas. Ingat binatang juga punya otak dan hati.

Ihwal nalar ini jadi penting, karena bagaimana dengan nalarnya, penyair menulis pengalaman. Pengalaman hidup, rokhani dan intelektualnya. Tentu dia tidak akan tega mengurung diri sambil menuding: rakyat buta sastra!

Tidak ada di sepanjang sejarahnya penyair menulis semata lantaran bahasa. Bahasa yang diindah-indahkan, didahsyat-dahsyatkan. Kalau pun ada ya dia bukan penyair, tapi sekadar pengrajin bahasa. Pengrajin arogan yang disukai kritikus arogan sedonya.


BAGAIMANA penyair yang menulis kepahitan hidup, kok butuh pujian, butuh dikritik (estetika) bahasanya. Tentu ini pekerjaan konyol. Termasuk saat mereka tak menyadari, rakyat lebih pahit hidupnya — bayangkan kalau rakyat mau menulis puisi.

Seperti Chairil saat menulis pengalaman pahitnya. Lalu para kritikus arogan mengkritik hanya soal bahasanya. Bahasa puisi Chairil yang dikatakan telah malampai angkatan sebelumnya. Kalau Chairil masih hidup tentu dia akan marah, telah dikonyoli para kritikus arogan.

Sebagaimana Cesar Vallejo yang menulis kepahitan hidupnya. Penderitaan sebagai gelandangan, kelaparan dan sakit tak diketahui. Kalau para kritikus itu masih menilainya dari sekadar kanon keindahan bahasanya ya sudah: itulah puncak arogansi anda.***

Kandank Warak
Latest posts by Kandank Warak (see all)

Pos terkait