Humor Gus Dur saat Muktamar Cipasung 1994 ternyata bukan sekadar guyonan, karena lima tahun kemudian ia benar-benar menjadi Presiden RI.
BARISAN.CO – Dari sekian banyak kelebihan yang dimiliki Gus Dur, masyarakat mungkin paling mudah mengingat satu hal: humornya. Bagi Gus Dur, humor bukan sekadar bahan untuk membuat orang tertawa.
Ia adalah cara untuk mencairkan suasana, menyampaikan kritik, bahkan menghadapi situasi politik yang serba tegang.
Gus Dur dan humor memang seperti dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan. Dalam forum santai maupun pertemuan resmi, selalu saja ada celah bagi Gus Dur untuk melontarkan guyonan.
Tidak mengherankan jika humornya bisa dinikmati hampir semua kalangan, dari masyarakat biasa hingga tokoh-tokoh dunia.
Kebiasaan itu tidak muncul begitu saja. Humor Gus Dur sangat dekat dengan kultur pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU), tempat guyonan segar menjadi bagian dari keseharian.
Para kiai NU pun dikenal kerap menyelipkan humor ketika memberikan tausiyah. Barangkali inilah salah satu rahasia Gus Dur: membicarakan persoalan serius tanpa harus selalu memasang wajah serius.
Bahkan, humor Gus Dur mampu menembus batas politik dan kenegaraan. Sejumlah pemimpin dunia pernah menjadi saksi bagaimana Gus Dur menggunakan humor untuk mencairkan suasana. Bagi Gus Dur, tampaknya tidak ada panggung yang terlalu resmi untuk sebuah guyonan.
Salah satu kisah yang paling menarik terjadi menjelang dan saat Muktamar NU ke-29 di Cipasung, Tasikmalaya, pada 1994. Saat itu hubungan Gus Dur dengan pemerintahan Soeharto sedang tidak baik. Sikap kritis Gus Dur terhadap pemerintah membuat posisinya tidak selalu nyaman di lingkaran kekuasaan.
Dalam pembukaan Muktamar, Gus Dur bahkan disebut tidak diperkenankan duduk mendampingi Presiden Soeharto. Ia berada di deretan kursi belakang bersama Megawati Soekarnoputri. Sementara itu, tokoh yang berada di dekat Soeharto antara lain KH Ilyas Ruchiyat dan Rozy Munir.
Seusai acara pembukaan, ketika Soeharto beristirahat di aula STAI Cipasung, Gus Dur juga tidak diperkenankan masuk. Ia hanya berada di halaman.
Situasi seperti itu tentu saja bisa membuat orang kesal. Tetapi Gus Dur punya cara sendiri untuk menghadapinya.
Para wartawan yang melihat keadaan tersebut kemudian mengerubunginya.
“Gus, nggak boleh dekat-dekat presiden, ya?”
Gus Dur menjawab santai, “Ah, nggak masalah.”
Wartawan tentu belum puas.
“Nggak masalah gimana, Gus?”
Gus Dur kemudian melempar jawaban yang kelak terasa seperti ramalan politik:
“Daripada mikirin ingin dekat-dekat presiden, lebih baik jadi presiden sekalian nanti.”
Kalimat itu awalnya terdengar seperti guyonan khas Gus Dur. Tetapi politik, rupanya, kadang-kadang punya selera humor sendiri.
Lima tahun kemudian, pada 1999, guyonan tersebut berubah menjadi kenyataan. Gus Dur terpilih secara demokratis menjadi Presiden ke-4 Republik Indonesia.
Dari Muktamar Cipasung, sebuah guyonan Gus Dur justru meninggalkan cerita yang jauh lebih besar. Ia menunjukkan bahwa humor bagi Gus Dur bukan sekadar cara untuk membuat orang tertawa. Di balik guyonannya, sering ada keberanian, kritik, dan cara pandang yang tajam terhadap keadaan.
Mungkin itu pula yang membuat humor Gus Dur tetap dikenang. Sebab, kadang sebuah guyonan bukan hanya membuat kita tertawa. Kadang, guyonan Gus Dur malah keburu menjadi kenyataan. []









