Terkini

Kendati Sering Dibicarakan, Negara Miskin Masih Kesulitan Akses Vaksin

Anatasia Wahyudi
×

Kendati Sering Dibicarakan, Negara Miskin Masih Kesulitan Akses Vaksin

Sebarkan artikel ini
Penyuntikan vaksin AstraZeneca ke seorang warga Kenya: AP PHOTO/Brian Inganga.

BARISAN.CO – Menjelang KTT global di Majelis Umum PBB, Aliansi Vaksin Rakyat menyerukan para pemimpin dunia untuk meningkatkan produksi dan akses vaksin ke seluruh dunia.

Aliansi Vaksin Rakyat merupakan koalisi dari 75 organisasi di seluruh dunia yang bersatu di bawah tujuan bersama untuk mengampanyekan pemerataan vaksin COVID-19 bagi masyarakat global.

“Para pemimpin telah membuat janji besar untuk memvaksinasi dunia, namun gagal memenuhinya. Sebaliknya, mereka mengizinkan perusahaan farmasi untuk tidak memprioritaskan alokasi ke negara-negara miskin. Itu sebabnya kita merasakan ada apartheid soal vaksin,” ungkap Winnie Byanyima, Direktur Eksekutif UNAIDS, Rabu (21/9/2021), dikutip dari Oxfam.org.

Negara-negara miskin, seperti Yaman yang berjuang melawan gelombang ketiga Covid-19 masih belum juga memperoleh manfaat dari janji yang dilontarkan oleh negara-negara kaya untuk menyumbang vaksin.

Berdasarkan Our World in Data per tanggal 29 September, baru 0,2 persen penduduk yang telah divaksinasi lengkap. Sementara negara miskin lainnya, penduduk yang telah divaksinasi penuh tak jauh berbeda dengan Yaman, seperti Uganda dan Nigeria (0,9%), Kenya dan Madagaskar (0,7%), Kamerun (0,3%), Tanzania (0,6%), Republik Afrika Tengah (0,2%), dan masih banyak negara di miskin lainnya yang jumlah penduduknya yang belum divaksinasi mencapai 99 persen.

Jumlah tersebut tentu jauh dibanding negara kaya seperti Amerika Serikat yang telah memvaksinasi penuh (56,2%) penduduknya, Kanada (71,6%), Jepang (59,4%), Jerman (64,4%), UEA (84,3%), atau pun Prancis (66,1%).

Saat sidang PBB masih berlangsung, Kamis (22/9/2021), Aliansi Vaksin Rakyat meminta agar para pemimpin tidak perlu berbasa-basi.

“Sementara pertemuan puncak hari ini adalah langkah ke arah yang benar, basa-basi tidak bisa menyelamatkan nyawa. Saat Presiden Biden berbicara, setiap empat detik, satu orang meninggal karena Covid-19. Terlepas dari beratnya krisis ini, Biden gagal mengurai rencana berkelanjutan untuk meningkatkan produksi vaksin yang paling efektif secara adil,” kata James Krellenstein, salahsatu pendiri PrEP4All yang juga anggota Koalisi Vaksin Rakyat.

James menambahkan jika tidak ada lagi waktu untuk disia-siakan sebab jutaan orang meninggal akibat Covid-19 dan kegagalan negara kaya untuk membantu mereka. [dmr]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *