Scroll untuk baca artikel
Khazanah

Filosofi Iqra’: Memperoleh Pemahaman Utuh

Redaksi
×

Filosofi Iqra’: Memperoleh Pemahaman Utuh

Sebarkan artikel ini

“Yang mesti kita hidupkan itu ilmu. Betapa dunia akan terlaknat, seluruh isi dunia terlaknat, kecuali orang yang alim. Karena itulah jangan anti ilmu, meski kita tak paham.”

Begitu pembuka Gus Baha ketika mengisi kajian di PSQ (Pusat Studi Al-Quran), 20 Juli 2020. Ada yang baru, tepatnya saya baru mengerti, perihal tafsir lima ayat surat Al-‘Alaq, wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam, seusai menyimak paparan beliau.

Manusia tercipta dari al-‘alaq. Dalam terjemahan yang kerap saya dengar dan baca, al-‘alaq diterjemahkan sebagai segumpal darah. Namun, Gus Baha—dalam pengajian yang berbeda—menjelaskan, al-‘alaq sebagai sesuatu yang menempel atau bergantung yang lain. Dan, ternyata memang begitu, manusia bertabiat tergantung kepada yang lain, terlebih di awal proses keberadaan, sangat bergantung kepada sosok ibu.

Kemudian, keseluruhan lima ayat awal surat Al-‘Alaq itu merujuk kehadiran manusia yang mesti mendayagunakan kecerdasan untuk memahami diri dan alam yang bertaut dengan Allah swt. Dengan demikian, sebagaimana ditegaskan Gus Baha, semua beratas nama ilmu.

Kita telisik lebih jauh iqra’ bismi rabbikal ladzi khalaq. Bacalah, perintah pertama yang diterima Nabi saw. Kita mafhum bahwa melalui kegiatan membaca ini, akan bertambah pengetahuan. Dan di dalam membaca ini pula kita diperintah untuk tidak memotong sesuatu dari asalnya, yaitu Tuhan yang menjadikan.

Selanjutnya, Allah memperkenalkan diri: Iqra’ wa rabbuka al- akram. Ia menyifati diri sebagai akram, yang Mahamulia, yaitu al-ladzi ‘allama, yang mengajar. Sehingga dalam konteks kita: orang terbaik, yang paling karim, yang paling dermawan adalah yang mengajar.

“Bahkan Nabi saw menandaskan,” tutur Gus Baha, “tiada sedekah sebaik kalimat bijak yang diajarkan kepada yang lain.”

Nah, kemampuan mengajar ini mustahil tanpa kepemilikan pengetahuan yang memadai. Sehingga jelas, kenapa kata pertama yang diterima adalah iqra’, dan membacanya pun harus tetap bersambung kepada Allah, sang penyebab.

Hal ini mengandaikan pemahaman betapa objek yang kita baca itu ada berkat dukungan berjuta sebab yang menyusun sejarah jadinya. Betapa sesuatu itu lantaran proses evolusi alam dan jasa budaya yang mengupayakan keberadaan. Dan betapa semua itu toh akhirnya karena Tuhan yang mengizinkan. Tuhanlah, sang pencipta sejati.

Dan selaku makhluk, manusia mesti sadar diri bahwa akan tetap sebagai makhluk, sampai kapan pun tidak akan beralih menjadi tuhan. Bahkan berhadapan dengan alam raya yang luas ini, manusia teramat kecil. Lebih-lebih jika kita mengetahui sekelumit saja dari hakikat alam raya, ternyata kita hanya noktah kecil.

Bumi yang kita tempati ibarat debu melayang di tengah semesta. Termasuk matahari yang saban hari acap kali menyilaukan mata, dan menerbitkan kehangatan di muka bumi, ini juga merupakan titik kecil dari keluarga galaksi bimasakti. Dan begitu seterusnya.

Kembali kepada iqra’ wa rabbuka al- akram, Al-Quran menyifati Tuhan akram, adalah penandasan bahwa Ia akan menganugerahkan puncak dari segala yang terpuji kepada para hamba yang membaca. Dan memang terbukti dalam sejarah, membaca merupakan jalan manusia memperoleh derajat kemanusiaan yang sempurna.

Membaca adalah syarat utama membangun peradaban. Sebaliknya, peradaban hancur tatkala pelaku sejarah tersebut mengabaikan tradisi membaca. Mereka lalai dengan ilmu, baik pengetahuan yang diperoleh maupun ladunni. Mereka gagal menjaga warisan puncak pengetahuan dari generasi sebelum mereka.  

Kemudian, dalam kesempatan berbeda, di sebuah acara peringatan di Ponpes Al-Anwar, Gus Baha menandaskan kepada jemaah pengajian, terkhusus para santri Al-Anwar, agar terus menjaga ilmu. Karena dengan kekuatan ilmu, warisan Nabi saw akan hidup hingga akhir waktu. Dan, “Pastikan semua ilmu itu al-bayyinah, argumentatif secara jelas. Benar-benar argumentatif.” ungkap beliau.