Scroll untuk baca artikel
Blog

Kepergian Daniel Dhakidae di Mata Seorang Kawan

Redaksi
×

Kepergian Daniel Dhakidae di Mata Seorang Kawan

Sebarkan artikel ini

BARISAN.COKabar duka kembali menyelimuti Indonesia, salah satu tokoh cendekiawan Tanah Air, Daniel Dhakidae meninggal dunia pada Selasa (6/4) pada pukul 07.24 WIB. Ia dikabarkan mengalami serangan jantung pada Selasa dini hari sekitar pukul 03.00 WIB hingga kemudian dilarikan ke Rumah Sakit MMC Kuningan, Jakarta.

“Kepergian Daniel Dhakidae merupakan kehilangan kami di LP3ES dan Prisma karena DD, begitu ia dipanggil di LP3ES, hampir seluruh hidupnya “diwakafkan” ke LP3ES dan Prisma.” Kata peneliti senior Didik J Rachbini dalam keterangannya, Selasa (6/4).

Didik mengingat Daniel sebagai individu sangat toleran. Didik juga menyebutnya sebagai intelektual egaliter. “Bahkan dia minta di antara teman-temannya tidak memanggil Bapak karena keseharian dengan panggilan Bapak merefleksikan hirarkhi dan itu dekat dengan feodalisme.” Kata Didik.

Kaena itu, kata Didik, Daniel sangat membenci feodalisme gaya Orde Baru sehingga dia menjadi intelektual yang keras terhadap pemerintahan Soeharto. Tidak hanya itu, dalam diskusi keseharian dia kritis terhadap pemerintahan apa pun dan berdiri sebagai intelektual yang menjaga jarak bahkan sangat jauh dengan kekuasaan. 

“Daniel bersama saya, Wijayanto, Nasir Tamara, sudah sejak tahun lalu menengarai kok demokrasi dan kekuasaan sekarang tidak berjalan lurus, tapi justru ‘turning around’. Istilah yang dipakai dalam diskusi kecil di ruang rapat Prisma. Intinya saya ingin membedakan Daniel dengan bintang-bintang intelektual yang ada dan bergembira ria di sekitar dan di dalam kekuasaan.” Kata Didik J Rachbini.

Mengasuh Prisma, Media Kritis Sejak Orba

Daniel Dhakidae memang tidak bisa dilepaskan dari Prisma. Setelah pensiun dari Prisma dia kembali lagi memimpin Prisma sehingga meski berbeda dari zaman keemasannya. Di tangannya, Prisma bisa tetap terbit selama setengah abad meskipun dengan banyak keterbatasan.

Prisma, LP3ES, adalah legenda intelektualisme pada jamannya. Mengapa? Karena seluruh pemikir terbaik di negeri ini menulis di majalah ini Mulai dari Sumitro Djojohadikusumo, Emil Salim, Subroto, Taufik Abdullah, Frans Magnis, Dorodjatun Kuntjorojakti, Yuwono Sudarsono, dan lain-lain.

Arsip Prisma dari tahun 1971 sampai 2021 lebih dari layak untuk menjadi bahan disertai arus sejarah pemikir dan pemikiran Indonesia selama setengah abad dalam bidang sosial politik. 

“Jadi Daniel menjadi besar sebagai intelektual karena bergumul dengan arus pemikiran besar tersebut di Prisma. Pergumulan intelektual Daniel tidak lain adalah pergumulan intelektual Prisma LP3ES di mana dia menjadi motor dari kehebatan Prisma pada waktu itu.” Ujar Didik Rachbini.